Selasa, 06 Oktober 2020

Arti dan Manfaat ‘’Rudraksa’’

 


oleh : Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

REALITASNYA, masih banyak juga warga, bakta, margi,  termasuk  shadaka tidak tahu dan  mengerti dengan gamblang  apa makna  dan manfaat  substantif  Rudraksa itu.  Keberadaan  Rudraksa itu sesungguhnya sangat luhur dan mulia bagi kita. Rudraksa ini  merupakan berkah bagi segenap umat manusia. Rudraksa  benar benar  Shiva alias Rudra sendiri. Pohon ini baru tumbuh setelah Shiva  melakukan tapa  ekstra  keras selama 1000 tahun deva. Karena kasih Shiva tak terbatas kepada umat manusia, air mata Rudra itu kemudian  menetes dan jatuh ke bumi. Dan selanjutkan air mata itu tumbuh menjadi   pohon Rudraksa.  

Rudraksa  itu  dibungkus kulit buah berwarna biru. Setelah dikupas dan dibersihkan maka Rudraksa itu menjadi indah dipergunakan  bhakta Shiva. Bukan saja   dipakai   kalung nan indah, juga  gelang, anting, yadnyopavitam, sabuk, tas, cincin, pengikat rambut, bahkan  melengkapi,  Bhawa untuk  Sulinggih.  Penggunaan Rudraksa itu tentu sangat diberkati pada siapa saja  yang  memuliakannya. Dari berbagai segi, Rudraksa itu, menjadi media efektif, dan bermanfaat sekali ketika seseorang mengafirmasi dan melakukan  pemujaan kepada  Shiva. 

Sesungguhnya, banyak manfaat alias keuntungan  baik  duniawi –spiritual, juga   skala lan  niskala seseorang  menggunakan Rudraksa ini. Kenyataanya masih banyak yang apriori dan skeptis soal rudraksa ini.    Hal itu boleh-boleh dan sah sah saja bagi manusia  yang memiliki kehendak bebas. Tetapi  idealnya,  jangan avidya (kebodohan) itu dipelihara dan diberikan berlama lama mengintevensi pikiran. Sehingga implikasinya menciptakan  kerugian, kalau enggan disebut ‘’meracuni’’  diri sendiri. 

Sambutlah berkah Rudraksa itu. Melalui upaya bakti yang tulus, diyakini secara   gradual –bertahap – tetapi pasti  sradha (keimanan) itu akan terus meningkat kesadarannya. Semua maklum,   beragama  itu sesungguhnya dipengaruhi  emosi psykologis. Aspek rasa lah yang lebih dominan pada   domain  sradha –keimanan -, itu bukan unsur  logika, nalar, hal yang   masuk akal  apalagi kalkulasi duniawi lainnya yang sangat kental muatan kebodohannya.

Kiranya , tepat contoh kesigapan seseorang dalam mengapresiasi buah  mangga atau durian. Ketika menghadapi dua buah itu, memang  tidak perlu diperbincangkan dari mana, bagaimana, dan persepsi logika lainnya. Apalagi  dibahas tampilan fisik, casing dari buah itu. Idealnya,  segera lah bertindak –action -, belahlah, kupaslah, maka niscaya  dengan cara mecicipi lebih  dulu, maka akan tahu sendiri apa  manfaat dan rasa uenak dari mangga atau durian itu.  

 Jika belum ada kemauan memakai, niat mencicipi,  lalu .. buru buru memberi stereotif,  perspektif  miring dan kontra  produktif,  tidaklah justifikasi itu merefleksikan seorang yang  bijaksana , dalam  kedudukan, keberadaan  manusia sejati. 

Bisa dibayangkan,  ini mungkin tidak masuk akal.  seekor  ‘’anjing’’ sekalipun  jika  menggunakan  “Rudraksa’’ di dahinya, maka binatang  itu akan mencapai  moksah,  setelah meninggalkan badan wadagnya. Kesimpulannya, betapa,luar biasa, berkah  pengunaan Rudraksa itu. 

Seseorang yang meninggal memakai Rudraksa, maka  ia mencapai alam Rudra dan mencapai moksah. 

Ketika shadaka mamakai  abu suci dan Rudraksa, dia  mencapai alam shiva.

Shadaka mencapai jutaan berkah bila  menggunakan rudraksa di dahi. Mendapatkan berkah  10 juta manakala  menggunakan di telinga, dan 100 juta leher serta berjuta juta jika menggunakan di crown mahkota. 

Memakai rudraksa sebagai janyopaveeta , --benang suci – di badan  mendapat anugerah satu juta, sedangkan  berjuta juta berkahnya bila menggunakan di tangan. 

Seseorang menggunakan Rudraksa dengan mutiara, coral, quarts, shappire, peran dan emas mereka menjadi shiva. 

Mendapatkan berkah  jutaan ketika melihat saja  Rudraksa, 100 juta  jika menyentuhnya dan berjuta juta manakala  seorang shadaka shiva  memakainya. 

Seseorang yang menggunakan Rudraksa, tidak boleh minum minuman keras, bawang merah dan bawang putih serta daging. 

Jika memakai 1000 Rudraksa mendapatkan respek, salut  dan apresiasi luar biasa dari Dewa dewa sendiri. Dan dia  sendiri menjadi Rudra. 

Seorang Pertapa, Sanyasin  baiknya menggunakan omkara, om om om ketika memuja Shiva.

Seseorang  yang menggunakan Rudraksa, segala mukhi dari satu sampai empat belas,  equel alias sama dengan Shiva sendiri. 

Memakai  Rudraksa mukhi 14, dia memiliki kekuatan /power seperti Shiva sendiri. Dia mendapat kehormatan, didekati para Dewa dengan apresiasi dan berkah  luar biasa. Dia dikatakan lahir dari mata Shiva. Semua penyakitnya diobati,  mendapat kemuliaan dan selalu sehat.


Rudraksa dan Muki Satu-Empat belas

Dijelaskan, Keunggulan  Rudraksa dari mukhi satu hingga empat belas.

  1. ‘’mukhi satu’’, dapat mewujudkan impian Parattatwa (kesadaran kosmik tertinggi) . Dia sungguh sungguh Shiva,   hidup seperti  Shiva sendiri. Diberkati kebahagian duniawi bahkan salvation (moksah) Keberuntungan selalu menyertai, Semua keinginannya terpenuhi. 
  2. ‘’mukhi dua’’ menjadi shiva-parwati alias Ardhenariswari. Jika memakainya diberkati shiva. Dia Isa sendiri. Dipenuhi  segala keinginannya. 
  3. ‘’Mukhi tiga’’  mendapat berkah Agni, Diberkati tiga api, juga memperoleh  kesenangan/kebahagiaan. 
  4. ‘’Mukhi empat’’  merepresentasikan Brahma. Diberkahi Brahma.
  5. ‘’Mukhi lima’’ Pancabrahma dan juga Shiva yang disebut  Kalagni, dan menghilangkah dosa dosa melakukan pembunuhan. Mendapat pengampunan main sex dengan wanita yang tidak patut dan diampuni dari makan makanan non vegetarian.  
  6. ’Mukhi enam’’, Kartikeya,  mendapat berkah ketenaran. Baiknya digunakan di pergelangan tangan kanan. 
  7. ‘’Mukhi Tujuh’’ Saptarishi dan Laksmi, mencapai ketenaran dan kesejahteraan
  8. ‘’Mukhi Delapan’’  Vasu, gangga dan Ganesha. Baik digunakan seorang jenderal angkatan darat. Bagus dipakai mewujudkan Moksah. Disebut Vasumurti/Bhairava . Setelah meninggal, dia berhak  menggunakan trident,/trisula dari Shiva. 
  9. ‘’Mukhi Sembilan’’,  Dewa Yama, juga Bhairawi sendiri, bagus digunakan di tangan kanan,  Baik mewujudkan moksah, jika memakainya dapat menambah keberanian setara  Bhairawi,  diberkati sembilan sakti (Dewi Durga). Ia jadi Maheswari  dan  Sarvesvara. 
  10. ‘’Mukhi  Sepuluh’’  Asa-Deva , jika memakainya mencapai ketenangan bhatin. Lepas dari efek planet, kekuatan jahat, menghindari ular, Tuhan Janardhana sendiri. Akan terpenuhi semua keinginannya. 
  11. '’Mukhi Sebelas’’ adalah  Rudra sendiri, mendapatkan keuntungan keuntungan dari Shiva.  Dapat kejayaan berada di mana saja. 
  12. ‘’Mukhi duabelas’’ adalah  Mahawisnu, dan juga merepresentasikan Aditya alias Surya sendiri. Jika digunakan di kepala maka 12 Aditya akan hadir. 
  13. ‘’Mukhi tigabelas’’  diberkati Kamadeva, terpenuhi segala keinginan dan mencapai segala siddhi. Dia mendapatkan berkah dan keuntungan-keuntungan diluar perkiraanya. 
  14. ‘’Mukhi empatbelas’’   adalah Rudra sendiri, mata Shiva sendiri, dengan menggunakannya  dapat menyembuhkan semua penyakit dan memunuhi semua keinginan. Yang sangat penting diberkahi  Moksah.  Dia adalah Srikanta sendiri, Membimbing Moksah  satu generasi. Jika digunakan di  dahi dengan penuh kebaktian,  menghilangkah dosa-dosa. 


Mantra-Mantra  

Mukhi Satu , om om Drisam namah  

Mukhi Dua , om om namah 

Mukhi Tiga Om om namah  

Mukhi Empat , om hreem namah  

Mukhi Lima, om hum namah 

Mukhi Enam,  om Hum namah 

Mukhi Tujuh,  Om Hum namah  

Mukhi delapan,  om sah hum namah

Mukhi Sembilan, om hum namah

Mukhi Sepuluh , om Hreem namah

Mukhi Sebelas, Om Sreem namah

Mukhi Duabelas, om Hum Hreem namah (Leo, Sagitarius, )

Mukhi Tigabelas, om Ksam Chaum Namah

Mukhi Empatbelas Om namo namah

 Mantra-Mantra Versi Singkatnya  

Mukhi Satu , Om Hrim  

Mukhi Dua , Om 

Mukhi Tiga Om Klim  

Mukhi Empat , Om Hrim  

Mukhi Lima, Om Hrim  

Mukhi Enam,  Om Hrim 

Mukhi Tujuh,  Om Hum  

Mukhi delapan,  Om Hum 

Mukhi Sembilan, Om Hrim 

Mukhi Sepuluh , Om Hrim 

Mukhi Sebelas, Om Hrim Hum 

Mukhi Duabelas, Om Kraum Ksaum , Raum 

Mukhi Tigabelas, Om Hrim 

Mukhi Empatbelas Om 

 

Sodiak  

Mukhi Satu , Leo 

Mukhi Dua , Cancer. Scorpio,

Mukhi Tiga, Aries, Cancer, Leo. Visces 

Mukhi Empat , Taurus, Gemini, Virgo, 

Mukhi Lima, Aries, Scorpio, Sagitarius, Pieces 

Mukhi Enam,  Gemini, Virgo, Capricornus, Aquarius,

Mukhi Tujuh,  Taurus, Capricornus, Aguarius  

Mukhi Delapan...,  Mukhi Sembilan...., Mukhi Sepuluh ...., 

Mukhi Sebelas, 

Mukhi Duabelas, Leo, Sagitarius, 

Mukhi Tigabelas, 

Mukhi Empatbelas



Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

Susunan Mantra Api Suci Homa

oleh : Acharya Rishi Sadhu Giriramananda


Ucapkan Omkara sebanyak 21 x  (Om Om Om …… …) 

Tujuannya membersihkan (Panca karmendriya, PancaJnanendriya, Panca Prana, Panca Maya Khosa dan yang ke-21 adalah Atma) 


Omkara bindu samyuktam 

Nityam dyayanto yoginah 

Kamadam moskhadam chaiva 

Om kara ya namo namah 

Om kara ya namo namah 


Sa Nkalpah - Tujuan Ritual 

Yajamana  : Om avasoh sadane sida - mempersilahkan kepada Purohito untuk memimpin upacara 

Purohita : Om Sidami - saya siap 

Yajamana : Aham adyokta karmakaraaoya bavarnta vrne - hari ini saya melaksanakan Agnihotra dalam rangka ...

Purohito : vrto’smi - saya siap melaksanakan 


Mantra Penyucian Indria - Indria : 

Om vak vak 

Om pranah pranah 

Om caksus caksus 

Om strotram strotram 

Om nabhih 

Om hrdayah 

Om kanthah 

Om sirah 

Om bahubhah yaso balam 

Om karatala karapsthe 

Marjana Mantrah - Penyucian Anggota Badan : 

Om bhuh punantu sirasi punantu

Om bhuah punantu netrayah 

Om svah punantu kanthe

Om mahah punantu hrdaye

Om janah punantu nabhyam

Om tapah punantu padayoh

Om satyam punantu punassirasi

Om Kham Brahmo punantu sarvatra 


Achamanam - minum air dari telapak tangan : 

Om apavitrah pavitro vaa 

Sarvaavastham gatopi va 

Yah smaretpundarikaksham 

Sa bahyabhyantaraH sucih 

Om keshavaaya svaha 

Om Narayanaa ya svaaha 

Om Maadhavaaya svahaa 

Om govinda ya namah 

Om Vishnave namah 

Om amrtopastaranam  asi svaha 

Om amrtopidhanam asi svaha 

Om satyam yasah srir maye srih srayatam svaha 


Ngarga Tirta 

Om Sri Ganeshya namah  , sarasvatyau namah, om sri gurunhyo namah Harih Om 

 

Om kalasasya mukhae visnuh 

Kanthae rudrah sama asrithah

Mulae tatra sthitho brahma madhyae 

Mantra ganah samasritah 


Om koksotu sagarat sarvae saptadvipa 

Vasundhara rgvedhotha yajurvedah samavedo atharvanah angais ca sahitah

sarvae kalasambu samasritah 


Om gangae ca yamunae ca iva 

Godavari sarasvati narmadae sindhu kaveri

Jalesmin sannidhim kuru 


Om Imam mae gangae yamuna sarasvati

Sutudri sthomum sacata purusnya

Asiknya marudvidhae vitastha yarjikiyae 

Srinuhya susomaya 


Om sitasitae saritae yatra sangatae 

Tatra plutaso divamutpatanti evaitanva 

Visrajantidhirasthe janaso amrtvam bhajantae 


Om kalasha devatabhyo namah 

Gandha puspaksatan samarpayami 


Pemberian Benang Suci : 

Om Yaj no pavitram paramam pavitram

Prajapater yat sahajam purastat 

Ayusyam agryam prati munca shubbram

Yaj nopavitam balamastu tejaH 


Pranayamah 

Om pranavasya parabrahma rshiih 

Paramaatma devataa

Daivi gaaytri chandana 

Praanayaame viniyogah 

Om Bhuuh Om Bhuwah Om Swah 

Om Mahah Om Janah Om Tapah Om Satyam  

Om Tat savitur varenyam 

Bhargo devasya dhimahi 

Dhiyo yo nah prachodayat 

Om aapojyoti rasomrtam brahma 

Bhurbhuah svarom 

Pancaamrta Puujaa : 

Om Kshira govinda ya namah

Om Dhahini Vaamanaaya namah

Om Ghrte Vishnave namah

Om Madhune Madhushudana ya namah

Om Sharkaraayaam Achutaya namah


Mandapa Puujaa : 

Om suvarna mandapaa ya namah

Yogamandapaya namah

Bhoga mandapaa ya namah

Ratnamandapaaya namah

Vajramandpaaya namah

Hemaprakaaraya namah

Ratnasopaanaaya namah

Suvarnavedikaaya namah 


Shiva Panchaaksharii Nyaasah 

Om om hrdayaa namah 

Om nam shirase svaahaa

Om nam shikaayat vaushat

Om shim kavachaaya hum 

Om vam netrayrayaaya vaushat 

Om yam astraaya phat 

 Atishvarastuti praarthana upaasanaam: 

Om vishvani deva savitar 

Duritaani paraasuva

Yad bhadram tannasuva 


Agni Aahuti 

Agnimiile purohitam yajnyasya 

Devamrtvijam hotaaram 

Ratnadhaatamaggsvaha 


Agnih puurvebhirshribhiiDyo 

Nuutairuta sa devaa m eha 

Vakshanti svaaha 


Agninaa rayimashnavatposha meva 

Dive dive yashasam 

Viiravattamaggsvaahaa


Agne yam jaynyamadhvaram

Vishvatah paribhurasi sa 

Iideveshu gacchati svaahaa


Agnirhotaa kavikratuH 

Satyaahcitrashravastamah devo 

Devebhifaa gamat svaaha 


Yada Nga daashushe tyamagne 

Bhadram ka rishyasi 

Tavettatsatyama ngirassvaahaa 

 

Upa tvaagne divedive 

Doshaa vastardhiyaa vayam

Namo bharanta emasi svaaha 


RaajantamadhvaraaNaam 

Gopaamrtasya diidivim

Vardha maanaM sve dame svaaha


Sanah piteva suunave gne 

Suupaayano bhava 

Sacasvaa nah svastaye svaha 


 Om Vaiswanaro ya vidmahe

Laliyaya dhimahi 

Tannoh Agni Prachodayat 


 Agne naya supathaa rayee asman 

Vishwaani deva vayunnani vidwaan

Yuyodhyasmaj juhuraanam eno

Bhuuyisthaan te name uktiM vidhame 



Agni Pradiipanam , Penyalaan Api

Om Bhur Bhuwah Swah 


Agni Aadhaana , meletakkan Api

Om bhuur bhuwaH Svardyaurva bhuumnaa

Prthiviiva varimNaa / tasyaaste pRthivi

devayajani pRshthe 

Agnimannaadamannaadhyaayaadadhe// 


Agni samindhana, membesarkan mengipas 

Om udbudhasvaagne prati jaagRihi

TwamiShtaa puurte saM sRjethaamayaM ca

Vishvedevaa yajamaanashca siidata// 


Agni pratiShTha , peletakan Api 

Om Agnaye namah , aavahaayaami 

Sthaapayaami dhyaayaami 


Samidhaadhaana, persembahan 3 kayu dan ghee 

Om ayanta idhma aatmaa

Jaatavedastenedhasva vardasha ceddha

Vardhaya caasmaan prajayaa 

Pashubhirbrahmavarcasena annaadhyena

Samedhaya svahaa, Idam agnaye 

Jaatavedase idaM na mama// 


Om samidhaagniM duvasyata 

Ghrtairbodhayataatithim aasmin havyaa

Juhotana svaahaa / idam agnaye idam na mama// ( tanpa persembahan) 


Om susaamidhaya shociShe ghRaM 

TiivRMjuhotana / agnaye jaataavedase svaaha/ Idam agnaye jaatavedase Idam na Mama/ (persembahan kayu kedua) 


Om taM tvaa samidhbhiraMgrio ghRtena

Vardhaayaamasi bRhacchocaa yaviShThaya

Svahaa/ IdaM agnaye aMgirase IdaM na Mama// ( persembahan kayu ketiga) 


Panca GhRta Aahuti , 5 x persembahan ghee 

Om ayanta idhma aatmaa

Jaatavedastenedhasva vardasha ceddha

Vardhaya caasmaan prajayaa 

Pashubhirbrahmavarcasena annaadhyena

Samedhaya svahaa, Idam agnaye 

Jaatavedase idaM na mama// 


Jalaa Sin canam , pemercikan air 

Om aditenumanyasva

Om anumate numanyasva

Om sarasvate numayasva// 


Om deva savitaH prasuva yaj naM prasuva

Yaj napatiM bhagaaya / divyo gandharvaH

KetapuuH ketaM naH punaatu 

VaacaspatirvaacaM naH svadatu// 


Agni Aahuti, Persembahan Ghee 

Om agnaye svaahaa 

Idam agnaye idaM na Mama ( bag utara) 

Om Somaaya svaahaa 

IdaM somaaya IdaM na Mama //( bag Selatan) 

Om prajaapataye svahaa 

IdaM prajaapataye idaM na Mama ( tengah) 

Om Indraaya svaahaa 

IdaM indraaya idaM na Mama (tengah) 

Om bhuuragnaye svaahaa

IdaM agnaye idaM na mama/ 

Om bhuvarvaayave svaahaa 

IdaM vaayave idaM na Mama/

Om svaraadityaaya svaahaa

Idam adityaaya idam na mama

Om bhurbhuvaH 

SvaragnivaayvadityebhyaH svaahaa 

Idam agnivaayvaadityebhaH idam na Mama   


Om vishvaani deva savitur 

Duritaani paraasuva 

Yad bhadraM tannaasuva

Agne naya supathaa raye asmaan 

Vishwaani deva vayunaani vidwaan 

Yugodhyasmaj juhuraaNam eno 

BhuuyiShaan te nama uktiM vidhema// 

 

Pagi Hari 

Om suuryo jyotir jyotis suurya svaahaa

Omsuurya varco jyotir varcas svaahaa

Om jyotis suurya suryo jyotis svahaa // 

Om sajuur devena savitraa sajuruuShaa 

Sendra vatya juShaaNah suuryo vetu svaahaa// 

 

Untuk Sore Hari 

Om agnir jyotir jyotir agnis svaahaa 

Om agnir varco jyotir varcas svaahaa 

Om agnir jyotir jyotir agnis svaahaa  

Om sajur devena savitra sajuraa tryendra

Vatyaa / juShaaNo agnir vetu svaahaa// 


Mantra Ganesha (Mantra Prarthana) Dalam Pakem Veda mantra ini diucapkan setelah omkara 21X 

Om Sri Gurubyo namah Hari hara om 

Om Ganaanam Twaa Ganapatigum 

Havaamahe Kavim Kavinaam Upamashravastamam

Jyestharaajam Brahmaanam Brahmanashpata Aa nah 

Shrunanvannuutibhissda Saadanam

Prani Devi Saraswathi Vajebirvajinivati 

Dhinamavitrayavatu 

Ganeshayanamaha 

Saraswatyai namah

Sri Gurubyo Namaha Hari om 


Om Vakratunda mahaa kaaya 

Sooya koti samaprabha 

Nirvighnam kurumey deva 

Sarva kaaryeshu sarvadha 


Om Suklabharamdharam visnum 

Sasi varnam caturphujam 

Prasana vadhanam dhayet 

Sarva vignusprasanthaye 


Om gajaananam bhoota ganaadi sevitham 

Kapitha jambhoophala saara bhakshitam 

Umaa sutam shoka vinasha kaaranam 

Namaami vighneshvara paada pankajam  


Om eka dantha  ya vidmahe 

Vakratunda ya dhimahi 

Taanoh dhantih prachodayat 


Om Tak purusha ya vidmahe 

Vakratunda ya dhimahi 

Taanoh dhantih prachodayat 

Om vinayaka ya, eka dantaya , vakratunda ya, vhigneswara ya, brahmacharine ya om shreem hreem kleem glaum gam ganapathaye ya namah 


Mantra Penyucian 

Om Badhram Karhebhih Shrunhuyama Dhevaha 

Bhadram Pasyemakhsha Bhiryayathraha 

Sthirai Rangai Sthushtu vaagam sasthanuubhihi

Vyashema Dheva Hitham Yadhaayuhu

Svasthi na Indhro Vridhdhha Shravaaha 

Svasthi Nasthaarkshyo Arishtanemihi

Svasthi No Brahaspathir Dhadhhaathu


Mantra Perlindungan 

Om tachchhain yoraavR I niimahe

gaatuM YaGYaaya

Gaatum YaGYa patate 

Daivii swastirastu nah

Svastir Svastirastu naH

Svastir maanushhebhyaH

UurdhvaM jigaatu bheshhajam

Shan np astu dvipade

Shan chatushhpade 


Om saha naavavatu

Saha nau bhunaktu

Saha viiryaM kara vaavahai

Tejasvi naav adhiitam astu 

Maa vidvi shhaavahai 

Mantra Penyucian dgn Air 

Om Avavitraha Pavitro Va Sarva Vastam Gatopi Vaa

Yah Smaret Phudarikaksyam 

Sah Bhahya  Bhayantharaha Suchihi


Puja Pada Altar 

Svarna Mantapaaya Namah

Yoga Mantapayaa Namah 

Bhoga Mantapayaa Namah

Ratna Mantapayaa Namah

Vajra Mantapayaa Namah

Hemaprakarayaa Namah

Ratnasopanayaa Namah 

Suvarna Vedikaayai Namah 


Mantra Gayatri 

Om bhur om bhuvah om svah om mahah om janah om tapah om satyam 

Om tat savitur varenyam 

Bhargo devasa dhimahi 

Dhiyo yonah prachodayat 

Om apojyotir raso amritam brahma 

Om bhur bhuvah shwar om 

Om jatavedase sunaawama   soma maratiyato nidahaati vedah sa nah parsadati durgaani visva naveva sindhum duritaa’tyagnih 


Mantra Devi Durga, Pertiwi, Anapurna, Saraswati , Gangga

Katyayanayai Vidhame 

Khanyakumari ya Dhimahi 

Tannoh Durga Prachyodayat

Om Sarvamanggala Manggalhe 

Shive Sarvata Shadike

Sharaggha Trayambhaka Gaori 

Narayani Namostute

Om Samudra Vasane Devi 

ParwataStna Mandhite 

Visnu Pathi Namastubhyem 

Pada Sparsa Samasvame 

Om Namo samastha Bhudanam 

Duru duru pertiwi swaha 

Om pertiwi sarire dewi

Catur devi maha dewi 

Catur ashrama bhatari

Shivabumi mahasidhi

Ring purwening windusari

Shivapadmi putrayoni

Uma durge gangga gaori

Brahma bhatari waisnawi 

Mahesvari sang kumara 

Gayatri bhairavi gaori 

Arsa sidhi mahasvari 

Indrani camundi devi

ommmmmmmm

Om Anapurna Shadapurna 

Shangkara Pranavalabhe 

Jyana Vairagya Shidartam  

Bhikshandevi Cha Parvati 

Om Gangga cha Yamuna Shaiva Ghodavari Saraswhati 

Narmadha Shidu Kaveri Jalesmin Shadinin Kuru

Om Namasthe Saradha Dewi 

Khashmerera Pura Vaasini

Thvaamaham Praarthayen Nithyam 

Vidya Danamcha Dehima 

Namaste shaaradaa devi kaashmir pura vaasini

Twaamaham praarthaye nityam vidhyaa daanaam cha dehi me 


Mantra Shiva 

Om Mruthyumjaya Rudraya Neelakantaya Shambhawe

Amrutheshaaya Sharvaya <ahadevaya Te namah

Om Thiryambakam Yajamahe 

Sugandhim Pusthivardhanam

Orvaarukamiva Bhandhanat 

Mrythor Muksheya Maamrithath

Tat purusha ya vidmahe 

Mahadeva ya dhimahi 

Tannoh rudrah prachodayat 

Om purushavidma sahasravidmaye 

Mahadeva ya dhimahi 

Tannoh rudrah prachodayat 

Om pancavakra ya vidmahe 

Mahadewa ya dhimahi 

Tannoh sadhashiva pracodhayat 

Om mahadeva ya vidmahe 

Om mahadeva ya vidmahe 

Rudra Murtha ya dhimahi 

Tannoh shivah prachodayat 

Om mrithyomjaya rudraya 

nilakantaya shambave

amrutheshaya mahadeva ya te namah 

Om sai rama ya vidmahe 

Atma Rama  ya dhimahi 

Tannoh baba prachodayat  

Om sai ishvara ya vidmahe 

Satya deva ya dhimahi 

Tanah sarvah pracodayat 

Namaste astu bhagavan vishveshvaraaya mahaadevaaya 

Tryambakaaya Tripura antakaaya trikaalaagni kaalaaya kaala agni

Rudraaya niila kaNThaaya mRtyuJN jayaaya sarveshvaraaya sadda 

Shivaaya shriiman mahadevaaya namaH


Mantra Guru

Om Guru Bharma Guru Vhisnu

Guru Devo Mahesvhara 

Guru Saksat Parambhrahma 

Tatmei srigurave namah


Abhiseka Linggam  dengan Shivomatra 

Om Nidhana pataye namah 

Nidhana Pantaantikaya Namah

Uurdvaaya Namah

Uurdvaya Lingga ya namah

Hiranyaya namah

Hiranya Lingga Yan amah

Suvarna Ya Namah 

Suvarna Lingga Ya Namah

Divya Ya Namah

Divya Lingga Ya Namah

Bhava Ya Namah

Bhava Lingga Ya Namah

Sharva Ya Namah

Sharva Lingga ya Namah 

Shiva ya namah 

Shiva Linggam ya Namah 

Jvala ya Namah 

Jvala Lingga ya namah

Atma Ya Namah

Atma Lingga ya Namah

Paramaya namah ‘

Parama Lingga ya namah 

Etath Somasya Suryasya Sarvalingga Stapayati Panimantram Pavitram

Sadhyojataam Prapadhyami SAdhyo Jathaya Vai Namo Namah

Bhave Bhave Nathi Bhave Bhasvava maam,Bhavobhavaaya namah

Vamadhevayo namo Jyesthayanamo Shrestthaya Namo Rudraya Namah Kaalayanamah

Kalavikaranaaya namo  Bhalaavikarana ya namo Bhala ya namo Bhalaparamathanaya namas Sarvabhuta damanaya namo  Manomaya namah

Aghorebyo atha ghorebhyo Ghora Ghora Tharebhyaha Sarvebhya Sarva Sarvebhyo 

Namaethe Astu Rudra Rupebhyah 

Tat Purusha ya Vidhame Mahadevaya dhimahi Tannoh Rudrah Prachodhayat

Ishana Sarva vidhyanam Isharvaras Sarva Bhutaanam 

Bharma Adipathir Brahmano Brahma Shivo Me Astu Shada Shivo om 

Namo hiranyabahave hiranyavarnaya hiranyarupaya hiranyapataye’mbikapataya umaapataye pasupataye namo namah

Rtagm satyam param brahma purusam krsnapingalam uudhvaretam viruupaaksam visvavaruupaya vai namo namah 

Sarvo vai rudra stasmai rudraaya namo astu puruso vai rudra ssnmaho namo namaah 

Visvam bhuutam bhunanam citram bahudha jaatam jayamaanam ca yat sarvo hyesa rudra stasmai rudraaya namo astu

Kadrudaya pracetase midustamaaya tavyase  vocema satamagm hrde sarvo hyesa rudra stasmai rudraata namo astu 

Vishwanaathaashtakam 

Ganggaararanga ramaneeya jataa kalaapam 

Gauree nirantara vibhooshita vaamabhaagam 

Naaraayana priyamananga madaapahaaram 

Vaaraaanase purapatim bhaja vishvanaatham 

Vaachaama gocharam aneka gunaswaroopam 

Vegeesha Vishnu surasevita paadapeetham 

Vaamena vigraha varena kalatra vantam 

Vaaraaanase purapatim bhaja vishvanaatham 

Bhootaadhipam bhujaga bhooshana bhooshitaangam 

Vyaaghrajinaambharadharam jatilam trinetram 

Paashaankushaabhaya varaprada shoolapaanim   

Vaaraaanase purapatim bhaja vishvanaatham 

Sheetaamsushobhita kireeta varaaja maanam 

Phaalekshanaanala vishoshita panchabaanam 

Naagaadhipaa rachita bhaasura karnapooram 

Vaaraaanase purapatim bhaja vishvanaatham 

Panchaananam durita matta matangajaanaam 

Naagaantakam danuja pungava pannagaanaam 

Daavaanalam marana shoka jaraataveenaam 

Vaaraaanase purapatim bhaja vishvanaatham 

Tejomayam saguna nirgunam adviteeyam 

Ananda kandam aparaajitam aprameyam 

Nagaatmakam sakala niskalam aatmaroopam 

Vaaraaanase purapatim bhaja vishvanaatham 

Raagaadi dosha rahitam svajanaanu raagam

Vairaagya shaantinilayam girijaa sahaayam 

Maadhurya dhairya subhagam garalaabhiraamam 

Vaaraaanase purapatim bhaja vishvanaatham 

Aasham vihaaya  parithrutya parasya nidaam 

Paaperatim cha sunirvaarya manah samaadhau 

Aadhaaya hrutkamala madhyagatam paresham 

Vaaraaanase purapatim bhaja vishvanaatham 

Vaaraanaseepurapateh stavanam shivasya 

Vyaakhyaatam ashtakamidam pathate manushya 

Vidyaam shriyam soukhyam ananda keertim 

Sampraapya dehavilaye labhate cha moksham 

Vishvanaathaashtakam idam punyam 

Yah pathet shiva sannidhau 

Shiva lokam avaapnoti shivena saha modate 

Lingaasthakam 

Brahmamuraari suraarchita lingam 

Nirmala bhaashita shobita lingam 

Janmaja dukhah vinaashaka lingam 

Tat pranamaami sadaashiva lingam 

Devamunih pravaraarchita lingam 

Kaamadahana karunaakara lingam 

Raavana darpa vinaashaka lingam 

Tat pranamaami sadaashiva lingam 

Sarva sugandha sulepita lingam 

Buddhi vivardhana kaarana lingam 

Siddha suraasura vandita lingam 

Tat pranamaami sadaashiva lingam 

Kanaka mahaamani bhooshitam lingam

Phanipati veshtita shobhita lingam

Dakshasuyagna vinaashaka lingam

Tat pranamaami sadashiva lingam 

Kumkuma chandana lepita lingam 

Pangkaja haara sushobhita lingam 

Sanchita papa vinaashaka lingam 

Tat pranaami sadashiva lingam 

Deva ganaarchita sevita lingam

Bhaavair bhaktibhireva cha lingam 

Dinakara koti prabhaakara lingam 

Tat pranaami sadashiva lingam 

Ashtadalo pariveschita lingam 

Sarva samudbhava karana lingam 

Astha daridra vinaashaka lingam 

Tat pranaami sadashiva lingam 

Suraguru suravara phoojita lingam 

Suravana puspha sadaarchita lingam 

Paramapadam paramaatmaka linggam  

Tat pranaami sadashiva lingam 

Lingasthakam idam punyam yah pathet shiva sannidhau 

Shivalokam avaapnoti shivena saha modate 


Mantra Agni 

Om Agnaye Svaha Agnaye Idam Namama 

Prajaphatayai Svaha Prajaphatya idam na mamah  (Sore hari-malam) 

Om Suryaya svaha Surya ya Idam Namama h

Prajaphatayai  Svaha Praphatayai idam namaha (pagi hari –siang) 

Om Agne Naya Supatha Raya Asman 

Visvani Devo Vayunani Vidhwam 

Juyoyashmad Juharanam Eno 

BhusyistahanNamo Uktim Vhidhema

Om Vaivanaroya Vhidmahe 

Lalilaya Dhimahi 

Tannoh Agni Prachodayat 

Om Pranaya Svaha Apanaya Svaha Vyanaya Svaha Samanaya Svaha Udayana svaha Brahmanaya Svaha 


Mantra Mantra Pasepan Sembari Mengucapkan Svaha saat Mempersembahkan Samagri  

Gayatri Mantram 

Om Bhur Bhuvah Swah 

Tat Savitur Varenyam 

Bhargo Devasho Dhimani 
Dhiyo Yonah Prachodayat  (bisa 108x3, 108x 5, 108x11)   


Mantra Ganesha 

Om eka Dhantaya Vidmahe 

Vakratunda ya Dhimahi 

Tannoh Dhanti Praschodayat  (108x1) 

Om Gam Ganapathaya namah  (108x1)

Om Shreem Hreem Klim Glaum Gam Gam Ganapathaya Namah (108x1) 


Mantra Durga , Mahakala, Kali 

Om Kathayani Ya Dhimahi 

Kanyakumari Ya Dhimahi 

Tannoh Durga Praschodayat 

Om Hreem DumDurgaya Namah (108x1) 

Om kala kala ya vidmahe 

Kalatethaya dhimahi 

Tannoh kala bhairavah prachodayat 

Om kalakyaiya vidmahe 

Smansavasiyae dhimahi 

Tannah agorah prachodayat 


Mantra Laksmi 

Om Mahalaksmiyai cha Vidmahi 

Vishnupatnyai cha Dhimahi 

Tannoh Laksmi Prascodayat (108x1) 


Mantra Shiva

Om Mahadevaya Vidmahi

Rudra Murtaya Dhinami 

Tannah Shiva Praschodayat (108x1) 


Mantra Ihswara

Om Saisvaraya Vidhmahe 

Satya Deva Dhimani 

Tannah Sarvah Praschodayat (108x1) 

Om Namo Narayana (108x1) 

Om Namah Shivaya (108x1) 

Om sairama yavidmahe 

Atma rama ya dhimahi 

Tannoh Sai Baba prascodhayat

Om Sri Mahalaksmi Narayana  ya namah 108x

Om hreem dum durga ya shiva sadha shiva pramashiva ya namah 108x


Mantra Persembahan

Om Brhamarpanam Brahmahavir 

Brahmanau Brahma anahutam 

Brahmevatena Gantavhyam 

Brahma Karma Samadhina (3x) 

Aham Vaivanaro Bhutwa 

Praninam Deham Asritaham 

Pranapana Samayuktaha 

Praninam Deham Asrhitaham (1x) 


Mantra Melengkapi Kekurangan Pada Prosesi Api Suci Homa 

Om Tad Brahma Tad Vayu Tad Atma Tat Satyam Tat Sarwan Tat Purushornam antasarati  bhutesu guhayam vismamurtisu twam yadnya twam waksyatkara twam Wisnu Twam Brahma Twan Indro Twam Prajapitihi Twan sat sad nityam 


Mantra Penyempurna 

Om Purnam Madam Purnam Idam 

Purnam Purnam Mudyashyate 

Purnashya Purnamadhaya

 Purna Meva Vhasisyathe 

Ksama Prarthana 


(Tujuannya, mohon Maaf atas kesalahan metrum, guru lagu mantra dan lain lain)

Yadaksharapradabhastam Mantrahinam Tu Yad Bhavet/Tatsarvam Ksayatham Devan Narayana Namostute 

Visargabhindumathani Padaphada ksarani ca Nyunani Ksitikstani Ksamasva Saisvara//

Aparaha Sahasrani Kriyanthe Harnisyam Maya Dasho Yamiti Mam Matva Ksamasva Saisvara//

Anyata Sharanam Nasti Tvameva Saranam Mama 

Tasmat Karuna Bhavena Raksa Raksa Saisvara//

Meditasi sekitar 10-15 menit Setelah itu : 

Asatho ma sad gamaya 

Tamasho ma jyotir gamaya 

Mrityor ma amritam gamaya 

Samastha loka sukino bhawanthu 3x 


Arathi/Penutup 

Om Jay Jaghadhiisya Hare 

Swami Satya Sai Hare

Bhaktajana Samrakshaka 

Parthi Mahesvhara 

Om Jay Jaghatdhisya Hare

Shashevadhana Shreekara 

Sarva Pranaphathe 

Swami Sarva Pranaphataye 

Ashirtha Kalphalatheka  2x

Apadhavandhava 

Om Jay Jaghtdisya Hare

Matha Phita guru Dhaiva 

Mariyanthayu Neevey

Swami Mariyanthayu Neevey

Nadhabrahma Jagatnhata 2x

Nagendrasyayana 

Om Jay Jaghatdhisya Hare 

Omkaara Rupa Ojaswi 

Om Sai Mahadeva 

Satya Sai Mahadeva 

Manggala Arathi Anduko 

Manggala Arathi Anduko 

Mandaragiri Dhari 

Om Jay Jahattdidasya Hare 

Narayana Narayana Om Satya 

Narayana Narayana Narayana Om 

Narayana Narayana om Satya 

Narayana Narayana Om 

Satya Narayana Narayana om 

Om Jay Sad Guru Deva 


Arathi Shiva 

Om jay shiva omkara jaya shiva om kara

Brahmaa visnu sadaassiva , ardhaangii dhaaraa

Om jay shiva omkara

Ekaanana caturaanana pancaana raaje

Hamsaanana garudaasana brsavaahana saaje

Om jay shiva omkara

Do bhuja caara caturbhuja dasa bhuja te sohe

Tiinon ruupa nirakhataa tribhuvana jana mohe

Om jay shiva omakara

Aksamaala vanamaala mundamaalaa dhaari

Candana mrgamada sohe bhole subhakaari 

Om Jay shiva omkara

Swetaambara piitaambara baghambara ange

Sankaadika brahmaadika bhutaadika sange

Om jay shiva omkara

Kara ke Madhya kamandala cakra trisuula dhartaa

Jagakartaa jagabhartaa jagapaalanakartaa

Om jay shiva omkara

Brahmaa visnu sadasiva jaanata avivekaa

Pranavaaksara ke madhye ye tiinon ekaa

Om jay shiva omkara

Triguna sivaaji kii aaratii jo koii nara gaave 

Kahata siivananda swami manavaanchita phala pave 


Sarve sukhino bhawanthu 
Sarve shantu niramaya 

Sarve bhadra nipashantu 

Ma kascit dukha bag bhawet 


Meditasi 

Ashato Mantra 

Ashato ma sad gamaya 

Thamaso ma jyotir gamaya 

Mrityor ma amhritam gamaya  3x

Samastha loka sukhino bhawantu 3x


Mantra Shanti 

Om Dayuh Shanti Antariksam Shanti Pertiwi Shanti Apaha Shanti Osadhayah Shanti Vanapastaya Shanti Visvedheva Shanti Brahma Shanti Sarvam Shanti Shanti Eva Shanti Sama Shanti Edii Om Shanti Shanti Shanti.  


Mantra Pengundang   Tuhan, Dewa, Orang Suci  

Na karma Naa na prajayaa dhane na tyaag e naike amRutatva-m aa nashuH

PareNa naakaM nihitaM guh aa yaaM

Vibhraahadetadyatayo vishanti

vedaantaviJnyaana suni shcitaartha ssaMnyaasa 

yogadddyatayashshuddhasattva aH  te brahmaloketu para a yashhuddhasattvaaH 

te brahmaloketu para a ntakkale 

paraamRtaatparimucyanti sarvee //

dahraM vipaapaM parame shmabhuutaM

yatpuNDarikaM purama  dhyasaggstham

tatraapi dahraM gagamaM vishokastasmin 

yadantasta dup aa sitavyam//

yo vedaadau svaraH prokto vedaante capratiShThtaH//

tasya prakRitilinasya yaH parassa maheshvaraH  



Galungan Menuju Paramartha Penyatuan Omkara - Shivatma

Oleh Acharya Rishi Sadhu Giriramananda 


Hari Galungan , adalah pujawali  umat Hindu Bali - Nusantara. Hari suci itu  berulang enam bulan Bali atau setiap 210 hari. Hari H Galungan itu merupakan pertemuan antara  , sapta wara , panca wara dan pawukon, Budha, Kliwon Wuku Dungulan. Kata Galungan berasal dari Bahasa Jawa Kuno , yang artinya bertarung atau menang. Galungan juga berasal dari Dungulan juga artinya menang. Mengacu pada Lontar Purana Bali Dwipa, pertama kali dirayakan pada Purnama Kapat , Budha,  Kliwon Dungulan tanggal 15 dan tahun saka 804 atau Tahun Masehi 882. Kenapa Galungan itu dipersepsikan sebagai “kemangan” Dharma mengatasi Adharma?. Sangat perlu substansi Galungan - Kuningan, dimaknai menuju Paramartha, capaian kebijaksanaan dengan kesadaran kemurnian luhur. 


Mayadenawa Vs Dewa Indra 

 Cerita di Bali dahulu  kala  sempat berkuasa Raja  lalim dan juga kejam. Raja itu bernama Maya Denawa. Sayangnya Raja yang menerima anugerah Bethara Shiva itu tidak menjalankan swadharma sebagai raja yang baik. Kisah Mayadenawa itu, dimuat di lontar  khusus   namanya “Lontar Mayadanawantaka” Ceritanya, pada  zaman purba, hiduplah Bhagawan Daksa Prajapati. Beliau mempunyai anak putri yang bernama Dewi Danu. Putrinya itu menikah dengan Bhagawan Kasyapa. Perkawinan Putri Danu dan Kasyapa itu,  melahirkan putra tunggal bernama Mayadenawa. Mayadenawa ini berhasrat menguasai dunia. Karena demikian tinggi cita citanya, ia pun kemudian pergi  bertapa ke Gunung suci. Tujuannya  agar mendapat berkah Shiva Mahadewa. Tapasya yang keras dari Mayadenawa membuat Shiva berkenan. Selanjutnya, menganugerahkan kesaktian sekaligus juga daerah kekuasaan kepada Mayadenawa. Jadilah, daerah Makasar, Sumbawa, Bugis, Sasak, Blambangan dan Bali daerah  teritorialnya. Setelah Mayadenawa berkuasa, mulailah bala tentara daityanya mengatur pemerintahan kerajaan itu. Dengan anugerah kekuasaan yang tiada batas itu,  dia akhirnya mabuk kekuasaan. Dilarangnya rakyat Bali ke Besakih dan memuja Hyang Widhi, Dan diarahkan rakyat agar memuja dirinya. Karena dialah Dewa yang patut disembah. Mayadenawa sendiri bukan saja mencela dewa dewa, juga rakyat Bali tidak diperkenankan  menghaturkan sesajen untuk para dewa, kahyangan juga dirusaknya. Dalam keadaan demikian Sang Hyang Pashpati pergi ke sorga meminta  bantuan Dewa  Indra. Raja Paradewa itu setuju. Akhirnya,  dengan persenjataan dan tentara  kuat  dipersiapkan, untuk membinasakan Raja lalim Mayadenawa. Dewa Indra pun dibantu dua panglima utama Citrasena dan Citragadha yang menyerang dari sayap kanan Puri Mayadenawa yang mendirikan bentengnya di Bedahulu. Serangan dari sektor induk dari tengah tengah dipimpin langsung Dewa Indra sendiri dengan dibantu para Gendarwa. Untuk menyelidiki suasana Puri Mayadenawa itu diutus Bhagawan Naradha. Walau dilakukan diam diam oleh para dewa, namun serangan  itu sudah diketahui Mayadewa yang memang memiliki kesaktian mandraguna, setelah Para Dewa, siap siap, justru si  Gelabong yang merupakan Patih Mayadenawa itu menyerang lebih dulu pasukan Dewa dewa. Terjadilah pertempuran sangat sengit dan dashyat. Ternyata tentara para dewa lebih unggul dalam peperangan antara sura dan asura itu. Namun dengan kesaktiannya, Mayadewa mesalin rupa/  berubah wujud , kadang menjadi buah nangka, widyadara, daun kelapa bahkan ayam jantan yang besar. Pernah menjadi sebuah Desa yang luas. Seperti Desa Manukaya dan Sawubhatu. Karena bala tentaranya banyak mati, pada suatu malam dia melakukan geranasika, barang siapa meminum air atau mandi maka  akan jadi sakit bahkan menemui ajalnya. Banyak dewa yang meminum air dan mandi air beracun itu akhirnya memang mangkat. Dalam kesedihan yang mendalam Dewa Indra bantuan Bhagawan Naradha, Rishi rishi Shiwa, dan Sogata termasuk Bhujangga membacakan Weda Weda untuk menatralisir pengaruh racun dari Mayadenawa. Namun tetap gagal, akhirnya Mahadewa memberikan anugerah kepada Dewa Indra untuk menciptakan mata air suci yang kemudian disebut Tirta Mpul untuk menghidupkan para dewa dewa yang mangkat itu. Setelah itu pengejaran kepada Mayadenawa yang lari bersama patihnya Kelabong terus dilakukan . Namun Mayadenawa bersama patihnya terus bisa menghindar, sebab sasat sudah kepepet Mayadenawa akan berubah wujud  yakni menjadi ayam jago, padi dan terakhir menjadi batu besar. Kemudian bethara Indra yang sudah tahu siasat Mayadenawa itu, memanah batu besar itu dengan vajra, setelah itu hancurlah Mayadenawa termasuk  patihnya Kelabong itu. Dari batu itu keluarlah darah yang kemudian darah itu mengalir menjadi  sungai Petanu. Karena merupakan air dari darah Mayadenawa, rakyat kemudian masih menghubungkan dengan racun dan air yang tidak punya berkah, karena itu air sungai Petanu itu juga tidak digunakan untuk mengairi sawah, termasuk mandi apalagi diminum. Sedangkan, Mata air suci Tirtampul yang menghidupkan para dewa itu dengan cara  para dewa itu disirami - dilukat . Sejak itu Tirtampul dipandang sebagai kelebutan mata air suci masyarakat Bali. Air itu kemudian mengalir menjadi sungai Pakerisan. 

Cerita itu mendasari Galungan. Ada suatu pertempuran ekternal pihak Darma melawan Adharma. Kelompok Sura melawan Asura. Itu kisah  sebagai gambaran memotivasi para bhakta. 


Perang Dalam Diri ... 

Perang memang selalu ada setiap saat , momen. Tidak hanya perang eksternal  yang selalu menjadi bagian tidak terpisahkan  “perang  dalam diri” itu. Perang menghadapi Dasendria, melawan Sadripu, perang melawan kehidupan zaman now. Akan halnya moment Galungan, diwarnai tekanan Sang Kala Tiga, yakni Sang Bhuta Galungan yang hadir pada saat hari Minggu saat Penyekeban. Keseeokan harinya saat Penyajahan muncul Sang Bhuta Dungulan. Berturut turut tiga hari dan saat Penampahan adalah Sang Bhuta Amangkurat. Namun saat itu juga ada  Saktinya  Shiva, Ibu Durga. Pastinya Ibu Durga  memberikan efek meningkatkan atmosfer vibrasi yang jauh lebih tinggi. Sehingga sangat kuat resistensi ekternal saat itu. Jika tahu dan mampu mengakses Ibu Durga, maka kekuatan lah yang diperoleh dari anugerah cinta kasih saktinya Shiva yang juga dipuja kaum pengiwa itu. Karena itu, warga bisa  lebih tenang malah dapat anugerah menetralisir pengaruh Kala tiga dengan memuja Durga dan beryoga - istilahkan tapa, brata, yoga dyana - semadhi. Namun hanya kalangan tertentu , dan bisa dihitung dengan jari yang bershadana strike itu. Kaum awan dengan rasa bhaktinya, mempersembahkan upakara sampian Candigaan, untuk memuja Durga agar situasinya netral. Candigaan itu berasal dari kata Chandika,  nama lain dari Durga Sendiri. Selain memuja Ibu Durga . Dengan ngamet kekuatan Durga  memperoleh energi menentramkan Sang Kala Tiga. Dengan mantra sederhana   : om Sarwa mangala manggale shiva sarvatra shadike sharangga tryambakangauri narayani namostute. Om jayanti manggala kali kapaline durga ksmashivadatri svaha svada namostute . Bisa juga mantra lainnya Om Catur Dewa Maha Sakti , Catur Ashrama Bhatari, Shiva Jagatpathi  Dewi , Durga Sarira Dewi. 

Seperti itu lah antara  lain shadana ideal dilakukan untuk mendapatkan anugerah saat Galungan itu. 


Anugrah  Bhatin Suci Galungan

Menurut Lontar Jaya Kasunu, Hyang Widhi selain menguji dengan Sang Kali Tiga juga Durga memberikan anugerah. 

Pemujaan saat Galungan itu mendapatkan anugrah: Kekuatan Sradha dan juga Kesucian Bhatin. Nah untuk menghilangkan kekuatan / pengaruh buruk itu harus dengan komitmen ekstra keras melakukan tapa brata yoga dyana -samadhi masing masing. Lumrahnya di Bali mengekplorasi ajaran Shiva yang disebut  Shiva Shidanta. Dalam skema pusat centre of universe di posisi nadir dan zenith secara vertikal Tri Purusha - Shiva, Sadhashiva dan Paramashiva yang bersifat nirguna. Dalam Padma Asta Dala posisi cetrum adalah Sadhashiva aksara ya, ada di tengah senjata Padma. Sedangka di Timur adalah Sa saktinya Uma senjata Vajra, Selatan Ba , Saraswati , Gada/ Angkus. Di Barat Ta adalah Mahadewa saktinya Satidewi dengan senjata Nagapasha, di utara Wisnu , A saksi Sri senjata Cakra. Lima aksara Sa Ba Ta A I disebut Pancabrahma. Sedangkan Na Ma Si Va Ya adalan Pancaaksara, yakni Na di Tenggara / Maheswara/ Laksmi/ Dupa, sedangkan Barat Daya Ma Rudra / Chamundi / Moshala, Barat Laut / Si Sangkara, Raudri adalah Angkus. Timur laut Va Shambu , Mahadewi dengan senjata Trisula. Demikian salah satu shadana dalam ngamet kesucian bhatin saat Galungan, dengan cara ngerangsukan  mentransformasikan Dasaksara yang terdiri Pancabrahma dengan Pancaaksara dan satu lagi Sadhashiva untuk melengkapi menjadi Eka Dasa Rudra. 


Ganapathi Tatwa

Dan bisa juga menggunakan referensi Lontar Kadayatmikan  Ganapathi Tatwa. Pada Lontar Ini Shiva Iswara mengupas Jnanaagni kepada putra kedunya Hyang Ganapathi. Sesuai lontar ini skema makrokosmosnya adalah Sadhashiva di tengah, Ishwara di timur, Brahma di selatan, namun di Barat adalah Rudra dan di utara Wisnu. Hanya di Barat berbeda dalam Padma Asta Dala di barat adalah Mahadewa.  Dalam Ganapathi Tatwa juga selain diuraikan mekanisme ciptaan juga dibedah dewa dewa di dalam tubuh manawa. Brahma di posisi Muladara dengan omkara sebagai tenaga wayunya. Wisnu disebut berada di pusat nabi atau pusar  hingga berhubungan dengan lidah. Rudra di hati, Ishwara di tenggorokan dan Sadashiva di ujung lidah yang dipercaya menguasai segala  pengetahuan. Muladhara itu berada di antara dubur dan lubang kelamin. Berwarna aruna kemerahan , segi empat ada di dalam bunga seroja itu ada mutiara ada seperti tatit . Nah di dalam mutiara seperti tatit itu lah Omkara. Omkara itulah sumbernya tenaga wayu / prana terus sampai ke atas shivadwara. Itulah poros kundalini . Kemudian siwadwara terus turun ke hidung, ujung lidah, kerongkonga dan kemudian terpisah di hati. 12 jari di atas Muladara adalah pusar/ nabi di tengah matahari yang baru terbit itulah “Amertha” tempat penggantungan usus dan dubur. Di atas pusat nadhi 8 jari itulah Hati terselubung seperti api. Di dalamnya ada sinar  Matahari. Sejauh 12 jari di atas Hati adalah Kerongkongan ada teratai putih seperti intan. Sedangkan  berjarak 12 jari adalah ujung lidah di dalamnya ada mutiara suci di tengahnya sorga niskala. Munculnya perpaduan itu berdasarkan hal Gaib Rupa Suksma. Jiwa Atma itu berada di sperma maskulin / cukla yang keluar dari tubuh wanita yang dilahirkan dari Omkara. Jenis cukla wanita bersifat - laki laki wanita - masculin feminim diselubungi Omkara hingga menjadi Suksma rupa yang juga disebabkan om kara itu.  Kemudian setelah sebulan jadi mpehan, getih, tiga bulan telur butiran. Empat bulan telur itu menjadi Shivalingga berlubang yang ditengahnya berisi omkara dan suksma rupa. Shivalingga dalam lima bulan menjadi mayareka. Enam bulan mayareka menjadi Agni, dalam delapan bulan muncul Uswasa juga berasal dari Omkara. 


Shivalingga

Shivalingga , Shiva disebut omkara, Lingga dimaksud Sukla sperma maskulin - feminim , sama sama lekat berkaitan dengan Shiva dan Lingga. Setelah tiba 10 bulan Sunya lahirlah Nirmana hilangkah Nirmana muncul jiwa kemudian Atma. Hilang Atma kembali ke Jiwa, hilang Jiwa kembali ke Nirwan ke Sunya, Sunya Rupa kemudian Sang Hyang Ngamut Mega kemudian kembali ke intisari kegaiban Niskala. Yang dimaksud puncaknya Angkasa adalah Lingga Nada  yang berhubungan tunggal , gaib rahasia  berkoneksi dengan Purusha. Apabila tiba saatnya kematian  akan muncul di nabi bagaikan asap yang disebut Sang Hyang Shivatma. Kemudian asap itu pindah dari Shivamandala, Shivaloka atau Alam Shiva. Alam Shiva itu berbahagia alias anandam  tanpa kembali sengsara. Itulah yang dimaksud Shivamandala dan ada lagi disebut Sang Hyang Pancaatma yakni Atma, Paramatma, Antaratma, Niratma dan Sunyatma itu semua bertunggalan dengan Sang Hyang Shivatma. Sang Hyang Shivatma, membuka hubungan ke ubun ubun ke Dwasangula. Jika shadana dilakukan di atas atas inspirasi substansi Galungan dan Kuningan dilakukan dengan kesadaran atma , omkara , shivalingga dengan intensif, sistematis, terstruktur didasari totalitas murni, maka hakekat keparamarthaan pasti tercapai. 

Demikian catatan ringan dari berbagai sumber Acharya Rishi Sadhu Giriramananda. Klungkung Semarapura, Kirang langkung nunas Ampure. Om Tat Sat Asthu Om Kham Brah Esa Paramashivastah 🙏👍🕉💐👍🙏🙏🙏🙏🕉💐👍🙏🙏🙏



Baca Veda, Sel Kanker Mati



Kompilasi Acharya Rishi Sadhu Giriramananda 




Dalam hal ini yang dimaksud adalah   Catur  Veda  ( Reg Veda, Yayur Veda , Sama Veda, Atharwa Veda) 

Om namah Shiva ya, Har Har Mahadewa ya , Omkara ya namah. Mengacu pada  Weda, disebut ada empat jenis pemujaan. 1. Paaraayana, 2. Japa, 3. Abhiseka, dan 4. Homa. Paaraayana, adalah pemujaan dengan cara melantunkan mantra , tanpa sarana lain. Japa, adalah Parayana, yang dilakukan dengan berulang ulang dengan alat bantu japa, tanpa japan disebut ajapa-japa. Abhiseka, pemujaan terhadap Archa/ Murthi, dengan sarana tertentu - panca amritam termasuk tirta. Homa, pemuja terhadap Api,?-ataupun Dewa Agni itu sendiri, sebagai media menuju Brahman atau Ista Dewata yang lain. 

Bukti-bukti ilmiah Veda sudah nampak di akhir zaman ini. Kesidhiann Veda sudah diketahui dunia saat ini. Hal itu, membuat mereka para saintific terpesona atas keilmiahan dan kesiddhian Veda  tersebut.

Prof. Dr. dr Suzane moore PhD telah merilis melaui  journalnya, ia mengatakan sebuah kitab yg menakjubkan karena dapat dibuktikan  kesiddhian Veda dalam riserchnya, ia telah memperlihatkan bagaimana Veda merupakan sebuah obat bagi penyakit manusia.

Suara yang keluar dari Veda yang Dharma Gita kan seseorang akan melayang ke udara. Energi suara itu  kemudian masuk melewati telinga. Dan seterusnya divine energi itu di serap oleh tubuh. Selanjutnya  ia masuk ke sel-sel yang ada dalam tubuh kita. Suara yang terdengar dengan  irama dan frekuensi tertentu itu  mengandung informasi spesifik. Implikasi suara itu   dapat memberi rangsangan kepada sel-sel dalam tubuh kita.

Veda yang tersusun secara sistematik dengan irama yang indah apalagi ketika  dibaca  mengikuti Guru laghunya. Pengulangan mantra Weda itu sungguh menakjubkan karena ia membuat sel-sel  tubuh kita memiliki divinity power, bisa melawan penyakit-penyakit yang berbahaya. Dengan irama  yang menyentuh, ternyata mengandung informasi spesifik pada setiap mantra- mantra Weda itu. Nah ..  informasi yang spesifik ini bisa membuat sel-sel yang sakit menjadi sembuh kembali. 

Hasil penelitian terkini seperti  diungkapkan Prof. Dr. dr. Abraham nicole PhD, bahwa sel-sel darah merah yang telah dibacakan mantra- mantra  Veda dengan bacaan yang pelan. Artinya   bacaan yang indah dengan memakai pariring reng sruthi dan guru laghu, serta mengerti arti mantram tersebut, ia memperlihatkan respon tertentu. Sehingga sel-sel kanker pun bunuh diri. Bahkan virus auto imunpun lenyap. Itu dibuktikan dari  hasil penelitian Prof. Dr. dr Victor Iron PhD USA

Atas desakan divine power itu, mengakibatkan  sel-sel kanker pun bunuh diri. Bahkan virus auto imunpun lenyap. Itu terbukti  dari hasil penelitian Prof. Dr. dr Victor Iron PhD USA

Penelitian lainnya membuktikan  sel-sel kanker ganas menjadi normal kembali dengan bacaan mantra- mantra Veda .

Penelitian itu juga  mendeskripsikan  media yang paling baik untuk informasi Veda adalah Air putih, Madu, minyak genitri /tulasi, air Gangga/ Yamuna dan makanan alami yang sangat banyak ragamnya di dunia ini, ia bisa menjadi media informasi gelombang energi dari sebuah bacaan Veda.


Inilah Manfaat Membaca Veda bagi Kesehatan

Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan mantra suci Veda, baik mereka yg mengerti bahasa Sansekerta atau tidak, ternyata memberikan perubahan fisiologis yang sangat besar. Termasuk salah satunya dapat menangkal berbagai macam penyakit.

Hal itu juga  dikuatkan lagi Penemuan M. Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.

Mengapa di dalam Hindu, ketika kita membaca Veda disarankan untuk bersuara? Minimal untuk diri sendiri alias terdengar oleh telinga kita. Tujuannya adalah: 

Setiap sel di dalam tubuh kita bergetar di dalam sebuah sistem yang seksama, dan perubahan sekecil apapun dalam getaran ini akan menimbulkan potensi penyakit di berbagai bagian tubuh. Umumnya orang Bali mengatakan bahwa  jiwanya lebih Wise/sabar karena secara tidak langsung sejak bayi dalam kandungan sudah terbiasa mendengarkan mantram- mantram Suci Veda ( Bhs Sanskerta), suara gamelan, suara kul kul, suara genta dan kidung2 Suci atau disebut dg Panca Gita.

Nah... Sel-sel yang rusak ini harus digetarkan kembali untuk mengembalikan keseimbangannya.

Hal tersebut artinya harus dengan suara. Maka munculah TERAPI SUARA yang ditemukan Dr. Alfred Tomatis, seorang dokter di Perancis.

Membaca Veda  dengan Bersuara, Memberikan pengaruh  luar biasa terhadap sel-sel otak untuk mengembalikan keseimbangannya.

Penelitian berikutnya membuktikan Sel Kanker dapat hancur dengan menggunakan FREKUENSI SUARA saja.

Dan kembali terbukti bahwa, Membaca VEDA memiliki dampak hebat dalam proses penyembuhan penyakit sekaliber kanker.

Virus dan kuman berhenti bergetar saat dibacakan Mantra Veda, dan di saat yang sama , sel-sel sehat menjadi aktif.

Mengembalikan keseimbangan program yang terganggu tadi. 

Dan yang lebih menguatkan supaya diri ini semakin rajin dan giat membaca Veda adalah karena menurut survey :

Suara yang paling memiliki pengaruh kuat terhadap sel sel tubuh, adalah suara pemilik tubuh itu sendiri. Maksudnya, si pengucap itu sendiri.  

Mengapa Sembahyang Bersama lebih di anjurkan dalam kontek Positif?  Karena ketika doa - doa yang dilantunkan dengan keras, sehingga terdengar oleh telinga, nah hal itu  bisa mengembalikan sistem sel yang seharian rusak.

Mengapa dalam Veda mendengarkan lagu hingar bingar tidak dianjurkan?

Karena survey membuktikan,  getaran suara hingar bingar membuat tubuh tidak seimbang.

Maka kesimpulannya adalah :

  1. Bacalah VEDA di pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk mengembalikan sistem tubuh kembali normal.
  2. Kurangi mendengarkan musik hingar bingar, ganti saja dengan murotal yang jelas-jelas memberikan efek menyembuhkan. Siapa tahu kita punya potensi terkena kanker, tapi karena rajin mendengarkan murotal (melantunkan veda yang tepat, guru laghu dan yg lbh afdol mengerti arti bhs mantram yg diucapkan akan memberikan vibrasi/ reng di angkus prana), penyakit tersebut bisa hancur sebelum terdeteksi.
  3. Perbaiki baca Veda (baca dengan guru laghu, penuhi vibrasi/reng), karena efek suara kita sendirilah yang paling dahsyat dalam penyembuhan.

Dengan hanya Dharma Gita yang baik dan guru lagu dan vibrasi yang tepat maka kesehatanmu akan terjaga. 


Atasi  Corona Virus Desease (Covid-19) 

Mohon Anugerah  Rudra Selaku  “Dokter Kosmis” 

Om namah Shiva ya, Har Har Mahadewa ya. Bisa jadi banyak yang kurang percaya, Tuhan sebagai Rudra  juga sangat mumpuni menaklukkan Covid-19 itu alias  Corona Virus Desease. Anugerah kasih Rudra, sebetulnya multip dalam upaya  melindungi umat manusia. Bahkan salah satu berkah khusus sebagai  pemberi obat ,  karena itu disebut sebagai  “Dokter Kosmis ” . Sepertinya ditengah  situasi   tak kondusif  yang ditandai  masifnya  penyebaran virus  Covid -19 . Malah WHO  sudah mengkategorikan sebagai Pandemi akibat  Covid 19 itu  telah tersebar di seluruh   dunia, dengan   merenggut  nyawa manusia dimana mana. Maka selayaknya sebagai  manawa,  “makluk dengan evolusi tertinggi  yang tidak lepas dari “Doa”  pada situasi post mayore  ini, kita dengan penuh kesadaran , ketulusan  harus menguatkan doa doa kita kepada Rudra, Tuhan yang juga berperan sebagai Dokter Kosmis. Kiranya, Doa yang pas dapat dibaca pada Sumber Reg Weda, Mandala II Sukta 33 -34  Pada Mantra : III, IV, VI, VII, VIII, IX, XI, XII, XIV selain itu juga pada Krishna Yayur Weda , Taithirya Aranyaka.  III.  

Srestho jatasya Rudra sriyasi Tavastamas tavasam vajrabaaho/ Parsi nah paaram amhasah svasti visva abhiti rapaso yuyodhi// 

(Wahai Rudra, Dokter Kosmis dalam kemuliaan teragung diantara yang lahir. Rudra, yang paling perkasa diantara yang perkasa, sebagai penyandang keadilan. Semoga Rudra membawa kami dengan selamat  mengatasi bahaya. Singkirkanlah dari kami segenap serangan dalam wujud kekerasan fisik)

IV. Maa tvaa Rudra cukrudhaama namobhir maa dustutii vsabha maa sahuuti/ Un no viiraam arpaya bhesajebhir bhisaktamam tvaa bhisajam srnpmi //   

(Semoga kami tidak pernah menghasut Rudra / Dokter Kosmis, pencurah keberuntungan. Dengan doa kami yang kurang sempurna tidak pernah digubah dengan buruk. Semoga Engkau Rudra, memperkuat Putra putra dan Para Pahlawan kami dengan Obat Penyembuhan. Oh Rudra, kami mendengar engkau menjadi sangat berwenang diantara Para Dokter. )

VI. Un maa mamanda vrsabho marutvaan tvaksiiyasaa naadhamaanam ghrniiva cchaayaam arapaa asiiya vivaaseyam Rudrasya sumnam// 

(Rudra , sebagai pencurah keberuntungan dengan prinsip vitalitas telah memenuhi kami sebagai pencari anugrah Mu. Dengan kegembiraan oh Rudra telah memberi kami makanan yang menyegarkan. Setelah bebas dari kekerasan semoga kami didamaikan oh Rudra. Kami sangat bahagia sebagai manusia yang menderita kepanasan diselamatkan dalam keteduhan. 

VII . Kva sya te Rudra mrlayaakur hasto yo asti bhesajo jalaasah/ Apabhartaa rapaso daivyasyaabhii nu maa vrsabha caksamiithaah// 

(Wahai Dokter Kosmis Rudra, dimanakah tangan pemurahMu yang menyembuhkan, mengobati dan memberi kenyamanan itu. Wahai Rudra, pencurah keberuntungan semoga bermurah hati kepada kami. 

 VIII. Pra babhrave vraabhaaya svitice maho mahiim sustutim iirayaamii/ namasyaa kalmaliikinam namobhir grniimasi tvesam Rudrasya naama//

(Kami menyampaikan doa pujian yang sungguh  sungguh kepada Rudra, sebagai pencurah keberuntungan dan berkelakuan penyenangkan. Dengan pakaian mulus penghormatan kami tujukan kepada yang Maha Cemerlang. Kami memuliakan Rudra, sebagai Dokter Kosmis. 

IX Sthirebhir angaih pururuupa ugro babhruh sukrebhih pipise hiranyaih/ Iisanaad asya bhuvanasya bhuurer na vaa yoosad Rudraah asuryam// 

 Rudra, sebagai Dokter Kosmis dengan power  yang kokoh, berwujud aneka dan berkelakuan penyenangkan. Laksana  Matahari dengan hiasan keemasan. Memiliki keberanian yang tak tertandingi yang tidak pernah hilang. Oh Rudra  selaku Pengatur  Utama  Tatanan Semesta Ini. 

XI Stuhi srutam gartasdam yuvaanam mrgam na bhiimam upagatnum ugram/ Mrlaa jaritre Rudra stavaano nyam te asman ni vapantu senaah// 

Oh Rudra , mulialah selalu. Penguasa Dalam Matahari, yang duduk tinggi pada kereta kosmisnya. Rudra yang sangat mengerikan,  sangat menakutkan dan mendatangkan maut seperti binatang buas. Namun dengan mudah didamaikan  dengan doa pujian, wahai Tuhan Rudra, berikanlah kebahagian kepada mereka yang memuja Mu, semoga Pengiring  Mu ini, bisa mengatasi orang lain yang memposisikan dirinya sebagai musuh. 

XII Kumaras cit pitaram van damaanam prati naanaama Rudro payantam/ Bhuurer daataaram satpatim grnise stutas tvam bhesajaa raasy asme// 

 Kami merindukan  obat Mu wahai Rudra, yang  bermuatan prinsip   vitalitas Perkasa,  murni, manjur dan merupakan sumber kebahagiaan. Kami merindukan obat yang dikatakan manjur menurut Para Sesepuh. Kami mohon dari Rudra, sebagai dokter kosmis guna pencegahan dan sekaligus pengobatan penyakit. 

XIV Pari no heti Rudrasya vrjyaah Pari tvesasya durmatir mahii gaat/ Ava sthira maghavadbhyas tanusva midhvaa tokaaya tanayaaya mrla //  

Semoga Rudra, Dokter Kosmis yang juga Penguasa Dalam Matahari itu, mengabulkan doa kami. Semoga kemarahan besar dari penguasa yang bergerak cepat terhindar  dari kami. Semoga Engkau Rudra, membelokkan Busur Penghancur yang kuat itu. Lindungi teman kami yang kaya, berikan kebahagian pada kami, anak anak dan cucu kami.

 

Secara lebih khusus bagaimana mengatasi virus, kuman itu ada pada Krishna Yajur Weda ,  Taithriya  Aaranyaaka. Mantra   yang ditujukan untuk  menghancurkan kuman itu Mantra Mantra  oleh Rishi  Athri, Rishi Kanwa dan Rishi Jamadagni  Untuk memusnahkan raja kuman & virus corona/ covid - 19


Om atrinā tvā krime hanmi/

kanvena jamaḋagninā/

vishāvasor brahṁanā hataha/

kriṁeenagm rājā/


Apyeshāgu sthapatirhataha/

aṫho mātā ṫho pitā 3x

atḣo sthūra atho kshudrāha/

atho krishā ath”o shvetāha /

At’ho āshatikā hatāha/


Svetābhissah sarv’e hatāha/

Āharāva’dhya/

Shrutasya havisho yatha”/

Tat satya/ yadhamum yamasya jambhayoho

ādhadhāmi tathā hi tat/

Kanphanmraśi/

Om shanti shanti shati


Wahai Raja Virus & Virus Corana, Saya menaklukkan  semua raja kuman & virus corona yang saat ini pandemi dengan mantra ini ,

Melalui mantra ini, pemimpin kuman corona, virus corona, ghandarva   dihancurkan oleh Vishvaasu. Demikian pula, sisa pemimpin kumpulan kuman yang lain juga  dihancurkan/ dimusnahkan

Semua bentuk & jenis kuman, baik besar atau kecil, hitam atau putih akan dihancurkan.Kuman yang berada di dalam tubuh hewan  juga akan dimusnahkan

Kami meminta Havis (makanan api), melalui dewa Agni Havan  di yagshala  juga,  membuat semua kuman/Virus corona  yg terjebak di dalam penguasa  yama dan semuanya akan musnah.

Semoga dunia damai dan umat manusia sehat  bahagia , anandam

Demikian Kompilasi dari Acharya Rishi Sadhu Giriramananda, kurang lebih aksamaang. Tat Asthu Svaha Om Kham Brah Esa Paramashivastah🙏👍🕉🔱💐💐🕉👍🙏


Acharya Rishi Sadhu Giriramananda 

Gambar Ilustrasi : https://www.komangputra.com/


Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok