Senin, 21 Januari 2019

AHIMSA MANIFESTASI KASIH DALAM PENGERTIAN


Oleh: Agni Premadas[1]

Tanpa kekerasan berarti menghilangkan penyebab kekerasan terhadap siapapun, baik dengan pemikiran, kata-kata atau perbuatan. Dalam hidup, setiap individu harus mewujudkan cita-cita suci. Gagasan ini harus meresapi seluruh hidup dan tindakan. Segala tindakan berdasarkan pikiran manusia yang menemukan pengejawantahannya dalam bentuk luar sebagai pantulan dari wujud batinnya. (Svami Sathya Narayana)

Ahimsa sejatinya mengajarkan, bahwa penyelesaian dengan kekerasan justru akan mengundang kekerasan baru. Menurut Mahatma Gandhi, kekerasan bukannya membebaskan manusia dari beban mentalnya tetapi justru membelenggu dia dan mengungkapkannya dalam kesempitan cinta. Sebaliknya, dengan ahimsa manusia  dapat mengembangkan rasa dan kemampuan insani sehingga dapat menemukan diri sendiri sebagai sebuah ciptaannya, hasil kebudayaannya yang merupakan wujud konkrit dari pernyataan dirinya. Dalam ahimsa itu pula termuat sikap etika yang sangat positif terhadap alam. Manusia tidak lagi akan mengeksploatasi alam demi keperluan sendiri, melainkan ia akan menjadi ekosistem sehingga dunia yang dia tempati benar-benar merupakan “rumah” baginya. 
Tanpa kekerasan atau ahimsa dipuji sebagai ‘paramo dharmah’ yaitu dharma tertinggi dari umat  manusia. Di dalamnya ia juga membawa intisari dari keempat nilai spiritual dasar lainnya dan menyatakan kemenangan jiwa terhadap kekuatan yang berlawanan dalam dunia fisik. Pada bidang praktis, parama dharma ini menjadi parama yoga atau latihan spiritual tertinggi, yang membawa pada penyatuan pribadi dengan Tuhan, yang bermanifestasi dalam semua makhluk. Dalam Bhagavad Gita (VI.32) dinyatakan  “atmaupamyena sarvatra samam pasyati yo ‘Arjuna, sukham va yadi dukham sa yogi paramo matah” artinya yogi yang sempurna adalah ia yang mengidentifikasikan dirinya dengan semuanya dan mengidentifikasikan kesenangan dan penderitaannya sendiri dengan kesenangan dan penderitaan semua makhluk.
Untuk dapat melakukan semua itu, Svami Sathya Narayana mensyaratkan setiap orang menjalankan 3 P. Purity (kemurnian), Patience (kesabaran), dan Perseverance (ketekunan). Sifat paling penting adalah “kemurnian”. Dalam Bhagavad Gita Sri Krishna juga mengharuskan untuk menghapus pikiran buruk dengan selalu menumbuhkan pikiran damai. Jangan menyebarluaskan segala macam gosip pasaran. Begitu pula tidak menarik kesimpulan sesuatu secara terburu-buru tanpa berdasarkan informasi lengkap. 
Untuk mengatasi pengaruh buruk tubuh (thanu), pikiran (mana), dan harta (dhana), perlu dikembangkan satsangga, seperti yang terdapat dalam kitab suci. Satsangga, tidak diartikan sebagai ‘berada dalam lingkungan orang-orang baik’, seperti pemahaman masyarakat umum. Tapi, sat artinya Kebenaran yaitu atma atau Tuhan. Jadi, satsangga, berarti dalam lingkungan Tuhan dan bukan orang-orang.  Jika orang mulai membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain, pergilah dari tempat itu tanpa mendengar pembicaraan sedemikian itu. Dalam Ramayana, Kaikeyi dipengaruhi kata-kata pelayannya Manthara yang menghasut untuk menghentikan penobatan Rama dan mengatur agar Rama dikucilkan, sebab ia tidak menyukai Rama. Karena Kaikeyi mendengarkan nasehat jahat Manthara, ia mengusahakan agar Rama pergi ke hutan. Kedua wanita ini memeperoleh nama buruk sepanjang masa. Di antara pria, kalin memiliki contoh dalam Mahabharata, Duryudana selalu memiliki pikiran pikiran jahat yang berlanjut dengan rencana jahat. Demikian pula Kichaka memandang Drupadi dengan mata jahat dan ia dibunuh oleh Bima. Rahwana melakukan tindakan jahat. Manthara berdosa karena berbicara buruk tentang Rama, Kaikeyi mendengarkan kata-kata jahat itu. Kichaka berdosa karena melemparkan pandangan jahat pada Drupadi. Duryudana memupuk perasaan jahat dan melakukan perbuatan jahat. Inilah contoh-contoh untuk membuktikan bagaimana berbicara jahat, mendengar kata-kata jahat, berpikir jahat dan melakukan perbuatan jahat dapat menyebabkan keruntuhan seseorang. Sadana rohani terdiri dalam berbicara, berpikir, melihat, mendengar dan berbuat baik.
Banyak bicara juga harus dihindari karena membuang tenaga. Jika orang menjadi lemah karena tenaga terbuang, ia cenderung menjadi pemarah dan tumbuhlah kebencian. Karenanya setiap orang mesti menggunakan tenaga pemberian Tuhan untuk tujuan-tujuan yang baik. Tenaga adalah pemberian Tuhan. Dengan mengurangi pembicaraan yang tak perlu, kita dapat menyimpan tenaga. “Sedikit bicara, banyak bekerja”, adalah nilai kearifan yang harus dipraktekkan. 
Memfitnah, membunuh karakter, menonjolkan kekeliruan orang lain, mencoba mengecilkan atau menjatuhkan harga diri orang seseorang di mata yang lain, inilah kanker pembunuh yang telah menghancurkan banyak kelompok. Sudah pasti hal demikian harus dianggap sebagai tindakan tercela bagi setiap badan rohani. Jika semua umat dapat memperluas lingkaran hubungan mereka dimana mereka dapat memberikan dan diterima dengan kasih, maka sudah pasti akan ada kemajuan. Kasih dalam hati lambat laun harus terus diperluas. Jangan menganalisis dan mencela. Tunjukkan simpati dan sebarkan kasih. Kasih adalah nafas kehidupan. Kasih adalah makanan yang menopang hidup. Jadikanlah  lautan cinta kasih maka tujuan akhir akan tercapai. Dengan demikian jelas tidak ada nilai tertentu yang dapat dipersekutukan dengan ahimsa. Ia adalah nilai-nilai spiritual, moral dan sosial yang semuanya saling merangkum dan menunjang. Bahujana hitaya, bahujana sukhaya, lokanura-naya, - kesejahteraan orang banyak, kebahagiaan orang banyak, kenikmatan orang banyak.
Dalam era sekarang,  dimana tidak ada sama sekali batas besarnya pengorbanan yang dapat dilakukan seseorang untuk sampai pada “penyatuan dengan hidup”, era yang menuntut sikap “perbanyaklah keperluan-keperluan”, paham ahimsa sebagai wujud kasih dalam pengertian diperlukan untuk menggapai jenjang kemanusiaan yang lebih tinggi. Dalam tanpa kekerasan (ahimsa), kebenaran, kebajikan, kedamaian dan cinta kasih bertemu untuk memenuhi cita-cita agung jaman dahulu yakni udara caritanam tu vasudaiva kutumbakam---mereka yang hatinya penuh dengan cinta kasih yang tak terbatas merangkum seluruh dunia sebagai satu keluarga.


________________________________________
[1] Ketua Litbang Veda Poshana Ashram, Ketua Yayasan Dvipantara Samskrtam  dan Dosen   Universitas Warmadewa Denpasar

Minggu, 20 Januari 2019

Kapan Dharma akan Menang?



Oleh: I Wayan Suja (Brahma Acharya Murti)


Hidup merupakan perjalanan spiritual dari keter-ikatan ragawi menuju kebebasan dan kebahagian abadi.  Langkah awal dalam perjalanan panjang tersebut adalah menanamkan kesadaran bahwa kita bukan badan. De-ngan menyadari hakekat sang diri adalah atman, tentu kita tidak mau hanyut dalam kenikmatan duniawi yang bersifat sangat sementara, sebaliknya ada kerinduan untuk selalu berusaha mendekatkan diri dengan Brah-man. Dan, hidup dengan Tuhan sesungguhnya adalah proses pendidikan sejati karena akan membangkitkan sifat dan karakter keilahiannya.  Makna itulah yang terpendam dalam rerahinan Tumpek (berasal dari kata tampek), termasuk di antaranya Tumpek Wariga, yang dalam Lontar Sundari Bungkah, dimaknai sebagai wewarah ring raga. 
Tidak akan pernah ada kemenangan tanpa perju-angan, dan perjuangan dalam konteks spiritual adalah ‘peperangan’ untuk mengalahkan diri sendiri (nafsu).  Agar bisa mengendalikan nafsu kebinatangan yang ada di dalam diri, faktor lingkungan perlu diperhatikan.  Ling-kungan alam perlu ditata dan dilestarikan, pergaulan sosial perlu disucikan (Sugihan Jawa), diikuti –dan ini yang terpenting – penyucian tri kaya (Sugihan Bali).  Penyucian diri untuk menuju kemenangan dilakukan dengan membiasakan diri melakukan pengendalian diri atau “tapa” (penapean) dan itu mesti dilaksanakan dengan kesungguhan hati (penyajaan).  Hanya dengan demikianlah manusia akan mampu menyembelih nafsu-nafsu kebinatangan yang ada di dalam dirinya (penampahan), dan baru secara spiritual berhak merayakan kemenangan Dharma atas adharma.  Tanpa perjuangan, hanya ada kebanggaan ritualitas-simbolik, yang tidak memiliki dampak langsung terhadap perkembangan jiwa, bahkan bisa melahirkan kemunafikan religius.
Mengenai kekuatan tapa untuk mentransformasi diri secara alami dan ilmiah dapat kita lihat pada proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu melalui pemben-tukan kepompong. Seekor ulat berpenampilan menji-jikkan dan bulu-bulunya menyebabkan gatal pada kulit siapa saja yang menyentuhnya.  Kejelekan ulat tersebut menjadi sempurna dengan perilakunya merusak deda-unan. Namun, berkat “kesadaran” akan kelemahannya, ulat melakukan pengendalian diri, dan lewat tapanya dia berubah menjadi seekor kupu-kupu.  Penampilannya berubah, menjadi cantik dan menarik, perilakunya juga sangat-sangat berubah.  Bercermin dari kesadaran sang ulat, leluhur masyarakat Bali mengenang proses metamorfosis tersebut pada saat “mengkafani” mayat dengan mengikatnya menggunakan tali katekung (kepompong).  Kearifan lokal tersebut merupakan pelajaran bagi yang masih hidup, sementara mayat yang dikafani hanya menunggu waktu dimakan ulat. 
Tanpa perjuangan, kemenangan hanya harapan; dan perayaannya bisa mewujud menjadi prosesi ritual yang kehilangan makna spiritualnya.  Perjuangan berat tersebut menuntut disiplin ketat dan tepat (brata), agar tidak hanya hilir mudik pada keriuhan ritual, atau hanya keluar masuk dalam kegaduhan tradisi tanpa tepi.  Ibarat sapi yang dicocok hidungnya, kita telah berjalan tanpa henti hingga lutut dan kaki terasa letih.  Ternyata, kita telah berputar-putar mengelilingi patok budaya dimana tali tradisi itu ditambatkan.  Kesenangan yang kita peroleh hanyalah kenikmatan ragawi yang bersifat sementara karena bersumber dari kemenangan semu, dimana sesungguhnya kita hanyalah pecundang dari kama, kroda, dan loba.
Sebuah sloka dalam Srīmad Bhāgavatam I. 17. 38 menyatakan, “Dyûtam pānaṁ striyah sûnā, yatrādhar-maś catur vidah. Artinya, berjudi, minum minuman keras, berzinah, dan membunuh binatang merupakan empat kaki adharma.  Sayangnya, keempat patologi sosial tersebut justru tumbuh subur, terang benderang, di tanah Bali.  Bahkan, pada hari-hari raya, termasuk pada saat merayakan kemenangan Dharma, penyakit sosial itu tidak malu-malu menampakkan dirinya.  Jika krama Bali hanyut dalam gelombang hedonistik tersebut, maka citra Bali sebelum datangnya penjajah Belanda akan kembali muncul.  Bali saat itu dikenal sebagai pulau angker yang dihuni oleh para dedemit, tempat judian serta madat dan budak diperjualbelikan secara bebas.  Setelah Belanda datang, lewat kegiatan promosi pariwisatanya, image Bali pun bisa diubah menjadi pulau Sorga.  Namun sekarang, citra Bali justru sering dirusak oleh krama Bali sendiri.  Disadari atau tidak, perilaku krama Bali telah banyak mengarahkan pulau sorga terakhir ini (the last paradise) menuju sorga yang hilang (the lost paradise).  Jika tidak segera dibenahi, Bali akan mengalami kehancuran. 
Kehancuran Bali mencakup kerusakan fisik, psikis, budaya, dan keimanan yang bisa disebabkan oleh beberapa hal berikut.  Pertama, sikap cuek masyarakat dan aparat terhadap berbagai kemaksiatan yang terjadi di Bali, seperti judian dan café miras plus-plus.  Kedua, ketidakpenguasaan aspek produksi dan investasi krama Bali, yang menyebabkan mereka menjadi jongos di kampung halaman sendiri atau hanya kena imbas dan penikmat sampah.  Ketiga, berkurangnya habitat akibat alih fungsi lahan dan pengalihan hak milik tanah Bali kepada orang luar.  Keempat, kemunafikan sosial akibat krama Bali secara psikologis menganut paham ganda.  Pada tataran pemikiran dan wacana mengikuti filsafat idealisme yang bersumber dari Pustaka Suci Veda, tetapi prakteknya justru lebih mendekati pragmatisme-liberal (Agama Pasar).  Ketidaksatuan semangat trikaya tersebut hanya akan berakhir pada stress sosial, sebagai awal kehancuran suatu komunitas.  Semoga semua ini tidak menjadi alternatif skenario kehancuran Bali dan semoga kita tidak hanya menang sesaat. 
Om Tat Sat. 

Rabu, 09 Januari 2019

Kegiatan Cabang Kalsel - Pedalaman 3

Ida Pandita Agni Kumari Ananda Dewi


Pembinaan umat hindu dayak di desa miolan  bertempat di balai adat  miolan  kec HST 




Kegiatan  ulang Tahun pemuda hindu balangan  yg ke 4   bertempat dibalai adat Anian




Kegiatan persembahyangan di Tempat Bpk Pndta Brahma di desa Ajung kec  tebing tinggi  kab balangan . Ini rutin dilksnkn setiap mlm minggu.  



Astungkare atas ijin  nining Bahatara  tgl 5 januari  2019  bisa mlksnkn sembahyang bersama  dgn umat hindu dayak  desa hinas  kanan  . Bertemat di balai desa hinas kanan.




Ahirnya terbentuklah  sebuah wadah organisasi   bagi pandita hindu dayak yang diberi nama Persatuan Pandita Hindu Dayak  Kal Sel. Program  kerja  sudah tersusun dengan baik .  pada hr ini Tgl  7 Jan 2019 bertempat dirmh Pndta  Kumari.







Kegiatan Cabang Kalsesl - Pedalaman 2

Ida Pandita Agni Kumari Ananda Dewi



Umat hindu di  desa kamawakan  kab Hulu sungai Selatan

Musyawarah dg   para balian di desa   kecil Rantau paku  utk   plksnn  upacara2  keagamaan


Latihan  mengucapkan  mantram gayatri . Di dampingi  sdra  Ida Pndta  Surya dr lampung . Tempat desa  Maabay kec loksado kab HSS


Persembhygsn di pura bambu didesa Aruhuyan dsyak  sekaligus penyerahan  gitar utk pemuda hindu  yg mrk sbt PH2D

Persembhygan  dlm rangka  kunjungan  dosen dr IHDN DENPASAR   utk sosialisasi    perkuliahan. Ahirnya  ada st orang  umat  dr desa tersbut mau kuliah  di IHDN  DENPASAR.



Mengajarkan kpd  anak 2 didesa kambiyain  3 utk mengucapkn Trisandya dn melstih merrka duduk sempurna utk menghadsp Tuhan

Pelaksanaan persembhyangan bersama umat hindu  desa datar laga  kec hantakan  kab HST . Mereka sangat berdemangat utk minta dibina .



Persembhygan  dlm rangka  purnama . di pura  gunung riot. 

Mlksnkn upacara piodalan pura  di Upau Tabalong





Melaksanakan pembinaan kpd remaja ( pemuda hindu balangan )  di balai adat  desa leo 




Kegiatan Cabang Kalsel - Pedalaman 1




Bersilaturahmi  dgn tokoh   masyarakat  desa datar ajab  . Utk  melakukan  pendekatan  kpd mereka  agar kehadiran  kita  bs  diterima   utk menyampaikan tentang ajaran agama hindu.  Kt mnjldkn bhw keharingan dn hindu adalh sama  tetapi hindu  itu ibsrat rmh sdh bersertifikat sdh diakui negara. Ada kitab sucinya  dan ada aturan aturan yang hrs  dilksnkn.
Description: img-1546877042.jpg

Pada malam minggu itu jg  terbentuk lh organisasi kepemudaan  yg di beri nm Pemuda hindu  datar ajab   dn kangsung km   resmikn  yg  di ketusi oleh  anak muda yg  sbkmnya adalah preman.  Tp astungkare  bs berjln dg bk.


Melakukan  kunjungan kermh  slh satu  tokoh  adat   yg  dimasyarakat dayak beliau ini  kepala balai   disbt balian Tuha. Teoatnya    Ini di desa  Iyam kec Tebing tinggi  klo  jarak dr  rmh  kami  di balangan   cukup jauh  ditempun dg nk kendaraan roda dua  slm  2 jm. Jk lancar tdk ads mslh.


Memberikn pljran agama pada  murid SMK N  1 Pagat kab HST.  Seumur hidup mungkin puluhan Thn tdk pernah ada yg berani mengajarkn agsma hindu dn mlksnkn pembacasn Trisandya  di sklh tersbt . Astungkare kita sdh bs mlksnknnya. Dn sjrng nilai agama  umat hindu tdk kosong lagi bhkn sampai mereka sdh banyak yg pakai jilbab  krn  ikut bljr agsma Islam. Tp skrng sdh   mau mlpskn jilbabnya.



Memberikan  pencerahan kepada WHDI   dn ĶMHDI  Sul Sel  utk sll   aktif dlm menjlnkn  ajaran dharma yg berpedoman pada  kitab Suci Weda  . Mlksnkn Trisandya dn berpedoman pada Tri  Kaya Parisuda .


Ini  kgtn  dilksnkn di bukit  pegunungan  meratus krn ada  anak desa tp mereka beragama keharingan




Selasa, 08 Januari 2019

Kegiatan Cabang Lombok - Kuningan, 5 Januari 2019


VPA Cabang Lombok menerima kunjungan dari Bimas Hindu Kemenag Provinsi Nusa Tenggara Barat, dalam rangka mempererat hubungan pemerintah (pemegang kebijakan negara) dengan Bhagawanta negara (para pandita, ashram/grya), juga dari Bimas Hindu menghaturkan punia dan ditutup dengan mejaya jaya, dengan dipimpin oleh Ida Pandita Agni Mas Suyasa.
Dalam kesempatan ini juga, Pihak Bimas Hindu Kemenag Provinsi NTB akan memberikan rekomendasi kepada VPA Lombok untuk mempercepat proses pendaftaran kelembagaan Hindu di Departemen Agama RI.









Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok