Senin, 30 Desember 2019

Download Bhagawad Gita MP3


Upanishad Bhagawad Gita yang dikenal juga sebagai Weda Kelima (Pancama Weda) banyak diminati bukan hanya oleh kalangan umat Hindu tetapi semua kalangan termasuk non Hindu apakah seorang filsuf, sastrawan, theologis, ataupun ilmuwan.
Penulis Bhagawadgita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi ByasaBhagawadgita merupakan ajaran universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan .Bhagawadgita merupakan ilmu pengetahuan abadi, yakni sudah ada sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan ajarannya tidak akan dapat dimusnahkan.
Pembacaan dan pendalaman atas teks Bhagavad Gita sangatlah terbuka. Memperoleh tuntunan moral-etis, pemahaman tentang jiwa dan alam semesta, pencerahan tentang persoalan ketuhanan akan menjadi imbalan bagi siapa saja yang sudi menghirup nafas suci Bhagavad Gita
Berikut ini kami berbagi Bhagawadgita dalam bentuk audio yang terjemahannya berbahasa Indonesia.

  1. Bhagawadgita Bab 1 Keragu-raguan Arjuna
  2. Bhagawadgita Bab 2 Samkya Yoga
  3. Bhagawadgita Bab 3 Karma Yoga
  4. Bhagawadgita Bab 4 Jnana Yoga 
  5. Bhagawadgita Bab 5 Karma Sanyasa Yoga
  6. Bhagawadgita Bab 6 Dhyana Yoga
  7. Bhagawadgita Bab 7 Jana Wijnana Yoga
  8. Bhagawadgita Bab 8 Aksara Brahman Yoga
  9. Bhagawadgita Bab 9 Raja Widya Raja Guhya Yoga
  10. Bhagawadgita Bab 10 Wibhuti Yoga
  11. Bhagawadgita Bab 11 Wiswarupa Darsana Yoga
  12. Bhagawadgita Bab 12 Bhakti Yoga
  13. Bhagawadgita Bab 13 Ksetra ksetrajna Wibhaga Yoga
  14. Bhagawadgita Bab 14 Gunatraya Wighaga Yoga
  15. Bhagawadgita Bab 15 Aksara Brahman Yoga
  16. Bhagawadgita Bab 16 Daiwaasura Sampad Wibhaga Yoga
  17. Bhagawadgita Bab 17 Radhapraya Wibhaga Yoga
  18. Bhagawadgita Bab 18 Moksa Sanyasa Bagian 1
  19. Bhagawadgita Bab 18 Moksa Sanyasa Bagian 2



Kamis, 26 Desember 2019

Penutupan Mahasanti Puja XI 2019


Setelah melalui perjalanan waktu sekitar sepuluh hari maka kegiatan mahasanti Puja XI Tahun 2019 berakhir pada hari Rabu, 25 Desember 2019

Acara penutupan Mahasanti Puja dilaksanakan dengan menampilkan demontrasi hasil Samskrta Sibhiram, pelepasan balon dan burung dara/merpati sebanyak 11 (sebelas) ekor. Balon melambangkan rasa bahagia/gembira atas berhasilnya pelaksanaan Mahasanti Puja yang pertamakali dilaksanakan di Lombok. Sedangkan burung merpati/burung dara melambangkan kesetiaan, diharapkan kita semua setia untuk menepati janji dalam melaksanakan ajaran Weda, demikian penjelasan Shrii Braja Ganachakra ,mewakili Ketua Vedaposhana Ashram Lombok.

Pedanda Gde Jelantik Dwijaputra juga tidak henti-hentinya menghimbau generasi muda , khususnya di Dusun Prako untuk memanfaatkan moment yang langka dan luar biasa ini agar mampu mengembangkan diri dan terus belajar Bahasa Sansekerta. Jaman saya sekolah dulu, tidak ada pelajaran seperti ini, maka mulai sekarang ayo kita belajar Kitab Suci Weda dengan benar, demikian lanjut beliau.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia lombok Barat, I Wayan Sembah pada sambutannya mengatakan bahwa Samskrta Sibhiram ini yang pertama di Lombok, maka merupakan kesempatan luar biasa bagi peserta yang telah mengikuti kegiatan ini hingga akhir. Wayan Sembah berharap Samskrta Sibhiram tidak hanya sampai disini, diharapkan kegiatan ini isa berlanjut untuk tahap berikutnya, serta diharapkan agar Pasraman-pasraman yang lain bisa mendapat kesempatan yang sama, bila perlu di kemudian hari ada di antara peserta bisa melanjutkan studi hingga ke India.

Yang menarik pada kegiatan ini adalah demontarsi para peserta , anak-anak yang hanya diberikan waktu 10 (sepuluh ) hari dengan durasi 2-3 jam perhari sudah mampu menampilkan ketrampiilan mereka berbahasa Sansekerta. Ada yang bercakap, ada pula yang berdialog.
Ternyata peserta Samskerta Sibhiram tidak hanya anak-anak Pasraman, ada pula orang dewasa, bahkan Pandita , seperti Pandita Anjadi , Pandita Damar Shri dan Bunda Meitha juga ikut sebagai peserta yang serius. Beliau-beliau ini juga mendemontrasikan keahliannya. Luar Biasa.

Sukses Mahasanti Puja XI 2019, semoga damai, damai dan damai selamanya.

Koleksi lengkap foto dan video Penutupan Mahasnti Puja XI 2019 klik DISINI










Selasa, 24 Desember 2019

Getting Commitment Zero Plastic - Mahasanti Puja 2019



Sebagai salah satu bentuk upaya mendukung suksesnya program Pemerintah Daerah  Nusa tenggara Barat bebas sampah  " Gerakan Zero Waste" , pada acara Gita Jayanti yang dilaksanakan tanggal 21 deseber 2019 di Pura Wanagiri Prako, Suranadi -Lombok juga ditandatangani Getting Comitment Zero Plastic.

Gita Jayanti adalah peringatan turunnya Sabda Bhagawad Gita yang dilaksanakan atas kerjasama antara  Vedaposhana Ashram dengan Internatinal Society for Krisna Consciousness (ISKCON) Lombok yang dilaksanakan sebagai bagian dari Mahasanti Puja XI Tahun 2019

Camat Narmada Ibu Baiq Yeny Ekawati pada acara ini memberikan sambutan. Beliau merasa bangga dengan warga dusun Prako yang turut serta memberikan andil dalam membawa nama harum Desa Suranadi sebagai Juara Desa Tingkat Nasional karena kerukunan antar umat beragama yang tinggi.
Kegiatan Mahasanti Puja dan Gita Jayanti yang dilaksanakan di Desa Suranadi memberikan kesan mendalam dan menjadi bukti bahwa kerukunan antar umat beragama dan toleransi warga sangat tinggi.
Oleh karena itu Ibu Camat berharap agar warga di desa Suranadi khususnya di Dusun Prako perlu didukung untuk berkembang dalam pendidikan baik pendidikan agama maupun pendidikan pengetahuan dan  ketrampilan.

Getting Comitment Zero Plastic merupakan kepedulian dan dukungan Vedaposhana Ashram bersama umat Hindu di Dusun Prako agar daerah ini benar-benar bisa bebas dari sampah plastik yang diketahui bahwa sampah plastik sangat mengganggu lingkungan hidup.

Yang menandatangani Getting Comitment Zero Plastic antara lain :

  1. Camat Narmada Ibu Baiq Yeny Ekawati
  2. Ketua PHDI Lombok Barat, I Wayan Sembah
  3. Ida Pedanda Nade Istri Sebali Tianyar Arimbawa
  4. Ida Pedanda Gde Jelantik Dwijaputra
  5. Seluruh Peserta Gita Jayanti





Semoga NTB bisa bebas sampah, khususnya sampah plastik. Astungkara swaha

Gita Jayanti -Mahasnti Puja 2019




Masih dalam rangkaian Mahasanti Puja XI 2019 di Pura Wanagiri Prako, Pada hari Sabtu, 21 Desember 2019 dilaksanakan  Gita Jayanti yaitu peringatan disabdakannya Bhagawadgita sekitar 5.000 tahun yang lalu. Gita Jayanti diperingati setiap hari Sukla Ekadashi yaitu hari ke 11 menuju bulan purnama Margashirsha Masa  ( Sasih Kelima).

Gita Jayanti kali ini adalah kerjasama Vedaposhana Ashram dengan Internatinal Society for Krisna Consciousness (ISKCON) Lombok yang dilaksanakan sebagai bagian dari Mahasanti Puja XI Tahun 2019. 

Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Kepala Bidang Bimas Hindu Kementerian Agama Provinsi Nusa tenggara Barat,  I Wayan Widra
Gita Jayanti tahun ini luar biasa karena bertepatan dengan Tumpek Landep yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Lendep. Kegiatan yang diikuti oleh para brahmacari pesraman sangat baik untuk memasyarakatkan Bhagawadgita kepada umat Hindu sehingga dalam kurun waktu 30 tahun ke depan ajaran Bhagawadgita benar-benar menjadi panduan dalam kehidupan umat Hindu, demikian disampaikan oleh I Wayan Widra dalam sambutannya.
Selanjutnya Widra menyatakan bahwa pesraman formal adalah lembaga yang telah memiliki paying hukum, oleh karena itu diharapkan semakin banyak pesraman-pesraman yang bisa dibentuk, karena saat ini jumlahnya masih sedikit. Meskipun jumlah pasraman masih sedikit tetapi memberikan kontribusi yang besar bagi pengembangan generasi muda Hindu, ini terbukti bahwa dalam Utsawa Dharma Gita baik tingkat Kabupaten/Kota maupun provinsi dan nasional masih didominasi oleh para brahmacari pesraman.




Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Lombok Barat I Nyoman Sembah menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan Mahasanti Puja XI yang dilaksanakan di Pura Wanagiri Prako adalah melaksanakan ajaran Weda, bukan ajaran sampradaya tertentu ,
Meskipun demikian Ketua PHDI Lombok Barat menyatakan siapapun umat Hindu termasuk dari sampradaya manapun sepanjang berdasarkan ajaran Weda dipersilahkan melaksanakan kegiatan di wilayah Kabupaten Lombok Barat dengan memenuhi aturan yang ada.

Dalam kesempatan tersebut juga peserta mendapat wejangan dari Pedanda Gde Jelantik Dwija Putra dari geria Suranadi. Menurut beliau bahwa  Bhagawadgita adalah kitab yang luar biasa karena kita dapat membaca sabda Tuhan secara langsung, oleh karena itu beliau mengajak generasi muda untuk belajar Bahasa Sansekrta dan huruf Dewanegari. Karena ini adalah Bahasa Dewa, semua puja mantram untuk para dewa dalam bentuk Bahasa Sanskrta.
Tapi Pedanda Dwija Putra juga mengingatkan bahwa untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik jangan lupa juga untuk belajar pengetahuan dan ketrampilan. Dasar utama untuk bisa hidup damai dan harmonis di gunia ini adalah kasih sayang sesama yang dilandasi dengan ajaran tatwam asi dengan slogan Wasudeva Kutumbhakam. 

Pada Acara tersebut hadir pula  Ida Pedanda Istri Sebali Tianyar Arimbawa , yang ikut secara aktif  seluruh rangkaian kegiatan. 

Acara diisi dengan pemujaan Agni Hitra, Persembahyangan bersama serta pembacaan sloka-sloka Bhagawad Gita

Pada akhir acara ditampilkan hiburan berupa tari bali dan tari India oleh Sanggar Suci Mataram










Rabu, 18 Desember 2019

Pemkot Denpasar Kembangankan Bahasa Dewa



Weda sebagai sumber ilmu pengetahuan dimana didalamnya tertulis Bahasa Sansekerta sangat penting untuk dipelajari. Maka untuk mengembangkan dan melestarikannya, Yayasan Dvipan Tara Samskrtan menggelar Siksakaprasikma Vargan (Pelatihan Berbahasa Sansekerta). Kegiatan yang menyasar calon pengajar Bahasa Sansekerta serta pemula ini dibuka secara resmi Kadis Kebudayaan Kota Denpasar I.G.N Bagus Mataram di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Bali.
Dalam kesempatan tersebut Ngurah Mataram di Denpasar, Rabu (19/6/19) mengatakan, kegiatan ini sangat bagus dan penting dilaksanakan mengingat Bahasa Sansekerta juga sebagai salah satu objek untuk memajukan kebudayaan.

“Dalam mengembangkan kebudayaan, Pemerintah Kota Denpasar juga telah menggunakan Bahasa Bali dan pakaian adat setiap di Hari Purnama, Tilem, dan setiap hari Rabu dan Kamis,” katanya.
Salah satu contoh keberadaan penggunaan Bahasa Sansekerta ada pada Prasasti Blanjong Sanur, yang merupakan wilayah Denpasar, dimana terdapat banyak situs dan ritus cagar budaya maka Bahasa Sansekerta sangatlah diperlukan.

“Dalam Prasasti Blanjong bahasa yang digunakan di dalam menggunakan Bahasa Sansekerta. Prasasti ini telah ada pada tahun 835 masehi pada jaman kerajaan Sri Kesari Warmadewa, kerajaan pertama yang ada di Bali. Maka dari itu kami mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini,’’ ungkapnya.
Anggapan Bahasa Sansekerta sebagai bahasa dewa, membuat sebagian masyarakat enggan untuk memperlajarinya. Bahkan banyak yang tidak mengetahui bahwa bahasa Bali itu berasal dari Bahasa Sansekerta. Sekali lagi sangatlah penting untuk memperkenalkan Bahasa Sansekerta kepada masyarakat. Bahkan ia berharap tahun depan bisa digelar lomba Bahasa Sansekerta.
Melalui kegiatan tersebut tentu diharapkan dapat mencetak calon pengajar Bahasa Sansekerta. Sehingga kedepanya keberadaan Bahasa Sansekerta tetap ajeg dan lestari sebagai kebudayaan masyarakat Bali.
“Tentunya kami di Pemkot Denpasar secara berkelanjutan terus mendukung kemajuan dan kelestarian Bahasa Sansekerta sebagai kebudayaan Bali yang menjadi sumber Kitab Suci Weda dan tersurat dalam sejarah peradaban Hindu Bali,” terangnya.
Ketua Yayasan Dvipantara Samkrtam Ida Pandita Rsi Agni Premadasa (Welaka Dr. I Wayan Gede Suacana) mengatakan kegiatan ini sengaja diberikan kepada calon tenaga pengajar Bahasa Sansekerta di pasraman. Sehingga kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun, namun kegiatan hari ini baru yang kedua kalinya dan diikuti oleh 50 peserta.
Menurutnya sejak pasraman ini berdiri sejak tahun 2017 telah memiliki tenaga pengajar Bahasa Sansekerta sebanyak 11 orang dan memiliki siswa 550 orang yang bisa bercakap-cakap menggunakan Bahasa Sansekerta.
“Dengan bisa bercakap menggunakan Bahasa Sansekerta ia berharap siswa ini bisa tertarik dalam mempelajari weda bahkan seluruh masyarakat nusantara menggunakan Bahasa Sansekerta,’’ tegasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan 70 hingga 80 persen Bahasa Bali merupakan Bahasa Sansekerta bahkan mantra-mantra yang digunakan setiap hari juga menggunakan Bahasa Sansekerta. Ia juga menjelaskan Bahasa Sansekerta adalah salah satu kunci di dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Tanpa Bahasa Sansekerta maka tidak bisa menelusuri Weda secara mendalam. Sanskerta juga sudah dibuktikan sebagai bahasa kental dan bahasa yang paling sedikit kesalahan dalam pogram komputer.

Ia juga mengaku, Bahasa Sansekerta sudah digunakan di 38 negara, 80 universitas dan 110 pusat studi yang mengajari Bahasa Sansekerta namun hal ini belum bisa dilakukan di Indonesia. Maka hal ini menurutnya menjadi tantangan ke depan.
Dalam pelatihan ini ia mengaku setiap Calon tenaga pelatih berbahasa (berbicara) Sansekerta, shiksaka prashiksana shibiram, Pa Thani Saranii, pelatihan intensif dasar Berbahasa Sanskerta selama 10 hari.
Serta Sambhaasana shibiram, pelatihan berbicara Sansekerta selama sepuluh hari selama 2 jam. Salah satu peserta Ade Agung Satyananda mengaku senang bisa belajar Bahasa Sansekerta. Mengingat kedepan Bahasa Sansekerta bisa digunakan dalam pemograman teknologi. Selain itu dengan bisa Bahasa Sansekerta pihaknya ingin meneruskan yayasan ini.


sumber : http://balifactualnews.com/

Ilmu Pengetahuan Pembangkit Kesadaran



Oleh: Ida Pandita Rishi Agni Premadasa (Dr. Drs. I Wayan Gede Suacana, M.Si.)

Perayaan hari raya Saraswati menunjukkan arti penting ilmu pengetahuan bagi kehidupan umat manusia. Ia berfungsi tidak hanya sebagai penopang hidup, tetapi juga sebagai upaya sadhana untuk merealisasikan penyatuan atman dengan paramatman. Tujuan penguasaan ilmu pengetahuan adalah untuk membedah bidang ketidaktahuan dan kegelapan (awidya) dengan pedang pembedaan (wiweka). Apakah penguasaan ilmu pengetahuan selama ini sudah dapat meningkatkan kualitas kesadaran dan kebijaksanaan umat Hindu? 

Kemampuan Membedakan

Umat Hindu memuja Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan setiap 210 hari sekali, yakni pada hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Perayaan hari raya Saraswati yang jatuh pada hari ini, apabila dicermati bermakna simbolik bahwa Sang Hyang Widhi dipercaya sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan tersebut di samping sebagai penopang hidup juga satu bentuk pemujaan (sadhana) kepada Sang Hyang Widhi untuk merealisasikan penyatuan atman dan paramatman (atma jnana). Oleh karena itu, ilmu pengetahuan semestinya tidak hanya diarahkan kepada material tendency forces (preyoshakti) sebagaimana lazim dalam mainstream pemikiran rasionalisme Barat, tetapi juga perlu diseimbangkan dengan spiritual tendency forces (sreyoshakti) yang merupakan garis kebijaksanaan Timur.

Fisikawan modern pengikut jalan setapak Taoisme Fritjof Capra, menggambarkan momen paralelisme ini dalam bukunya ''Tao of Physics'', sebagai sebuah era ketika pemikiran intelektual ''suprarasional'' dan kehidupan keagamaan yang ''suprareliegius'' bersanding dengan elegannya dalam puncak-puncak pencapaian kreativitas manusia.

Ilmu pengetahuan sebagaimana makna Saraswati bersifat mengalir terus-menerus tiada henti. Ibarat prana kehidupan yang tak akan pernah habis walau tiap hari dipakai oleh semua makhluk. Begitu pentinya peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan, terlihat dari betapa semarak dan tingginya penghormatan umat Hindu (di Indonesia maupun India) terhadap Dewi Saraswati.

Tujuan penguasaan ilmu pengetahuan bagi umat Hindu adalah untuk membedah bidang kegelapan (awidya) dengan pedang pembedaan (wiweka). Dalam ajaran Raja Yoga telah diajarkan tiga tahap kemampuan membedakan bagian permukaan dari ''diri kita'', yang terletak berlapis-lapis di bagian luar dengan ''diri kita'' yang telah luas yang terletak di dalamnya.

Pertama, mendengarkan ucapan orang-orang bijaksana, membaca kitab-kitab suci, serta naskah-naskah filsafat. Kita diperkenalkan bahwa, tanpa disadari, di pusat jati dirilah letak sumber kehidupan yang sesungguhnya. Kedua adalah berpikir melalui kontemplasi dan refleksi yang mendalam dan terus-menerus. Apa yang telah muncul pada tahapan pertama sebagai kemungkinan abstrak dilihat sebagai sesuatu yang menimbulkan kesadaran hidup tentang atman yang mendasari kepribadian yang fenomenal ini.

Pada saat demikian kita sudah siap memasuki tahap ketiga, yakni pengadilan identifikasi diri dari bagian hidup yang masih berlangsung hingga saat ini, ke bagian hidup yang abadi. Cara melakukannya adalah dengan bermeditasi, tetap mengulang-ulang nama Tuhan (japa, namasmaranam) sambil melakukan pekerjaan sehari-hari (karma yoga).

Lapis Kesadaran dan Kebijaksanaan

Ilmu pengetahuan kebijaksanaan, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Jnana Vahini hanya dapat diperoleh dengan penyelidikan batin yang tiada terputus. Kita harus terus menerus menyelidiki sifat Tuhan, kenyataan tentang Sang Aku (diri yang sejati), perubahan yang terjadi pada saat kelahiran, kematian, serta hal-hal semacam itu. Jika umat sudah secara sadar memulai kehidupan rohani, maka perlu diingat apa yang menjadi pilar-pilar penyangganya.

Ada lima pilar ilmu pengetahuan kebijaksanaan yang terajut dalam sebuah untaian kata mutiara, yaitu: kebenaran (satya) adalah cinta kasih dalam pikiran; kebajikan (dharma) adalah cinta kasih dalam tindakan; kedamaian (shanti) adalah cinta kasih dalam perasaan; cinta kasih (prema) adalah dasar pembentukan karakter; serta tanpa kekerasan (ahimsa) adalah cinta kasih dalam pengertian.

Pendalaman ilmu pengetahuan kebijaksanaan lebih banyak menekankan pada penyangkalan diri serta disiplin dalam melaksanakan kewajiban sesuai tahap kehidupan. Suatu kali ketika Ramakrishna ditanya, ''apakah yang diajarkan Bhagawad Gita?'' Dia menjawab, ''Jika engkau mengucapkan kata 'Gita' beberapa kali, engkau akan mulai mengatakan 'Tagi'. Tagi berarti yang telah melaksanakan penyangkalan diri. Dengan kata lain, cita-cita penyangkalan diri dan disiplin adalah jiwa ajaran Bhagawad Gita.

Dalam Intisari Bhagawad Gita seluruh ajaran Bhagawad Gita diringkas dengan satu kata: mamadharma 'kewajibanku atau pekerjaanku'. Umat Hindu harus melaksanakan kewajiban yang telah ditentukan sesuai dengan kemampuan serta sebaik mungkin mengerjakan tugas sesuai dengan tahapan kehidupan. Disiplin dalam melaksanakan kewajiban dan kehidupan spiritual berarti menginstruksikan diri sendiri agar giat menumbuhkan kesadaran luhur kita. Praktik yang sukses untuk mengubah diri sendiri memerlukan disiplin batin tingkat tinggi. Kita harus secara terus-menerus mempelajari ajaran dan praktik disiplin spiritual (sadhana) agar sampai pada tujuan.


Di dalam Rgveda VII.32.9 dinyatakan: ''Wahai orang-orang yang berpikiran mulia, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras untuk mencapai tujuan-tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan giat untuk mencapai tujuan. Orang yang giat dan tekun akan berhasil, hidup bahagia dan menikmati kemakmuran. Para dewa tidak pernah menolong orang yang bermalas-malas''. Dengan demikian, disiplin dan penyelidikan batin yang tiada henti, kesadaran dan ketabahan, serta ketekunan merupakan suatu keharusan dalam menjalankan sadhana untuk meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan.

Di samping itu, dalam masyarakat posmodern saat ini - sebagaimana pesan Swami Sathya Narayana - peningkatan kualitas kesadaran dan kebijaksanaan umat dapat dimulai dengan sathyam (keselarasan antara perkataan dan perbuatan), darma (kebajikan), nyaaya (keadilan), ritam (keselarasan antara pikiran, perkataan dan perbuatan manusia), samyama (pengekangan diri), dan damam (pengendalian indera). Jadi, ilmu pengetahuan kebijaksanaan dan keutamaan sangat diperlukan agar dapat melakukan penyelidikan batin dan penyangkalan diri secara terus menerus dengan disiplin yang tinggi (Nitisastra, V.1).

Dengan penguasaan ilmu pengetahuan kebijaksanaan akan dapat membangkitkan kesadaran akan sifat-sifat diri sendiri yang sejati. Ilmu pengetahuan sekuler lebih berfokus pada rasionalitas, padahal hidup membutuhkan lebih banyak kesadaran. Pendidikan modern lebih banyak mengembangkan kecerdasan dan keterampilan, tetapi kurang memperhatikan penggembangan kesadaran dan budi pekerti. Akibatnya, ilmu pengetahuan dalam sistem pendidikan modern terdistorsi serta tidak berhasil membangkitkan kesadaran sebagian besar umat.

Oleh karena itu, setiap perayaan Hari Raya Saraswati kita perlu mendekonstruksi kemapanan hegemoni ilmu pengetahuan Barat yang lebih berdasarkan rasionalitas, dan menyejajarkannya dengan ilmu kebijaksanaan Timur dengan sentuhan nuansa spiritualnya. Dengan begitu, umat di samping cerdas juga memiliki kesadaran dan moralitas, seperti: viveka, vairagya dan vichakshana sehingga mereka memiliki tangan-tangan yang sigap melayani, hati yang penuh cinta kasih, serta pikiran yang suci nan jernih.

Samskertam Sibhiram - Mahasanti Puja 2019



Rangkaian Mahasanti Puja XI Tahun 2019 adalah Samskrtam Sibhiram yaitu pembelajaran Bahasa Sansekerta yang diikuti oleh sekitar 140 siswa dari 14 Pesraman yang tersebar di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan dilaksanakan selama 10 hari, setiap hari pembelajaran dilaksanakan selama 120 menit.

Samskertam Sibhiram dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Vedaposhana Ashram, Pandita Agni Acharya Yogananda. Dalam pengantarnya beliau menyampaikan bahwa belajar Bahasa sansekerta tidak sulit, apalagi dimuali dari usia dini. Sebagai umat Hindu wajib mengerti Bahasa Sansekerta, karena mantram-mantram yang digunakan dalam pemujaan semua berbahasa Sansekerta. 

Sebagai pemberi materi adalah Ni Wayan Suartini dan Ni Ketut Julianita dari Yayasan Dviipaantarasamskertam Bali. Menurut Suartini karena peserta adalah pemula maka materi yang disampaikan adalah bahasa-bahasa dasar yang dikenal lingkungan. Metoda yang digunakan juga dengan komunikasi langsung. Selama proses pembelajaran hanya menggunakan Bahasa Sansekerta. Menurut pengalaman bahwa metoda ini cukup efektif, karena peserta bisa dengan mudah menyesuaikan diri dan dalam waktu yang singkat akan bisa berkomunikasi dengan Bahasa Sansekerta.
Ni Wayan Suartini dan Ni Ketut Julianita



Selama pembelajaran tidak ada kegiatan mencatat, peserta cukup mendengarkan, mencoba dan mencoba.

Kegiatan ini sangat menarik perhatian peserta yang sebagian besar siswa dari Sekolah Dasar sampai Sekolah menengah Atas.

Diarea Pura Wanagiri Prako, dalam suasana yang sejuk dan damai mereka bersenda gurau menikmati istilah-istilah dalam Bahasan Sansekerta






Senin, 16 Desember 2019

Mahasanti Puja XI dibuka oleh Gubernur NTB Zulkifliemansyah


Bertempat di halaman Pura Wanagiri Prako, Desa Suranadi, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat- Nusa Tenggara Barat dilaksanakan Upacara Mahasanti Puja XI oleh Vedaposhanam Ashram. Upacara dalam bentuk Homa Yadnya /Agnihotra bertujuan untuk memohon kehadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar Indonesia khususnya Nusa Tenggara Barat memperoleh kedamaian dan kesejahteraan sekala niskala ( alam dan manusia lahir dan batin). 

Upacara Mahasanti Puja  I sampai  Mahasanti Puja X selama ini dilaksanakan di Bali dan  Mahasanti Puja XI tahun 2019 dilaksanakan di Lombok (pertama kali di luar Bali). 

Menurut Ketua Umum Vedaposhana Ashram, Pandita Nabe Sri Begawan Agni Yogananda bahwa organisasi ini dibidani dan diinisiasi oleh Bhatare Nabe Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa.
Mahasanti Puja pertama dilaksanakan di Pura Besakih tanggal 9-9-2009 , kemudian berikutnya tanggal 10-10-2010 dan menjadi agenda tahunan hingga tahun 2018. Karena Tahun 2019 diprogramkan agar Vedaposhana Ashram bisa menasional maka Mahasanti Puja ke 11 dilaksanakan di luarBali dan terpilih VPA Cabang Lombok sebagai penyelenggara.

Pemilihan Pura Wanagiri Prako di luar perencanaan awal. Menurut  Shri Braja Ganacakra rencana sebelumnya  dilaksnakan di tempat lain, dan dalam perjalanannya waktu   berdasarkan tuntunan Hyang Widhi maka pilihan jatuh di tempat ini dan langsung disambut tulus oleh pengempon pura, yakni Banjar Prako.

 Ketua Panitia Ni Nyoman Sri Suyasni Pura dalam laporannya menyampaikan bahwa pada tahun 1932 pernah diadakan Upacara Besar Agnihotra / Homa Yajnya di Lombok Barat, dengan tujuan untuk membersihkan / menyucikan negeri dan mendamaikan alam Nusantara, demikian disebutkan dalam Buku “TOVENARIJ OP BALI MAGISCHE TEKENINGEN” (Ilmu Mistik Bali, Karya Ilmuwan Belanda C. Hooykaas). Jadi, Upacara Agnihotra Maha Shanti Puja ke XI tahun 2019 ini adalah merupakan peristiwa pengulangan sejarah penting Pulau Lombok 87 tahun silam

Acara Pembukaan dilakukan secara resmi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zukifliemansyah dengan pemukulan gong.

Dalam sambutannya orang nomor satu di NTB itu mengungkapkan apresiasinya atas terselenggaranya acara Maha Santi Puja ini dimana kita dapat berkumpul tanpa sekat dan tanpa memandang jabatan atau titel seseorang.

Juga beliau mengingatkan bahwa  perkembangan teknologi semakin hari semakin pesat dan semakin canggih . Semua fasilitas semakin mudah diakses.  Oleh karena itu Gubernur berharap agar masyarakat bisa menyingkapi dengan positif adanya perkembangan teknologi tersebut.







Upacara Mahasanti Puja XI Tahun 2019 dihadiri oleh seratus orang Pandita perwakilan 27 Cabang Vedaposhana Ashram dari 6 (enam) propinsi se Indonesia.

Disamping masyarakat Dusun Prako hadir pula undangan antara lain  Danrem 162 WB yang diwakili Kasi Intel, Kapolsek Narmada, Ketua Harian PHDI Pusat, Dirjen Bimas Hindu Indonesia, Perwakilan Cabang VPA Seluruh Indonesia, Ketua PHDI Prov NTB, Ketua WHDI Prov NTB, Ketua ICHI Regional NTB, Ketua STHAN Gd Puja Mataram, Ketua PHDI Lobar, Ketua WHDI Lobar, Camat Narmada, Ketua PHDI Kec Narmada serta tokoh Agama dan tokoh Masyarakat Suranadi.

Selesai Acara pembukaan langsung dilaksanakan penyalaan api kunda oleh Pandita Nabe . Ada 11 kunda agni dengan 1 (satu) Krisna Agni Kunda. Menurut Shri Braja Ganachakra Krisna Agni Kunda hanya digunakan untuk upacara besar dan sangat jarang digunakan.

Ketika upacara akan dimulai alam mulai mendung, kemudian mulai turun hujan meskipun tidak lebat, tetapi cukup membasahi bumi. Selesai upacara pembukaan dan ketika Homa Yadnya dimulai hujan mereda hingga upacara berakhir. Suasana khusuk dan mengharukan ketika gemerincing  suara genta dari sekitar 100 Pandita menggema serta gaung suara Sangkakala yang membelah langit Pura Wanagiri Prako menebarkan vibrasi spiritual luar biasa. Semua peserta larut dalam konsentrasi Agni Hotra. Puja mantra dilantunkan berkesinambungan menggema membelah langit dan semua hati bersatu dalam bhakti yang tulus.

Ada peristiwa alam yang menarik terjadi, saat upacara dilangsungkan ternyata di luar wilayah pusat Agni Hotra sedang terjadi kegaduhan alam , terjadi hujan badai disertai petir yang hebat , banyak pohon-pohon besar tumbang bahkan bangunan Balai Kambang Taman Mayura, Cakranegara, ambruk dihantam angina putting beliung. Jarak taman  sekitar 7 kilometer dari pura Wanagiri Prako. Sementara di area pemujaan alam begitu tenang dan damai.

Upacara Homa selesai sekitar pukul 19.00 wita dalam suasana yang penuh kebahagiaan, bahkan ada satu kelompok kunda baru mengakhiri puja sekitar pukul 20.00 wita, mereka melaksanaan pemujaan sekita 5 jam.

Menurut penuturan beberapa peserta mereka menyatakan puas atas pelaksanaan Mahasanti puja kali ini. Bahkan salah satu peserta yang mendalami spiritual yoga menyatakan saat homa yadnya dilaksanakan dia melihat para Dewa berkenan turun dan menaburkan bunga sebagai pemberkatan atas yadnya yang dilaksanakan.


Koleksi Foto MSP XI














Rabu, 11 Desember 2019

Mahasanti Puja 2019 Damai Untuk Semesta


om tat sat
mahasanti puja………..dalam damai kita bersyukur
mahasanti puja……….dalam kasih kita berbagi
mahasanti puja….dalam doa kita menyatu



apakah kita berbeda?
iya kita memang berbeda suku, agama, ras, budaya, bahasa, kepribadian, cara kerja, cara pandang, cara makan, dan perbedaan-perbedaan lainnya yang tanpa batas
walaupun sesama agama hindu, apakah kita berbeda?
iya kita berbeda, orang bali dengan hindu tradisi bali, orang dayak dengan hindu tradisi dayak, orang jawa dengan hindu tradisi jawa, sebagian berdoa dengan bernyanyi, sebagian berdoa dengan banten, sebagian berdoa dengan yoga, sebagian berdoa dengan diam meditasi, sebagian berdoa dengan pelayanan, sebagian berdoa dengan agnihotra

dalam perbedaan-perbedaan itu apakah salah?
sama sekali tidak salah, yang salah adalah orang yang tidak pernah berdoa dan selalu menyalahkan cara orang lain berdoa serta tidak pernah belajar untuk membuka diri guna mencari persamaan-persamaan yang sejatinya jauh lebih indah

mahasanti puja dalam agnihotra………………………..benar
mahasanti puja dalam kidung…….…………………benar
mahasanti puja dalam banten….……………benar
mahasanti puja dalam gita…………..…..benar
mahasanti puja dalam yoga……….benar

lalu ???? mari kita jalankan sajalah, cari persamaan diantara kita, rendahkan ego, kembangkan kasih sayang, lakoni dengan prinsip-prinsip kebenaran veda

Download Buku Mahasanti Puja XI

Sabtu, 16 November 2019

Upacara Abhiseka Candi Prambanan 2019


Selasa , 12 Nopember 2019 bertepatan bulan Purnama Sasih Kalima ( Margasira Masa) dilaksanakan  upacara Abhiseka untuk menyucikan Candi Prambanan di perbatasan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Upacara yang digelar di Lapangan Wisnu Mandala, Komplek Candi Prambanan
Upacara serupa digelar pertamakali 1.163 tahun silam sebagai peresmian Candi Prambanan oleh Rakai Pikatan Dyah Seladu pada Wualung Gunung Sang Wiku  atau 856 M tepat tanggal 12 November 856 yang juga bertepatan dengan bulan purnama. Peresmian Candi Prambanan digelar sebagai penanda puncak kekuasaan kerajaan Mataram Kuna.
Upacara kali ini  dihadiri oleh  ratusan umat Hindu tersebut datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Jawa Tengah, bahkan ada juga umat Hindu dari Gunung Tengger, Jawa Timur.
Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi DIY , Made Astra Tanaya , ritual seperti ini baru pertama kali dilaksanakan setelah 1.163 tahun sejak diresmikannya Candi Prambanan. Biasanya Kegiatan , karena selama ini Candi Prambanan hanya untuk melaksanakan upacara untuk tawur agung, yaitu ritual  untuk pembersihan alam semesta,  sedangkan untuk candinya belum pernah dilakukan pembersihan, lanjutnya.
Menurut dia, setiap ritual yang dilakukan oleh umat Hindu memiliki makna mendalam. Apalagi dengan keberadaan Candi Prambanan yang menjadi pusat energi umat Hindu.
"Abhiseka ini merupakan upacara yang mendasar," katanya
Made Tanaya mengatakan, Abhiseka ini menjadi salah satu titik balik untuk mengembalikan energi. Kekuatan itulah yang nantinya berimbas pada manusia dan alam.
"Jadi Abhiseka ini untuk menguatkan energi dan getaran itu," katanya

Upacara ini berlangsung berkat hasil penelitian Nur Khotimah (27) yang dituangkan dalam tesis  S2 Arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarya pada Mei-Juli 2019 berjudul Pemanfaatan Candi Prambanan untuk Kepentingan Agama Hindu.
"Dalam latar bekalang tesis menyebutkan tentang sejarah Candi Prambanan. Dalam riset itu tiba-tiba saya menemukan beberapa buku yang membahas prasasti siwagrha, di situ disebutkan wualung gunung sang wiku yang artinya 778 Saka atau 856 Masehi," kata Nur Khotimah yang menjadi Ketua Umum Panitia Abhiseka Candi Prambanan.
Selanjutnya iapun menelusuri literatur LC Damais, seorang epigraph dari Prancis yang piawai membaca candra sangkala. Di sana dijelaskan bahwa berdirinya Candi Prambanan adalah 12 November 856 Masehi. Sejak menemukan sejarah itu, Nur berusaha menjelaskan kepada umat Hindu.
"Awalnya susah karena saya berbasis ilmiah dan umat Hindu berbasis ritual, ya harus dijelaskan pelan-pelan. Ada pro dan kotra yang pasti," jelasnya.
Upacara dimulai sejak Sabtu (9/11/2019) dengan rangkaian acara matur piuning sebagai tanda kulonuwun kepada leluhur Prambanan  akan ada upacara Abhiseka.
Pada hari Minggu (10/11) diadakan yoga serta bersih-bersih candi.
Pada hari Senin (11/11) berlangsung pertemuan api abadi mrapen dan 11 mata air.
Arak-arakan dimulai dari Candi Ratu Boko, depan Ramayana kemudian bertemu di pertigaan Candi Prambanan dan masuk ke Wisnu Mandala.
Tanggal 12 November 2019 menjadi  puncak acara dengan adanya ritual Abhiseka (sembahyang pembersihan).
Sesaji yang digunakan sebagaimana disebutkan dalam 25 prasasti masa Mataram Hindu.
Pada kesempatan itu dilangsungkan sendratari siwagrha menampilkan rekontruksi peresmian Candi Prambanan oleh Rakai Pikatan.
Di tengah sendratari ada ritual manusuk sima oleh 16 pendeta Jawa-Bali.
Yang paling  menonjol kegiatan ritual ini adalah semua perlengkapan upcara menggunakan sesaji sesuai dengan pelaksanaan ketika  Candi Prambanan diresmikan 1.163 tahun yang lalu.


Veda Poshana Ashram turut serta berpartisipasi dalam upacara tersebut, Shri Bhagawan Nabe Agni Yogananda sebagai salah satu Pandita yang ikut ngayah sebagai pemuput upacara.
Menurut rencana upacara sejenis akan dilaksanakan secara rutin setiap tahun.


Shri Bhagawan Nabe Agni Yogananda sebagai salah satu Pemuput Abhiseka Candi Prambanan


Sesaji Sima Abhiseka Candi Prambanan




Prosesi Manusuk Sima dilaksanakan yaitu dgn cara melemparkan telur ke replika lingga yoni sambil mengucapkan kutukan seperti yang di uacapkan oleh Rakai Pikatan dalam peresmian Candi Prambanan di tahun 856M



.
sumber :
Info WA Panitia
https://bali.tribunnews.com/
http://www.satuharapan.com/

Acara dan Sesaji Sima ( Upacara Abhiseka)


Rangkaian Acara dan Sesaji Sima untuk upacara Abhiseka Candi Prambanan sesuai tesis yang yang ditulis oleh Nurkhotimah pada Program Pasca Sarjana Fakultas Arkeologi Universitas Gajah Mada Tahun 2019 dengan judul  Pemanfaatan Candi Prambanan untuk Kepentingan Agama Hindu


Selasa, 12 November 2019

Konferensi Dunia Sansekerta 2019 di New Delhi


Konferensi Sanskerta se-dunia dilaksanakan dari  9 s.d 11 Nov 2019 di Chattarpur Jandewala Matta Mandir New Delhi diikuti tidak kurang 27 negara, spr Jerman, China, Kenya, Singapura, Indonesia, US, Kanada, Uni Emirat Arab, Dubai, Oman, Myanmar dan India sebagai tuan rumah.
Kegiatan ini dhadiri oleh Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri India serta diikuti oleh 4.250 orang delegasi dari masing-masing negara.

Pembahasan dalam konferensi meliputi: perkembangan pembelajaran sanskerta di masing-masing negara, sistem dukungan terhadap pengembangan sanskerta, aneka pertunjukkan sanskerta, pameran sanskerta dari seluruh negara peserta.

Peserta konferensi menginap di Ashram dan Villa Cahttarpur yang berdekatan dengan Chattarpur Jandewala Matta Mandir New tempat konferensi.
Suasana kekeluargaan begitu kental tampak antar peserta.

Subhasiitam, aksara devanagari dan bahasa sanskerta mendominasi selama pelaksanaan acara ini. Delegasi Indonenesia yg diwakili oleh 12 orang pengurus dan guru sanskerta menggunakan pakaian khas budaya nusantara dan menjadi perhatian bagi peserta lainnya. 
Permintaan foto bersama dan selfie dari peserta konferensi lainnya menjadikan Delegasi Indonesia dengan busana nusantara sebagai salah satu delegasi yg paling diapresiasi.

Begitu juga permintaan wawancara kepada Indonesia sebagai narawicara radio dan tv setempat.
Tradisi makan bersama masakan vegetarian dengan duduk di lantai serta dilayani oleh  para karyakartah (sevadal) sanskerta sungguh sangat mengesankan.

Disiplin yang diterapkan tidak terkecuali tatacara penempatan sandal peserta di tempat yg telah ditentukan merupakan nilai-nilai yg ditanamkan pada setiap pertemuan sanskerta.
Stand-stand pameran yg memuat berbagai buku dan hasil karya sanskerta membuka wawasan peserta betapa sanskerta tidak hanya sekadar bahasa tetapi ia merupakan sebuah peradaban.

Jayatu Samskrta
Jayatu Dvipantara
Jayatu Sanathana Dharma

Pandita Agni Rishi Premadasa







Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok