Kamis, 18 April 2019

Pembagian Waktu Menurut Veda



Waktu terlahir setelah terciptanya ruang pada alam semesta ini, sehingga Kala (mewakili waktu) disebut sebagai Putra Surya (mewakili ruang).
Waktu berlaku seluas ruang dari alam semesta, mulai dari satuan waktu terkecil yang dipergunakan manusia pada ruang wilayah kehidupannya (tata surya) sampai waktu untuk satuan ruang terbesar yang digunakan oleh Dewa Brahma pada alam semesta.

Penyebutan dan pembagian waktu dalam masyarakat Veda (Hindu) sebagian besar merujuk kepada Surya Sidhanta, sebagai berikut:
  1. 1.    Truti = dasar waktu terkecil = 0,031 mikro detik
  2. 2.    Renu = 60 Truti = 1,86 mikro detik
  3. 3.    Lava = 60 Renu = 0,11 mili detik
  4. 4.    Liksaka = 60 Lava = 6,696 mili detik
  5. 5.    Lipta / Vipala = 60 Liksaka = 0,401 detik
  6. 6.    Pala / Vighati / Vinadi = 60 Lipta = 24,1056 detik
  7. 7.    Ghati / Nadi / Danda = 60 Vighati = 24 menit
  8. 8.    Muhurta = 2 Ghati = 48 menit
  9. 9.    Naksatra Ahoratram = 30 Muhurta = 24 jam atau 1 hari atau 1 kali rotasi bumi
  10. 10. Masa = 30 Ahoratram = 30 hari atau 1 bulan
  11. 11. Ritu = 2 Masa = 2 bulan atau musim
  12. 12. Ayana = 3 Ritu = 6 bulan atau setengah tahun
  13. 13. Samvatsara = 2 Ayana = 365 hari atau 1 tahun atau 1 kali bumi mengelilingi surya
  14. 14. Mahayuga = 4.320.000 Samvatsara / tahun
  15. 15. Manvantara = 71 Mahayuga = 306.720.000 tahun



PEMBAGIAN WAKTU MANUSIA DALAM 1 HARI
1 hari waktu manusia di Bumi dimulai dari pukul 06’00 (bukan 00’00 yang selama ini diambil dari tradisi Barat/Masehi) yang dibagi menjadi 30 Muhurta (masing-masing 48 menit) sebagai berikut:

1. Jam 06.00-06.48
    Rudra = menangis sambil  memohon, meraung; tidak menguntungkan.

2. Jam 06.48-07.36
    Āhi = ular/naga; mengoyakan, mencabit; tdk menguntungkan.

3. Jam 07.36-08.24
    Mitra = Friend/sahabat; menguntungkan


4. Jam 08.24-09.12
    Pitř = Father/Ayah; batok kpl; tdk menguntungkan

5. Jam 09.12-10.00
    Vasu = Cahaya terang cerah ceria; mengosongkan; menguntungkan.

6. Jam 10.00-10.48
    Vārāha = Babi hutan; menguntungkan.

7. Jam 10.48-11.36
   Viśvedevā = Cahaya surga terang benderang; menguntungkan.

8. Jam 11.36-12.24
    Vidhi = wawasan/pengetahuan yg dalam; menguntungkan kecuali hari Senin & Jumat.

9. Jam 12.24-13.12
    Sutamukhi = Kambing, Pengendara kereta perang dari emas; menguntungkan.

10. Jam 13.12-14.00
     Puruhūta = berbagai kurban keselamatan; Vrisaba/taurus; tdk menguntungkan.

11. Jam 14.00-14.48
     Vāhinī = Kereta (badan) kesurupan, Kesetanan; Gemini; tidak menguntungkan.

12. Jam 14.48-15.36
     Naktanakarā = Pencipta malam; tidak menguntungkan.

13. Jam 15.36-16.24
     Varuņa = Gelap menutupi segalanya; Menguntungkan.

14. Jam 16.24-17.12
     Aryaman = keberanian, kejujuran, kebaikan, sosial,  kebangsawanan; Menguntungkan      
    
15. Jam 17.12-18.00
     Bhaga = Berbagi/Pancang kayu sula; tidak menguntungkan.

16. Jam 18.00-18.48
     Girīśa = Penguasa Gunung; tdak menguntungkan.


17. Jam 18.48-19.36
     Ajapāda = Dasar yang tidak terlahirkan, Abadi; tidak menguntungkan.

18. Jam 19.36-20.24
      Akhir-Budhnya = Naga dasar dunia; menguntungkan.

19. Jam 20.24-21.12
     Puşya = makanan bergizi/bunga mekar; menguntungkan.

20. Jam 21.12-22.00
      Aśvinī = Penunggang kuda; Menguntungkan.

21. Jam 22.00-22.48
     Yama = Pengendali kematian; tidak menguntungkan. 

22. Jam 22.48-23.36
      Agni = Api; Menguntungkan.

23. Jam 23.36-24.24
      Vidhātŕ = Penyalur;Menguntungkan.

24. Jam 24.24-01.12
      Kaņďa = Perhiasan; Lingkaran Utara/Cakra; Menguntungkan.

25. Jm 01.12-02.00
     Aditi = Melarat tanpa batas; Menguntungkan.

26. Jam 02.00-02.48
     Jīva/Āmŕta = kehidupan, abadi; sangat menguntungkan.

27. Jm 02.48-03.36
     Vişņu = meliputi segalanya; Berkekuatan Raksasa; Menguntungkan.

28. Jam 03.36-04.24
     Dyumadgadyuti = Bergema, termasyur, Kecapi bentuk U; Menguntungkan.

29. Jam 04.24-05.12
     Brahma = Alam semesta, Anak Angsa; Sangat menguntungkan.

30. Jam 05.12-06.00
     Samudram = lautan, Air bah, konstelasi planet; Menguntungkan.


PEMBAGIAN WAKTU DIANTARA PARA PITRA
1 hari Pitra = 1 Masa = 1 bulan manusia
1 bulan Pitra = 30 bulan manusia
1 tahun Pitra = 12 X 30 bulan manusia = 360 bulan manusia = 30 tahun manusia

Masa hidup Pitra adalah 100 tahun atau 3.000 tahun manusia.


PEMBAGIAN WAKTU DIANTARA PARA DEWA
1 hari Dewa = 2 Ayana = 1 tahun manusia
1 bulan Dewa = 30 tahun manusia
1 Tahun Dewa = 360 tahun manusia

Masa hidup Dewa = 12.000 tahun Dewa = 12.000 X 360 = 4.320.000 tahun manusia.
Satu kali masa hidup Dewa = 1 Mahayuga


PEMBAGIAN WAKTU MAHAYUGA
1 Mahayuga adalah 12.000 Tahun Dewa atau 4.320.000 tahun manusia yang dibagi kedalam 4 Yuga sebagai berikut:
  1.     Satya Yuga = 4.000 + 400 + 400 = 4.800 tahun Dewa = 1.728.000 tahun manusia
  2.     Treta Yuga = 3.000 + 300 + 300 = 3.600 tahun Dewa = 1. 296.000 tahun manusia
  3.          Dvapara Yuga = 2.000 + 200 + 200 = 2.400 tahun Dewa = 864.000 tahun manusia
  4.      Kali Yuga = 1.000 + 100 + 100 = 1.200 tahun Dewa = 432.000 tahun manusia



PEMBAGIAN WAKTU BRAHMA
Siang hari Brahma sama dengan 1.000 Mahayuga = 1 Kalpa
Siang hari Brahma dalam hitungan waktu manusia = 1.000 X 4.320.000 tahun = 4.320.000.000 tahun manusia.

Malam hari Brahma sama dengan 1.000 Mahayuga = 1 Kalpa
Malam hari Brahma dalam hitungan waktu manusia = 1.000 X 4.320.000 tahun = 4.320.000.000 tahun manusia.

1 hari Brahma adalah 2 Kalpa = 2.000 Mahayuga = 8.640.000.000 tahun manusia.
1 siang hari Brahma dibagi menjadi 10.000 bagian yang disebut Charana.
1 Charana = 432.000 tahun manusia.

1 bulan Brahma = 259.200.000.000 tahun manusia
1 tahun Brahma = 3.110.400.000.000 tahun manusia
1 Parardha = 50 Tahun Brahma = 155.520.000.000.000 tahun manusia

Brahma hidup selama 2 Parardha = 100 tahun Brahma = 311.040.000.000.000 tahun manusia atau 311,04 Triliun tahun manusia.

Masa hidup Brahma sama dengan masa hidup alam semesta yakni selama 311,04 Triliun tahun manusia.

         Shri Ganachakra

Senin, 15 April 2019

Pembinaan Agama Hindu - Kemenag Kalimantan Selatan

PEMBINAAN AGAMA HINDU
KEMENTRIAN AGAMA KANWIL PROVINSI KALIMANTAN SELATAN



Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Kalimantan Selatan menggelar acara pembinaan Agama Hindu yang diselenggarakan pada tanggal 12-14 April 2019 yang dihadiri oleh perwakilan umat Hindu se Kalimantan Selatan.

Sebagai narasumber dalam acara tersebut adalah:
1. Pembina Masyarakat Hindu Kalsel
2. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementrian Agama RI 
3. Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Kalimantan Selatan
4. Pandita Agni Pramertha Adinata




DEWATA NAWA SANGA



Didalam filsafat dan agama Hindu (Siwa Siddhanta Indonesia) ini prinsip tertinggi adalah Parama Siwa. Dunia dengan segala isinya (sarwa tattwa) lahir dari dua prinsip abadi yang mempunyai sifat dan karakter bertentangan, yaitu Cetana, prinsip kesadaran, sementara Acetana prinsip kebendaan/non kesadaran. Keduanya bertemu (samyoga) kemudian melahirkan tattwa-tattwa, termasuk Panca Maha Bhuta. Sementara dewa-dewa yang membentuk sistem kosmologi dan kosmogoni agama Hindu di Bali sekarang ini adalah manifestasi kekuatan tertinggi tersebut yang membentuk konsep Dewata Nawa Sangha. Masing-masing arah mata angin baik dik maupun widik dan wiswa ditempati oleh dewa-dewa tertentu berikut aksara, warna, senjata, urip (nilai) dan fungsi-fungsinya baik di Bhuana Agung maupun Bhuana Alit. Dalam bahasa umum umat Hindu di Bali konsep ini sering disebut "Pengider-ideran", artinya di setiap arah mata angin baik dik dan widik di-sthana-kan dewa-dewa. Di dalam semuanya itu, Parama Siwa merupakan prinsip tertinggi, meresapi, memelihara dan mempralina alam semesta dengan segala isinya. Ia transendental dan juga imanen; ia Nirguna dan juga Saguna.



Dewata Nawa Sangha adalah sembilan gelar kemahakuasaan/perwujudan Sang Hyang Widhi dalam fungsi dan tugas beliau sebagai penguasa alam semesta. Kesembilan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi inilah menjaga agar dunia ini selalu sejahtera, subur dan lestari. Kesembilan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi ini menempati kesembilan penjuru mata angin. Tiap penjuru mata angin mempunyai senjata tertentu dan urip (nilai) tertentu juga dan juga mempunyai aksara suci masing-masing. Kesembilan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi beserta arah mata angin yang dijaga yaitu :

1. TIMUR :
Dewata Penguasa Daerahnya : Iswara.
Warnanya : Putih.
Uripnya (Nilainya) : 5 (Lima).
Senjatanya : Bajra.
Aksara Sucinya : SA.

2. TENGGARA :
Dewata Penguasa Daerahnya : Mahesora.
Warnanya : Dadu.
Uripnya (Nilainya) : 8 (Delapan).
Senjatanya : Dupa.
Aksara Sucinya : NA.

3. SELATAN :
Dewata Penguasa Daerahnya : Brahma.
Warnanya : Merah.
 Uripnya (Nilainya) : 9 (Sembilan).
Senjatanya : Gada.
Aksara Sucinya : BA.

4. BARAT DAYA :
Dewata Penguasa Daerahnya : Rudra.
Warnanya : Jingga.
Uripnya (Nilainya) : 3 (Tiga).
Senjatanya : Mosala.
Aksara Sucinya : MA.

5. BARAT :
Dewata Penguasa Daerahnya : Mahadewa.
Warnanya : Kuning.
Uripnya (Nilainya) : 7 (Tujuh).
Senjatanya : Nagapasa.
Aksara Sucinya : TA.

6. BARAT LAUT :
Dewata Penguasa Daerahnya : Sangkara.
Warnanya : Hijau.
Uripnya (Nilainya) : 1 (Satu).
Senjatanya : Angkus.
Aksara Sucinya : SI.

7. UTARA :
Dewata Penguasa Daerahnya : Wisnu.
Warnanya : Hitam.
Uripnya (Nilainya) : 4 (Empat).
Senjatanya : Cakra.
Aksara Sucinya : A.

8. TIMUR LAUT :
Dewata Penguasa Daerahnya : Sambu.
Warnanya : Biru.
Uripnya (Nilainya) : 6 (Enam).
Senjatanya : Trisula.
Aksara Sucinya : WA.

9. TENGAH :
Dewata Penguasa Daerahnya : Siwa.
Warnanya : Pancawarna.
Uripnya (Nilainya) : 8 (Delapan).
Senjatanya : Padma.
Aksara Sucinya : I dan YA.

Ida Pandita Agni Shree Yogiswara Sebali
VPA SulSel

Rabu, 10 April 2019

Sehari Berbahasa Sanskerta




Yayasan Dvipantara Samskrtam kembali menyelenggarakan kegiatan Sehari Berbahasa Sanskerta (Ekadinatmakah Vargah) bertempat di Kita Community Celuk Sukawati, Minggu 7 April 2019.
Kegiatan tahunan ini diikuti 35 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, wira usaha, ASN, guru dan dosen yang diisi dengan yoga asanas, pembacaan kitab suci Bhagavad Gita, permainan sanskerta/ kridati dan pedalaman bahasa Sanskerta.

Ketua Yayasan Dvipantara Samskrtam, Ach Agni Premadas mengutarakan kegiatan ini diselenggarakan sebagai persiapan  Pelatihan 10 hari Calon Guru Sanskerta (Siksakah Prasiksana Vargah) yang akan diadakan 17 s.d. 26 Juni 2019 mendatang.
Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Sanskerta sebagai Bahasa Ibu yg telah mewariskan nilai-nilai luhur pada budaya dan sastra bangsa-bangsa di dunia termasuk Nusantara.
Di samping itu memberikan kesempatan pembelajaran lanjutan kepada para peserta Samskrtam Saptahikamelanam (Pembelajaran Mingguan Sanskerta) dan Yugaphat Samskrtam Shibiram (Pembelajaran Sanskerta serentak selama 10 hari).
Menurutnya semua program dan kegiatan Yayasan Dvipantara Samskrtam tidak hanya terkait dengan bahasa semata, tetapi juga mendalami bidang sosial budaya, kemanusiaan dan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan (human Values) serta karakter.

Sementara Pembina Yayasan Dvipantara Samskrtam Acharya Made Suyasa mengungkapkan kuetamaan belajar Sanskerta adalah akan menjadi muara pencarian tentang hakikat kebenaran yang bisa dipelajari dan diakses oleh setiap orang, dan juga oleh siapa saja tanpa memandang golongan dan profesi. 
Cakupan sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya, drama, juga teks-teks ilmiah, teknis serta filsafat kehidupan.

Harapan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya adalah agar bisa memberikan pengayoman, dukungan dan motivasi agar setiap program dan kegiatan Yayasan Dvipantara Samskrtam nantinya bisa lebih berkualitas dan berkelanjutan dalam pembangunan budaya dan mental bangsa melalui bahasa dan sastra Sansekrta
(premadas)






Doa Kedamaian



Dalam rangka ikut menjaga suasana tetap kondusif dan damai dalam Pesta Demokrasi di Tanah Air 17 April 2019, beberapa pengurus dan anggota Veda Poshana Ashram menggelar Homa Rudram, 7 April 2019 bertempat di Pasraman Sai Gana Homa Dharma Agni Hotra Sanga, Banjar/Desa Getakan, Banjarangkan Klungkung.
Ritual Tradisi Vedik Kuno ini dipimpin oleh Ida Pandita Agni Mpu Ganeshvara dan Ida Nabe Sri Bhagawan Yogananda, Ketum Veda Poshana Ashram Pusat dari Geria Santabana Payuk Bangli.
Beliau menyampaikan posisi strategis Veda Poshana Ashram dalam ikut berkontribusi kepada Ibu Pertiwi diantaranya dengan  melaksanakan Shanti Puja dengan Homa Rudram ini.

Di samping pelaksanaan ritual seperti ini, Veda Poshana Ashram juga rutin melaksanakan Maha Shanti Puja/ Doa Kedamaian setiap bulan Desember. 
Kegiatan biasanya diselenggarakan di Pelataran Pura Besakih oleh Pengurus Pusat Veda Poshana Ashram didukung oleh Pengurus-pengurus Cabang di seluruh Tanah Air.  
Bentuk kegiatan adalah doa bersama akhir tahun dengan Homa Yajna/ Agnihotra 9 kunda untuk keharmonisan dan kedamaian semesta.
(Premadas)




Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok