Senin, 31 Desember 2018



Kami bermeditasi pada Ganesha yang adalah perwujudan suara kosmis OM. OMKARA dalam wujud yang sebenarnya.
          Pada Bab XIII Sri Ganesha Puranam, Trimurti yang maha suci - Brahma, Visnu dan Siva, memuji kejayaan Ganesa dalam stotram berikut:

1.    AJAM NIRVIKALPAM NIRAKARAMEKAM NIRANANDAM ADVAITAM ANANDAPURNANAM
PAKAM NIRGUNAM NIRVISESAM NIRIHAM
PARABRAHMA RUPAM GANESAM BHAJEMA
Penghormatan pada Ganesa yang tak terlahirkan yang  dan mati, yang tak berwujud, Satu tanpa ada yang kedua.Perlambangan berkah,yang tertinggi diantara yang tertinggi,melampaui maya dan tiga sifat guna,abadi dan selalu damai.Pada  Ganesa yang suci,kami memujamu.

2.    GUNATITAM ADYAM CIDANANDA RUPAM
CIDABHASAKAM SARVAGAM JNANAGAMYAM
MUNIDHYEYAM AKASARUPAM RESAM
PARABRAHMA RUPAM GANESAM BHAJEMA
Kami memuja Ganesa yang melampaui tri guna,Makhluk Suci,yang wujudnya adalah kesadaran murni ,yang bersinar dengan pikiran yang suci,yang menyerpa dan disadari melalui pengetahuan suci.Para Rsi bermeditasi pada-Nya sebagai langit yang luas.pada Ganesa,dewa yang transcendental,kami memberikan hormat.

3.    JAGAT KARANAM KARANAJNANA RUPAM
SURADIM SUKHADIM YUGADIM GANESAM
JAGADVYAPANAM VISVA VANDYAM SURESAM
PARABRAHMA RUPAM GANESAM BHAJEMA
Kami memberikan salam hormat pada Ganesa, yang adalah pencipta,penjaga dan penghancur jagat-raya.  Ia adalah penyebab dari semua penyebab Ia adalaha sumber dari  kebahagiaan dan pencipta semua bidadari,zaman,yuga.Ia adalah penguasa para gana,makhluk hidup;Ia adalah prinsip yang menyerap dalam segalanya, dipuja dan dipuji oleh semua,Dewa yang suci.pada Dewa yang transcendental kami memberikan penghormatan.

4.    RAJO YOGATO BRAHMA RUPAM SRUTIJNAM
SADA KARYASAKTAM HRDACINTYA RUPAM
JAGATKARAKAM SARVA VIDYA NIDHANAM
PARABRAHMA RUPAM GANESAM NATASMAH
Dengan memiliki raja guna-kemampuan mencipta-Ia mengambil wujud sebagai Brahma; Ia adalah penguasa Weda. Dengan mengambil wujud Visnu,Ia melindungi dunia.  Ia tidak mampu dipikirkan dan sumber dari segala kebijaksanaan; Ia adalah Siva. Pada Ganesa yang transendental, kami memberikan hormat.


5.    SADA SATTVAYOGAM MUDA KRIDAMANAM
SURARIN HARANTAM JAGATPALAYANTAM
ANEKAVATARM NIJAJNANAHARAM
SADA VISNU RUPAM GANESAM NAMAMAHA
Penghormatan pada Ganesa yang memiliki sifat yang tenang yang disebut dengan sattva guna dan wujud Visnu. Menghancurkan para raksasa, Dewa Visnu menegakkan dharma untuk melindungi jagat-raya. Demi tujuan ini ia mengambil wujud sebagai avatara atau inkarnasi yang berbeda dan menghilangkan menyingkap tabir kebodohan dari para pemujanya. Pada Ganesa yang adalah Visnu, kami memberikan penghormatan kami.

6.    TAMO YOGINAM RUDRA RUPAM TRINETRAM
JAGADDHARAKAM TARAKAM JNANA HETUM
ANEKAGAMAISVAM JANAM BODHAYANTAM
SADA SIVA RUPAM GANESHAM NAMAMAHA
Kami memuja Ganesa yang memiliki tamo guna dan bernama Rudra (Siva) untuk menghancurkan kebodohan jiwa-jiwa yang ada. Oleh karna itu dewa dengan tiga mata ini adalah saksi kesadaran yang memberikan pengetahuan mulia yang akan membawa jiwa-jiwa ke seberang lautan kelahiran kembali. Pada Ganesa, yang adalah Siva sendiri, kami memberikan penghormatan.

7.    TAMASTHOMAHARAM JANAJNANAHARAM
TRAYI VEDASARAM PARABRAHMAM PARAM
MUNIJNANAKARAM VIDURE VIKARAM
SADDA BRAHMA RUPAM GANESAM NAMAMAHA
Penghormatan pada Ganesa yang adalah Brahman dan penghancur kebodohan para pemujanya. Ia adalah makna dari semua kebijkasanaan Weda. Ia memperlihatkan Keberanian pada orang suci dan para rsi yang memuja-Nya. Pada Ganesa, Brahman yang murni kami memberikan penghormatan

8.    NIJAIROSADHI TARPAYANTAM KARAUGHAIH
SUROUGHAN KALABHIHI SUDHASRAVINIBHIHI
DINESAMSI SANTAPAHARAM DVIJESAM
SASANKA SVARUPAM GANESAM NAMAMAH
Penghormatan pada Ganesa, yang mengambil wujud bulan dan menjaga seluruh tumbuhan. Melalui sinarnya yang memberi kehidupan , Ia memberikan kebahagiaan bagi para penghuni surga dengan memeberikan sinar matahari. Pada Ganesa, raja dari kerajaan tumbuhan, kami memberikan penghormatan

9.    PRAKASA SVARUPAM NABHO-VAYA RUPAM
VIKARADI HETUM KALAKALA BHUTAM
ANEKA KRIYANEKA SAKTI-SVARUPAM
SADA SAKTI RUPAM GANESAM NAMAMAH
Penghormatan pada Ganesa yang adalah prinsip penerangan.Ia adalah langit,angin dan sumber penciptaan untuk menjalankan tugas yang berbeda, ia mengambil wujud yang berbeda dan melakukan tugasnya dengan sempurna .lalah yang kami puja

10. PRADHANA  SVARUPAM MAHATATTVA RUPAM
DHARAVARI RUPAM DIGISADI RUPAM
ASAT SATSVARUPAM JAGAD HETUBHUTAM
SADA VISVA-RUPAM GANESAM NATAHASMAH
Penghormatan pada Ganesa yang adalah energi penciptaan,kecerdasan kosmis,bumi,air dan juga dewa pelindung.Ia nampak sebagai zat dan energi yang tetap da di jagat-raya. Pada Ganesa dalam wujud kosmisnya kami memberikan hormat.

11. TVADIYE MANAHA STHAPAYED ANGHRIYUGME
JANO VIGHNA SANGHANNA PIDAM LABHET
LASAT SURYABIMBE VISALE STHITOYAM
JANO DHVANTA BADHAM KATHAM VA LABHET
Wahai Ganesa, orang-orang harus selalu ingat untuk selalu bersujud di kaki padmamu. Maka mereka tidak akan pernah menemui halangan. Bagaimana mungkin ada kesedihan jika mentari masih bersinar? Bagaimana cara masalah menghalangi mereka yang memujamu?

12. VAYAM BHRAMITAS SARVATHA JNANA-YOGAT
ALABDHASTAVANGHRIM BAHUN VARSA PUGAN
EDANIMAVAPTAH TAVAIVA PRASADAT
PRAPANNAN SADA PAHI VISVAMBHARADYA
Ditenggelamkan oleh kebodohan, tanpa melihat kaki padmamu sekian lama, kami berduka. Karena berkahmu kami mendapatkan darsanmu dan merasa diberkahi! Wahai Ganesa, penyangga jagat-raya, berkahilah kami, lindungilah kami dan lindungilah semua orang. Salam hormat kami.

Ganesa sangat berkenan dengan doa ini dan menyebut orang-orang yang berdosa ini sebagai STHAVA-RAJA yang berarti Raja semua pendoa. Ia juga memberkahi nyanyian suci ini dan berkata “siapapun yang menyanyikan lagu ini setiap hari pada pagi hari,pada siang hari dan pada malam hari, Aku akan memberkahinya dengan harta melimpah, keluarga yang baik, anak-anak yang baik dan kebahagiaan disini dan di alam sana. Jiwanya akan mencapai Kerajaan abadiku di surga“.

SHRI ANANTADAMAR GANACHAKRA

Shri Anantadamar Ganachakra





Shivambu Kalpa (Terapi urine) terdapat dalam Kitab Sri Damar Tantra di India sekitar 5000 tahun yang lalu. Kitab ini memuat 107 sloka (ayat) tentang percakapan rahasia antara Dewa Siwa dan Shaktinya Dewi Parvati mengenai rahasia awet muda dan kesehatan. Urine itu mengandung berbagai senyawa berharga, seperti mineral, vitamin, hormon, enzim, antibodi, antialergen, antigen, asam amino, serta bahan nutrien lain yang berguna bagi tubuh. Bahan-bahan senyawa yang ditemukan di dalam urine ini bersifat murni, bio-aktif dan mempunyai kemampuan menyembuhkan sendiri ( bio-self healing power).
Selain itu urine mempunyai sifat-sifat tertentu, yang tidak dimiliki oleh obat paten, yaitu :
1.       Elemen germanium
Dalam urine terdapat ratusan senyawa bahan obat dan selama bahan-bahan obat tersebut masih dalam bentuk kesatuan urine, maka bahan-bahan obat tersebut tidak akan menimbulkan keracunan.
2.       Adaptogen
Urine yang diminum dapat berfungsi sebagai stabilisator kondisi darah.
3.       Q-tonik
Setelah minum urine secara rutin dalam beberapa hari atau beberapa minggu, akan terjadi efek, di mana  badan terasa panas
dan kuat.
4.       Meningkatkan sistem ketahanan tubuh
Terapi urine ini mempunyai khasiat melancarkan peredaran darah, penenang, dan dapat menghilangkan panas dalam, mata merah, bengkak, luka terpukul, berfungsi sebagai pengurang rasa sakit (analgesik), menetralkan racun-racun, menjaga keseimbangan organ-organ dalam tubuh, mengaktifkan sel-sel yang sudah lemas, sehingga dapat meningkatkan daya penyembuhan dan stamina tubuh.
5.       Efek-efek yang lain Shivambu adalah sebagai berikut :
·       Kulit bersih berkilat, air muka jernih
·       Rambut bertambah hitam dan subur
·       Bercak-bercak kulit hilang
·       Buang air besar/kecil lancar
·       Lincah dan gesit, cepat pulih dari keletihan
·       Tidur nyenyak, pandangan mata lebih terang
·       Berat badan stabil, pikiran (otak) lebih terang
·       Menghambat proses penuaan
·       Semangat tinggi, daya tahan dan stamina meningkat
Saat memulai terapi urine selama beberapa hari atau beberapa minggu, akan terjadi proses atau reaksi penyembuhan, pengeluaran  racun dan toksin yang dikenal sebagai reaksi kotan hanno. Gejalanya adalah : mencret, lelah, nyeri otot, dan ngilu sendi, demam, pening, perut kembung, melilit, dan lain-lain. Gejala ini merupakan tanda bahwa tubuh sedang mencuci dan mengeluarkan sisa-sisa bahan kimia, racun, toksin, dan lain-lain. Itu tanda penyakitnya membaik dan akan sembuh. Reaksi ini akan hilang sendiri dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Bila ada reaksi berlebihan, minum urine dapat dihentikan dulu 2-4 hari sampai reaksi kotan hanno ini menghilang.
Berikut adalah tahapan metode Shivambu :
1.       Siapkan mangkuk dari tanah atau keramik untuk penampungan urine
2.       Sebelum memulai prosesi ini puja Dewa Ganesa dengan mulamantra :  
Aum Namo Bhagabatae Gajaanaanaya namaha
Aum Sri Mahaganapati ya namah
3.       Pada saat mengeluarkan urine/kencing, buanglah urine yang keluar paling awal, tampung bagian tengahnya, dan buang urine yang keluar paling akhir. Jadi yang dipakai adalah bagian tengah saja. Ini bisa diibaratkan seperti ular, dimana kepala ular (awal kencing) dan ekor ular (akhir kencing) adalah bisa/racun yang berbahaya. Pada saat menampung urine
ucapkan mantra :
Aum Sarvam Shristi Prabava Rudra ya Namah
4.       Angkat Urine yang sudah ditampung setinggi kepala ucapkan mantra :
Aum Hrim Klim Bhairava ya Namah
5.       Pada saat minum/cuci muka/cuci mata dengan urine ucapkan mantra :
Aum Shrim Klim Udda Maheswara ya Namah
6.       Tutup prosesi ini dengan ucapan Terimakasih Tuhan Aum Asthungkara ya Namah

Sabtu, 29 Desember 2018

RAASTRA SUKTA


JUBAH SUCI BRAHMANA / SPIRITUAL
RAASTRA SUKTA



Jubah / pakaian kebesaran / santog / syal / kemben adalah merupakan pakaian pelindung dan kesucian spiritual bagi seorang Brahmana atau Spiritualis. Bentuk dan pemakaian Jubah berbeda beda dalam tiap daerah dan biasanya mengikuti adat/budaya setempat. Jubah ini dikenakan dengan 8 Sloka Atharva Veda Mandala III Raastra Sukta sebagai berikut:

Sloka-1
yana devam savitaaram pari devaa adhaarayan,
tenemam brahmanaspate pari raastraaya dhattana
wahai Brahmanaspati, kenakanlah jubah yang telah dianugerahkan para makhluk suci bagi Savita pada kami (orang ini), agar kami memperoleh kemuliaan hidup

Sloka-2
parimamindramaayuse mahe ksatraaya dhattana,
yathainam jarase nayaam jyok ksatredhi jaagarat
kenakanlah jubah suci bagi kami, sebagaimana yang dilakukan oleh Indra, agar kami memperoleh usia panjang serta kekayaan, semoga jubah ini membimbing hidup kami hingga usia lanjut, semoga kami dapat menikmati harta kekayaan tersebut hingga waktu yang sangat lama

Sloka-3
pariimam somamaayuse mahe srotraaya dhattana,
yathainam jarase nayaam jyok srotredhi jaagarat
kenakanlah jubah suci bagi kami, sebagaimana yang dilakukan oleh Soma, agar kami memperoleh usia panjang serta petunjuk/sabda suci, semoga jubah ini membimbing hidup kami hingga usia lanjut, semoga kami dapat mematuhi sabda-sabda suci tersebut hingga waktu yang sangat lama

Sloka-4
pari dhatta dhatta no varcasemam jaraamrtyum krnuta diirghamaayuh,
brhaspatih praayacchad vaasa etat somaaya rajnne paridhaatavaa u
kenakanlah jubah suci ini bagi kami, curahkanlah kejayaan, anugerahkanlah umur panjang, Brihaspati telah menyempurnakan jubah suci ini sebgaimana dikenakan oleh Raja Soma.

Sloka-5
jaraam su gaccha pari dhatsva vaaso bhavaa grstiinaamabhisastipaa u,
satam ca jiiva saradah puruucii raayasca posamupasamvyayasva
tapakilah jalan menuju usia panjang dengan damai, kenakanlah jubah suci ini, jadilah pelindng bagi umat manusia dalam melawan kata-kata jahat, hiduplah hingga seratus musim gugur lagi, semoga kami dilingkupi oleh kekayaan yang melimpah

Sloka-6
pariidam vaaso adhithaah svastaye’bhurvaapiinaamabhisastapaa u,
satam ca jiiva saradah puruuciirvasuuni caarurvi bhajaasi jiivan
kami telah mengenakan jubah suci ini agar hidup kami sejahtera, engkau telah menjadi pelindung bagi sahabat-sahabat kami dalam melawan kata-kata jahat, semoga kami hidup hingga seratus musim gugur lagi, hidup dengan penuh kebahagiaan dan memperoleh sesuatu yang baik.

Sloka-7
yogeyoge tavastaram vaajavaaje havaamahe, sakhaaya indramuutaye
kita semua sesama sahabat memanjatkan doa kepada Indra, Tuhan Maha Cemerlang, dalam setiap kegiatan serta perjuangan hidup

Sloka-8
hiranyavarno ajarah suviiro jaraamrtyuh prajayaa sam visasva,
tadagniraaha tadu soma aaha brhaspatih savitaa tadindrah
semoga kami memiliki tubuh keemasan dan selalu awet muda, semoga dianugerahi banyak pahlawan dan umur panjang, bersahabatlah dengan kami, semoga memiliki banyak keturunan, demikian disabdakan oleh Agni, Soma, Brhaspati, Savita serta Indra.

Shri Anantadamar Ganachakra

Jumat, 28 Desember 2018

MEDITASI DAN PENGENDALIAN PIKIRAN


(Bagian Kelima dari Enam Tulisan)


Oleh: Agni Premadas[1]

Untuk membangun dan menumbuhkan konsentrasi selama bermeditasi, kamu harus mengurangi keinginan-keinginan dan mengesampingkannya. Lihatlah segala sesuatu sebagai saksi yang melihat tanpa menaruh kepentingan apapun dan jangan tercebur dan terikat. Bila ikatan anggota tubuhmu telah dilepaskan, kamu akan merasakan bahagia dan cerah (Svami Sathya Narayana).


Terdapat hubungan yang erat antara meditasi dengan pengendalian pikiran. Swami Vivekananda menyatakan bahwa dengan bermeditasi kita dilatih memusatkan pikiran pada obyek tertentu. Bila pikiran mendapatkan konsentrasi atas satu obyek, maka ia dapat pula dikonsentrasikan terhadap setiap obyek lainnya.
Sementara, dalam buku Dhyana Vahini dijelaskan bahwa bila pikiran yang bertingkah dan lari ke segala arah dipusatkan dalam perenungan Nama Tuhan (namasmaranam) akibatnya akan seperti pemusatan sinar matahari melalui sekeping kaca pembesar, cahaya yang bercerai berai terpusat menimbulkan api yang dapat membakar dan memusnahkan. Demikian pula bila gelombang-gelombang pikiran, budi dan berbagai perasaan manas terpusat melalui kaca pembesar atman, mereka akan mewujudkan diri sebagai cahaya keilmuan Ilahi yang dapat membakar habis kejahatan dan memberi terang sukacita.
Setiap orang dapat mencapai sukses dalam jabatan atau pekerjaannya hanya dengan konsentrasi dan pemusatan perhatian dalam usaha. Bahkan penyelesaian tugas yang paling remeh pun membutuhkan kualitas konsentrasi. Thompson mengatakan bahwa,”pengalaman yang paling lama terkesan dalam kesadaran adalah pengalaman yang disertai perhatian dan konsentrasi penuh”. Seorang penulis lainnya mengatakan,”perhatian dan konsentrasi juga sangat diperlukan bagi pengertian, karena tanpa adanya itu, maka ide dan informasi yang masuk pikiran/ batin tidak meninggalkan bekas. Selain itu, ingatan berhubungan erat dengan perhatian, orang yang kurang perhatian selalu mempunyai ingatan yang lemah. Dr. Beatttie seperti dikutip Ramacharaka juga mengatakan bahwa untuk mendapatkan hasil terbaik, seseorang harus melakukan pekerjaan dengan penuh konsentrasi pada tugas yang dihadapinya tanpa membiarkan pikiran atau ide lain mengganggu dirinya.
Pemusatan perhatian dan konsentrasi merupakan hal yang mutlak dalam melakukan meditasi. Oleh Bannerman dikatakan bahwa Maharsi Mahesh Yogi akhirnya menemukan sebuah metode yang sederhana yang dikenal dengan nama Trancendental Meditation (TM). Metodenya: orang duduk dengan posisi enak, dengan mata tertutup dan perhatian dipusatkan ke dalam diri mengontrol lingkungan internal. Selanjutnya dicantingkan mantra sekitar 20 menit. Melalui metode ini seseorang akan dapat berkonsentrasi dan berkomunikasi ke dalam untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Meditasi Tao kurang lebih juga memberikan penekanan yang serupa. Metode ini seperti dilukiskan oleh Rouselle  memusatkan perhatian pada pusat tubuh di sekitar pusar (umbilikus). Setiap pikiran yang muncul harus “diletakkan” dalam pusat tubuh ini. Keadaan ini dikenal dengan sebutan kesadaran dengan imajinasi telah dialihkan ke solar plexus. Prosedur ini khususnya membantu meningkatkan vitalitas dan kekuatan yang berasal dari perut.
Wienpahl memberikan gambaran untuk melatih konsentrasi pada pernafasan sebagaimana dilakukan pada latihan Zen di Jepang. Bernafas melalui hidung dengan menarik nafas sebanyak yang dibutuhkan dan membiarkan udara masuk dengan mengembangkan diafragma. Jangan diperintahkan masuk tetapi biarkanlah datang sendiri. Selanjutnya keluarkan nafas pelan-pelan, secara komplit dan menyeluruh. Pada saat mengeluarkan nafas disertai menghitung ‘satu’. Kemudian tariklah nafas lagi dengan cara yang sama, saat menghembuskan nafas dengan pelan kembali menghitung ‘dua’. Begitu seterusnya hingga ke hitungan ke sepuluh. Mungkin kita akan mendapatkan kesukaran dalam menghitung, karena pikiran selalu ingin mengembara. Bila itu terjadi, berusahalah membawa kembali pikiran pada proses menghitung. Setelah sukses dengan latihan ini, dapat dilanjutkan dengan latihan berikut. Pada saat mengeluarkan nafas dan menghitung ‘satu’, bayangkan ‘satu’ di perut. Lakukan pula untuk ‘dua’ dan letakkan di sebelah ‘satu’ dan seterusnya hingga hitungan kesepuluh. Selanjutnya akan terasa bahwa pikiran itu sendiri telah turut terbawa turun ke perut.
Latihan konsentrasi melalui meditasi juga dapat dilakukan dengan metode yang  dikembangkan oleh Swami Vivekananda. Pertama-tama, praktek meditasi haruslah melalui satu obyek tertentu sebagai umpan pikiran. Satu waktu pusatkan pikiran misalnya pada satu titik hitam. Akhirnya, secara bertahap titik itu tidak terlihat  lagi dan kita tidak menyadari bahwa titik itu ada di hadapan kita. Pikiran tidak ada lagi, tidak timbul gelombang kerja, segala-galanya merupakan “samudra” tanpa batas. Apabila kita sudah bisa sampai pada keadaan ini, pikiran sudah memasuki tingkat kebenaran diluar batas perasaan. Dengan begitu, praktek meditasi sekalipun dengan suatu obyek lahir yang tidak berarti, akan mengarah pada kosentrasi batin.
   Konsentrasi (avadhana) diperlukan untuk memahami setiap hal dengan baik. Mengarahkan dan menetapkan perhatian kesuatu hal disebut ekagatha. Ini juga merupakan suatu keadaan pikiran. Caranya, seperti dijelaskan oleh Svami Sathya Narayana, adalah dengan melakukan konsentrasi terhadap realitas diri kita setiap hari dalam meditasi. Ikuti secara teguh setiap hari, waktu, tempat dan posisi, semuanya tak berubah. Kemudian faktor-faktor pengganggu dengan mudah ditaklukkan dan dijinakkan. Dikatakan : pertama-tama kerinduan, kemudian menetapkan tujuan, setelah itu konsentrasi dan melalui disiplin, tercapailah penaklukan pikiran.
Dengan meditasi, pikiran disamping bisa konsentrasi, sesungguhnya juga bisa berada dalam keadaan tenang, bahkan benar-benar tenang. Seperti sehelai daun yang diam tidak bergerak selama tak ada hembusan angin badai rangsangan indera. Jika kita tidak menurutinya, karena mengetahui hakekat pengaruh-pengaruh itu dan tidak mau ambil peduli lagi, maka pikiran tidak akan bergoyang. Ven. Ajahn Chah menegaskan mengenai hal ini dalam bukunya Meditasi: Jalan Menuju Kebebasan. Dikatakan bahwa pikiran yang hakekatnya begitu suci dan tenang, karena tidak terlatih menjadi begitu bodoh, hingga rangsangan indera datang menerpa dan menjeratnya dalam maya, seperti: suka dan duka.
Semua pengaruh indera itu sebetulnya bukan pikiran. Itu hanya suasana hati yang datang memperdaya pikiran yang tidak terlatih dan menghanyutkannya. Itulah sebabnya, mengapa Sang Buddha Gautama senantiasa mengarahkan pengikutnya untuk lebih mengenal, mengamati dan mengendalikan pikiran.




[1] Ketua Litbang Veda Poshana Ashram dan Dosen Universitas Warmadewa Denpasar

Rabu, 26 Desember 2018

Maha Shanti Puja Ke-10


DOA KEDAMAIAN KE-10

Maha Shanti Puja/ Doa Kedamaian diadakan 23 Desember 2018 serangkaian Peringatan HUT ke-23 Veda Poshana Ashram, yang jatuh pada 23 Oktober 2018 lalu.
Kegiatan ini diselenggarakan di Pelataran Pura Besakih oleh Pengurus Pusat Veda Poshana Ashram didukung beberapa Pengurus Cabangnya di beberapa provinsi yaitu Bali, Lombok, Lampung, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. 
Bentuk kegiatan adalah doa bersama akhir tahun 2018 dengan Homa Yajna/ Agnihotra 9 kunda untuk keharmonisan dan kedamaian semesta.
Sebelum kegiatan Maha Shanti Puja pada pagi hingga siang harinya dilaksanakan 
Sabha Pandita Veda Poshana Ashram membahas tentang Aguron-guron.
Dilanjutkan dengan penampilan Yoga Suryanamaskar yang dibawakan oleh 25 praktisi Pasraman Bali Eling Spirit.

Hadir dan memberikan sambutan pada saat itu Direktur Kependidikan Ditjen Bimas Hindu Drs. IB Sudana, Presiden of World Hindu Parisad Made Mangku Pastika, Pengurus
PHDI Pusat Dr. Ketut Arnaya, SE, MM

Maha Shanti Puja seperti yang disampaikan Ketua Panitia Ida Pandita Agni Acarya Suvirapremananda merupakan agenda tetap tahunan untuk doa kedamaian bagi alam semesta melalui  Agnihotra/ Homa Yajna.

Setelah Agnihotra dilanjutkan dengan Homa Rudram untuk keutuhan NKRI, keberhasilan pelaksanaan Pilpres dan Pileg tahun depan.

Ketum Veda Poshana Ashram, Ida Nabe Bhagawan Agni Yogananda dalam sambutannya mengisyaratkan pentingnya ungkapan rasa bakti melalui nyanyian dan doa karena manusia adalah makhluk bernyanyi dan berdoa. Diharapkan kegiatan Maha Shanti Puja inj bisa berkelanjutan.

"Agnihotra adalah Upacara Veda/ Vedic Ritual bukan milik kelompok tertentu.
Agnihotra adalah puncak dari kegiatan segala upacara" terang Dr. Ketut Arnaya, SE M.Si yang mewakili Ketua Harian PHDI Pusat.
Agnihotra menurutnya sangat ilmiah. Dicontohkan waktu peristiwa gas beracun Bhopal di India ada satu keluarga yang selamat karena rutin melakukan agnihotra.
Agnihotra berpengaruh kepada tubuh manusia dan lingkungan dengan pancaran energi positifnya hingga 12 km. 

President of World Hindu Parisad, Made Mangku Pastika menyampaikan
setiap orang menginginkan kedamaian, baik kedamaian diri-sendiri, orang lain bahkan dunia.
Amarah, Iri, Dendam dan Serakah (AIDS) harus ditaklukkan dengan praktik meditasi, yoga, atau gita.

Upacara Agnihotra mesti dilakukan dengan ketulusan hati sesuai ajaran dharma.
Api menurutnya menjadi media utama menyerap kalori dengan mantra agar masuk ke tubuh.
Upacara paling luhur dari semua yajna adalah agnihotra.
Bahkan upacara agnihotra yang dilakukan oleh beberapa hotri dan pandita Veda Poshana Ashram telah ikut memberikan andil bagi kesembuhannya beberapa waktu lalu.

Sementara Direktur Kependidikan Ditjen Hindu
Drs. IB Sudana M.Si sangat mengapresiasi kegiatan ini.
Dalam Sarascamuscaya dikatakan hidup di dunia sebagai makhluk yang utama karena punya bayu sabda idep.
Posisi manusia adalah sentral, yang di dalam dirinya ada kedamaian untuk hidup bahagia.
Hal ini bisa sebagai potensi spiritualitas untuk menjadikan diri suci dengan landasan konsep Tri Kaya Parisudha
Agnihotra bisa memberikab vibrasi yang luar biasa bila dilandasi kesucian yang memberikan keharmonisan dengan sesama maupun dengan lingkungan.







Memaknai Dharma Dengan Menghadapi Tantangan Hidup Berbangsa


Oleh: Agni Premadas[1]

Dharma disamping sebagai hukum keadilan dan keselarasan yang bersatu padu dalam struktur alam semesta, juga berarti stabilitas dan ketertiban masyarakat serta  kesejahteraan umat manusia. Dengan begitu pemaknaan dharma tidak hanya berhenti pada tataran ritual, tetapi mesti juga diarahkan ke dimensi spiritual agar bisa menghadapi tantangan hidup bangsa yang penuh dengan kemerosotan moral ini.

Idealnya dharma akan menuntun suatu kehidupan yang adil dan harmonis dalam semua hubungan dengan yang lainnya, pada berbagai tingkatan, baik di rumah maupun dalam masyarakat atau bangsa. Kemajuan spiritual akan terjadi karena melaksanakan dharma berarti mengendalikan segala pikiran, perkataan dan perbuatan yang berlawanan dengan hukum keadilan dan keselarasan dari Hyang Widhi.

© Persoalan Hidup Bangsa
Berbagai fenomena menunjukkan betapa dharma masih belum bisa ditegakkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat sekarang ini. Di bidang ekonomi, eksternalitas global sudah menggerus demikian kerasnya. Hal ini tampak dari penerapan sistem ekonomi kapitalis liberal/ neoliberal dengan ketergantungan pada bantuan asing. Kegiatan industri pariwisata telah menyebabkan terjadinya materialisme, individualisme, komersialisme, komodifikasi, dan gejala profanisasi dalam kehidupan. Kondisi ini telah menyebabkan pergeseran nilai budaya dan pemiskinan serta peningkatan beban hidup yang juga akan dialami oleh umat Hindu. Oleh karena itu perlu reorientasi penerapan ajaran agama khususnya berbagai tradisi yang tidak relevan dan tidak sesuai dengan Veda.
Kondisi keamanan juga masih rawan dengan berbagai aksi kekerasan apalagi dengan penerapan sistem pemilihan umum langsung. Dalam bidang politik dan hukum, arus demokratisasi terlihat semakin deras seiring dengan terbuka lebarnya “kran” liberalisasi politik. Namun, institusi formal hukum sebagai “benteng terakhir” sangat tidak berdaya dan masih sulit ditegakkan di negara kita. Upaya pemberantasan korupsi masih belum optimal walaupun KPK sudah bekerja keras karena kasus korupsi memang bagai fenomena puncak gunung es yang baru kelihatan ujungnya saja dari kondisi riil yang belum seluruhnya tampak ke permukaan.
Dalam bidang pemerintahan, otonomi daerah yang idealnya mampu meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi rakyat, ternyata hanya dimanfaatkan untuk keuntungan finansial dan politik segelintir elite lokal. Di bidang kebudayaan kita melihat berbagai perilaku politik para pejabat dan elite masih dominan dipengaruhi oleh sistem kekeluargaan yang bersifat extended family, dan budaya patrimonial yang di samping bersifat “adiluhung”, ternyata juga masih sangat permisif bagi pertumbuhan partikularisme.
Sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, umat se-Dharma tentunya juga menghadapi persoalan tersebut. Bagi umat Hindu persoalannya adalah bagaimana menghubungkan dirinya sendiri dengan persoalan hidup bangsa itu, yaitu dengan berupaya mengatasi berbagai persoalan  tersebut dengan berlandaskan dharma.

© Pemaknaan Dharma
Sejauh mana umat Hindu dapat menghadapi tantangan-tantangan besar tersebut dan selanjutnya dapat berperan dalam pembangunan bangsa, adalah tergantung pada pemaknaan dan revitalisasi dharma dalam kehidupan. Dharma semestinya tetap diikuti untuk mencapai tujuan hidup sebagaimana ditunjukkan oleh orang bijaksana (Atharvaveda VII.97.7). Umat yang menempuh jalan dharma akan diberkahi dengan kemakmuran dan juga dilimpahi dengan keturunan (generasi) yang berbudi luhur (Rgveda X.63.13). Kemenangan dan kebahagiaan sejati dalam hidup adalah hasil dari pelaksanaan dharma. Kemenangan demikian bukan berasal dari kenikmatan yang berasal dari kesenangan sementara. Kerja keras yang dilakukan untuk menegakkan dharma akan menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan tertinggi. Rahasia kebahagiaan bukanlah dalam melakukan apa yang disukai, tapi dalam menyukai apa yang harus dilakukan.
Dharma dalam pendidikan semestinya dimaknai tidak semata-mata memperoleh keterampilan dan keahlian sebagaimana mainstream pemikiran rasionalisme Barat yang lebih mengarah pada material tendency forces (preyoshakti). Tetapi juga mampu melahirkan generasi muda Hindu yang cerdas dan bijaksana yang sesuai dengan spiritual tendency forces (sreyoshakti). Untuk itu sistem pendidikan yang dikembangkan semestinya menyelaraskan antara penekanan logika, dan rasionalitas dengan intuisi dan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kasih sayang, kesabaran, dan kejujuran, yang akan membangun kesadaran manusianya. Generasi seperti ini akan bisa terhindar dan menghindarkan diri dari penyakit partikularisme yang masih menggerogoti bangsa ini hingga kini.
Dharma dalam penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik dilakukan dengan penerapan prinsip etika dan moralitas. Untuk menjadi pemimpin pemerintahan yang baik adalah  dengan memiliki karakter nasional yang membawahi karakter individu (pribadi). Dengan melepaskan kepentingan pribadi, melepaskan secara total pikiran kepemilikan “punyaku” dan “punyamu”, pemimpin sejati yang berlandaskan dharma senantiasa mempersembahkan segala kemampuannya bagi kesejahteraan bersama dan mengangkat reputasi negaranya.
Dalam kehidupan politik yang berlandaskan dharma pantang untuk menggunakan cara-cara kekerasan (ahimsa). Penyelesaian masalah dengan kekerasan justru akan mengundang kekerasan baru. Kekerasan bukannya menyadarkan lawan politik tetapi justru menyuburkan kebencian dan rasa dendam. Sebaliknya, dengan paham pantang kekerasan, setiap orang dapat mengembangkan cinta kasih dan kemampuannya sehingga dapat mengaktualisasikan diri sebagai makhluk sosial yang menghargai heterogenitas,  inklusivitas, pertukaran mutual, toleransi dan kebersamaan.
Akhirnya, dharma semestinya mampu menjamin tegaknya moralitas, berkembangnya kepercayaan dan kejujuran, rasa tanggung jawab dan karakter, kesadaran nasional dan patriotisme, rasa tanggung jawab sosial, bekerja keras, taat pada hukum, menghormati semua agama, dan rasa tak terpisahkan dengan Hyang Widhi. Pemaknaan kemenangan dharma dari adharma tidak hanya berhenti sampai pelaksanaan ritual tetapi juga diarahkan pada spiritualitas. Jangan sampai sebagai bagian dari bangsa ini, umat Hindu yang agamis, dengan ibadah dan upacara agama yang semarak setiap hari, tetapi  pada saat yang sama juga semakin merosot dalam kehidupan ekonomi, ikut melakukan hal tercela, seperti korupsi sehingga menjadikan negara ini selalu menduduki peringkat atas negara-negara terkorup yang dibuat oleh lembaga-lembaga penilai internasional. 

[1] Ketua Litbang Veda Poshana Ashram, Ketua Yayasan Dvipantara Samskrtam  dan Dosen   Universitas Warmadewa Denpasar

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok