Sabtu, 16 November 2019

Upacara Abhiseka Candi Prambanan 2019


Selasa , 12 Nopember 2019 bertepatan bulan Purnama Sasih Kalima ( Margasira Masa) dilaksanakan  upacara Abhiseka untuk menyucikan Candi Prambanan di perbatasan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Upacara yang digelar di Lapangan Wisnu Mandala, Komplek Candi Prambanan
Upacara serupa digelar pertamakali 1.163 tahun silam sebagai peresmian Candi Prambanan oleh Rakai Pikatan Dyah Seladu pada Wualung Gunung Sang Wiku  atau 856 M tepat tanggal 12 November 856 yang juga bertepatan dengan bulan purnama. Peresmian Candi Prambanan digelar sebagai penanda puncak kekuasaan kerajaan Mataram Kuna.
Upacara kali ini  dihadiri oleh  ratusan umat Hindu tersebut datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Jawa Tengah, bahkan ada juga umat Hindu dari Gunung Tengger, Jawa Timur.
Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi DIY , Made Astra Tanaya , ritual seperti ini baru pertama kali dilaksanakan setelah 1.163 tahun sejak diresmikannya Candi Prambanan. Biasanya Kegiatan , karena selama ini Candi Prambanan hanya untuk melaksanakan upacara untuk tawur agung, yaitu ritual  untuk pembersihan alam semesta,  sedangkan untuk candinya belum pernah dilakukan pembersihan, lanjutnya.
Menurut dia, setiap ritual yang dilakukan oleh umat Hindu memiliki makna mendalam. Apalagi dengan keberadaan Candi Prambanan yang menjadi pusat energi umat Hindu.
"Abhiseka ini merupakan upacara yang mendasar," katanya
Made Tanaya mengatakan, Abhiseka ini menjadi salah satu titik balik untuk mengembalikan energi. Kekuatan itulah yang nantinya berimbas pada manusia dan alam.
"Jadi Abhiseka ini untuk menguatkan energi dan getaran itu," katanya

Upacara ini berlangsung berkat hasil penelitian Nur Khotimah (27) yang dituangkan dalam tesis  S2 Arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarya pada Mei-Juli 2019 berjudul Pemanfaatan Candi Prambanan untuk Kepentingan Agama Hindu.
"Dalam latar bekalang tesis menyebutkan tentang sejarah Candi Prambanan. Dalam riset itu tiba-tiba saya menemukan beberapa buku yang membahas prasasti siwagrha, di situ disebutkan wualung gunung sang wiku yang artinya 778 Saka atau 856 Masehi," kata Nur Khotimah yang menjadi Ketua Umum Panitia Abhiseka Candi Prambanan.
Selanjutnya iapun menelusuri literatur LC Damais, seorang epigraph dari Prancis yang piawai membaca candra sangkala. Di sana dijelaskan bahwa berdirinya Candi Prambanan adalah 12 November 856 Masehi. Sejak menemukan sejarah itu, Nur berusaha menjelaskan kepada umat Hindu.
"Awalnya susah karena saya berbasis ilmiah dan umat Hindu berbasis ritual, ya harus dijelaskan pelan-pelan. Ada pro dan kotra yang pasti," jelasnya.
Upacara dimulai sejak Sabtu (9/11/2019) dengan rangkaian acara matur piuning sebagai tanda kulonuwun kepada leluhur Prambanan  akan ada upacara Abhiseka.
Pada hari Minggu (10/11) diadakan yoga serta bersih-bersih candi.
Pada hari Senin (11/11) berlangsung pertemuan api abadi mrapen dan 11 mata air.
Arak-arakan dimulai dari Candi Ratu Boko, depan Ramayana kemudian bertemu di pertigaan Candi Prambanan dan masuk ke Wisnu Mandala.
Tanggal 12 November 2019 menjadi  puncak acara dengan adanya ritual Abhiseka (sembahyang pembersihan).
Sesaji yang digunakan sebagaimana disebutkan dalam 25 prasasti masa Mataram Hindu.
Pada kesempatan itu dilangsungkan sendratari siwagrha menampilkan rekontruksi peresmian Candi Prambanan oleh Rakai Pikatan.
Di tengah sendratari ada ritual manusuk sima oleh 16 pendeta Jawa-Bali.
Yang paling  menonjol kegiatan ritual ini adalah semua perlengkapan upcara menggunakan sesaji sesuai dengan pelaksanaan ketika  Candi Prambanan diresmikan 1.163 tahun yang lalu.


Veda Poshana Ashram turut serta berpartisipasi dalam upacara tersebut, Shri Bhagawan Nabe Agni Yogananda sebagai salah satu Pandita yang ikut ngayah sebagai pemuput upacara.
Menurut rencana upacara sejenis akan dilaksanakan secara rutin setiap tahun.


Shri Bhagawan Nabe Agni Yogananda sebagai salah satu Pemuput Abhiseka Candi Prambanan


Sesaji Sima Abhiseka Candi Prambanan




Prosesi Manusuk Sima dilaksanakan yaitu dgn cara melemparkan telur ke replika lingga yoni sambil mengucapkan kutukan seperti yang di uacapkan oleh Rakai Pikatan dalam peresmian Candi Prambanan di tahun 856M



.
sumber :
Info WA Panitia
https://bali.tribunnews.com/
http://www.satuharapan.com/

Acara dan Sesaji Sima ( Upacara Abhiseka)


Rangkaian Acara dan Sesaji Sima untuk upacara Abhiseka Candi Prambanan sesuai tesis yang yang ditulis oleh Nurkhotimah pada Program Pasca Sarjana Fakultas Arkeologi Universitas Gajah Mada Tahun 2019 dengan judul  Pemanfaatan Candi Prambanan untuk Kepentingan Agama Hindu


Selasa, 12 November 2019

Konferensi Dunia Sansekerta 2019 di New Delhi


Konferensi Sanskerta se-dunia dilaksanakan dari  9 s.d 11 Nov 2019 di Chattarpur Jandewala Matta Mandir New Delhi diikuti tidak kurang 27 negara, spr Jerman, China, Kenya, Singapura, Indonesia, US, Kanada, Uni Emirat Arab, Dubai, Oman, Myanmar dan India sebagai tuan rumah.
Kegiatan ini dhadiri oleh Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri India serta diikuti oleh 4.250 orang delegasi dari masing-masing negara.

Pembahasan dalam konferensi meliputi: perkembangan pembelajaran sanskerta di masing-masing negara, sistem dukungan terhadap pengembangan sanskerta, aneka pertunjukkan sanskerta, pameran sanskerta dari seluruh negara peserta.

Peserta konferensi menginap di Ashram dan Villa Cahttarpur yang berdekatan dengan Chattarpur Jandewala Matta Mandir New tempat konferensi.
Suasana kekeluargaan begitu kental tampak antar peserta.

Subhasiitam, aksara devanagari dan bahasa sanskerta mendominasi selama pelaksanaan acara ini. Delegasi Indonenesia yg diwakili oleh 12 orang pengurus dan guru sanskerta menggunakan pakaian khas budaya nusantara dan menjadi perhatian bagi peserta lainnya. 
Permintaan foto bersama dan selfie dari peserta konferensi lainnya menjadikan Delegasi Indonesia dengan busana nusantara sebagai salah satu delegasi yg paling diapresiasi.

Begitu juga permintaan wawancara kepada Indonesia sebagai narawicara radio dan tv setempat.
Tradisi makan bersama masakan vegetarian dengan duduk di lantai serta dilayani oleh  para karyakartah (sevadal) sanskerta sungguh sangat mengesankan.

Disiplin yang diterapkan tidak terkecuali tatacara penempatan sandal peserta di tempat yg telah ditentukan merupakan nilai-nilai yg ditanamkan pada setiap pertemuan sanskerta.
Stand-stand pameran yg memuat berbagai buku dan hasil karya sanskerta membuka wawasan peserta betapa sanskerta tidak hanya sekadar bahasa tetapi ia merupakan sebuah peradaban.

Jayatu Samskrta
Jayatu Dvipantara
Jayatu Sanathana Dharma

Pandita Agni Rishi Premadasa







Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok