Minggu, 27 Oktober 2019

HARI RAYA DEEPAVALI



Cahaya Dharma Dan Kebijaksanaan - Damai Bersatu Dalam Perbedaan
Shri Ganachakra – Veda Poshana Ashram



Perayaan Deepavali di Indonesia masih menjadi pro kontra hingga kini, bahkan pada level pemuka Agama Hindu Indonesia khususnya Bali.
Ada beberapa alasan mereka tidak mau mendukung apalagi melaksanakannya:

  1. Merupakan Budaya luar / India
  2. Tidak sesuai dengan budaya Nusantara
  3. Tidak pernah dilaksanakan dalam sejarah tradisi Bali
  4. Perhitungan yang berbeda dengan Kalender /Wariga Bali
  5. Tidak ada disebutkan dalam lontar manapun di Bali
  6. Hanya dilaksanakan oleh etnis India




Dalam konteks budaya memang benar Deepavali adalah merupakan budaya luar/India, namun apabila dilihat dari sisi Spiritualitas Hindu, yang mengedepankan spirit untuk melaksanakan Dharma, spirit untuk Bersatu dalam bingkai Hindu, spirit untuk kedamaian beragama, mengapa kita mesti berbeda? Mengapa mesti berdebat tiada ujungnya? Hindu diseluruh Dunia mengakui dan melaksanakan Deepavali, kenapa kita di Indonesia masih berdebat Panjang?
Alangkah bahagianya warga etnis India, apabila kita turut merayakan Hari Suci Hindu Deepavali, apalagi bila disahkan sebagai hari libur nasional, kesemuanya adalah demi kesatuan dan rasa persaudaraan dengan sesama Hindu, kesemuanya adalah untuk mencari persamaan agar timbul keharmonisan, bukan mencari cari perbedaan yang hanya akan menimbulkan konflik dan perpecahan, apalagi dengan meninggikan ego sebagai penganut traidisi sempurna yang tidak boleh mengikuti tradisi luar. Semua tradisi itu sepanjang tujuannya baik dan suci serta masih dalam bingkai spiritualitas Hindu, seyogyanya kita dukung dan rangkul dalam kedamaian kasih sayang.

Deepavali dirayakan selama 5 hari pada bulan Kartika atau purwani tilem antara sasih kapat - kelima dalam Kalender Bali atau Oktober – November dalam Kalender Internasional.
Deepavali adalah Hari Raya Suci Cahaya Agung, yang melambangkan kemenangan Cahaya atas Kegelapan. Cahaya adalah symbol Dharma, Spiritualitas, kebijaksanaan, pengetahuan, kedamaian, ketentraman, kemakmuran. Sementara Kegelapan adalah symbol Adharma, kejahatan, kehancuran, kekerasan, nafsu, iri hati, kebencian, keserakahan, penindasan, penderitaan.


Deepavali dirayakan beberapa hari (sesuai situasi-kondisi) dengan kesemarakan gemerlap cahaya Dipam (lampu minyak) dalam 5 (lima) wujud sebagai berikut:

  1. Dipam yang dilarung / dihaturkan diatas air (danau, sungai, kolam) sebagai perlambang kelahiran Dewi Lakhsmi untuk mendampingi Dewa Wishnu. Diharapkan para bhakta memperoleh kebahagiaan, kemakmuran dan kesejahteraan dengan ritual cahaya suci ini. Selain itu juga sebagai perlambang munculnya Dewa Dhanvantari dari dalam samudera, yang membawa beraneka ragam kekayaan, barang berharga, emas, perak, permata.
  2. Dipam dihaturkan disepanjang jalan, lapangan atau pintu masuk, sebagai perlambang penyambutan kemenangan Sri Rama (Dharma) melawan Rahwana (Adharma), tradisi ini dimulai sejak kembalinya Sri Rama ke kerajaan Ayodhya.
  3. Dipam dihaturkan di Kuil, Pura, Altar Pemujaan, untuk memperingati kemenangan Shri Wishnu (Dharma) melawan Raja Bali (Adharma), agar umat Hindu senantiasa ingat kepada Dharma, dengan senantiasa bhakti kepada Shri Wishnu (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dalam wujud persembahan Dipam.
  4. Dipam dihaturkan di lingkungan/rumah dengan segala dekorasi keindahan terutama dekorasi yantra dari tepung warna warni, untuk memperingati kemenangan Shri Krishna (Dharma) melawan Narakasura (Adharma), serta Shri Krishna mengangkat bukit Govardhan untuk menyelamatkan para bhakta dan sapi, agar kita senantiasa ingat/eling bahwa Shri Krishna sebagai Awatara Wishnu akan selalu berada bersama kita manakala kita selalu berjalan di jalur yang benar/Dharma.
  5. Dipam dihaturkan disekitar sapi atau tumbuh-tumbuhan, sebagai perlambang bhakti kepada Ibu Pertiwi, bahwa segala bentuk bhoga atau makanan yang membuat kita bisa bertahan hidup berasal dari Ibu Pertiwi.



Dalam setiap wilayah/daerah terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya, baik nama upacara, waktu pelaksanaan, urutan upacara, ada yang melaksanakan satu hari, ada tiga hari, ada lima hari, dan sebagainya,  tergantung desa (tempat) – kala (waktu) – patra (keadaan), namun hakekatnya adalah sama, yakni menggapai Cahaya Suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam menggapai Cahaya Suci Dharma, maka segala perbedaan tidaklah penting, karena semuanya luluh menyatu dalam Cinta Kasih Paramaatman yang tiada batasnya. Paramaatman saja tidak membatasi dirinya, mengapa kita yang penuh kegelapan ini mau membatasi diri dengan dalih tradisi, pengetahuan sempit dan ego? Mari kita semua menyatu dalam Cinta Kasih Paramaatman dengan meluluhkan segala bentuk perbedaan dan ego.


Lombok, 27 Oktober 2019
Selamat Merayakan Hari Suci Deepavali
Semoga perjalanan hidup kita semua senantiasa dalam penerangan gemerlapnya Cahaya Dharma.


Salam Kasih,

SHRI GANACHAKRA



Sabtu, 26 Oktober 2019

Buku Pedoman Garis Perguruan


Pedoman Garis Perguruan Veda Poshana Ashram
(Sila Krama Asevaka Guru)
Gayatri Savitri – Brahmarsi Viswamitra



Veda Poshana Ashram terlahir dalam bingkai Sanatana Dharma (Kebenaran Abadi) dan dalam warna warni  gambar Anutama Dharma (Kebenaran yang sesuai dengan jamannya). Kedua cahaya abadi dan perubahan inilah yang membawa Veda Poshana Ashram senantiasa berbenah dari waktu ke waktu dengan tali hubungan Satya Veda (Kesetiaan Kepada Veda) yang tak pernah puus.
System Aguron-guron perguruan Veda Poshana Dharma dan Anutama Dharma yang menjadi untaian dasar dari tali suci Satya Veda, yang akan terus abadi sepanjang jaman dalam sanbari setiap Bhakta yang lahir daripadanya di Sthana Suci Veda Poshana Ashram.
Dalam Veda Smrti 2.38 dengan gamblang menegaskan bahwa Gayatri Savitri adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang. Kewajiban inilah yang dijadikan dasar oleh veda Poshana Ashram untuk seluruh anggotanya.
Perguruan Gayatri Savitri Brahmarsi Visvwamitra yang diangkat kembali oleh Veda Poshana Ashram di Bumi Nusantara ini adalah sebagai jalan yang utama untuk kembali kepada Sang Pencipta, sebagai realitas tertinggi, sinar keabadian, sinar kebenaran, pusat sinar-sinar pribadi jiwaatma dalam setiap mahluk.
Untuk  memudahkan dalam pemahaman dan dapat dijadikan pedoman pelaksanaannya disusunlah buku  Pedoman Garis Perguruan Veda Poshana Ashram (Sila Krama Asevaka Guru). Dalam buku ini diuraikan antara lain tentang penjelasan mengenai sejarah singkat dan latar belakang berdirinya Veda Poshana Ashram .
Disamping itu juga diuraikan tentang sumber tatwa garis perguruan, sejarah diksa serta penjelasan secara rinci tentang system garis perguruan.
Intinya buku ini adalah penjelasan lengkap tentang apa dan bagaimana perguruan veda Poshana Ashram. Oleh karena itu jika anda sebagai anggota atau ingin mendapat penjelasan yang benar maka buku ini wajib dimiliki.
Untuk mendapatkan buku ini bisa langsung menghubungi pengurus melalui :
Facebook              Veda Poshana Ashram
Email                  : vedaposhana.ashram@gmail.com
                              giriramananda1@gmail.com

Whatsapp            Ida Acharya Rishi Agni Sadhu Giriramananda

Atau anda dapat mengisi formulir pesanan dengan KLIK DISINI



Minggu, 20 Oktober 2019

Shanti Puja Untuk Indonesia


Dalam rangka menciptakan suasana masyarakat Indonesia yang rukun dan harmonis menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2019 Menteri  Dalam Negeri membuat surat edaran No 111/11283/Sr , tertanggal  15 Oktober 2019 perihal  Himbauan Melaksanakan Himbauan Doa bersama kepada semua pemerintah daerah, lembaga agama serta ormas-ormas yang ada untuk melaksanakan doa lintas agama. Surat yang juga  ditujukan kepada Ketua Umum Prisada Hindu Dharma Indonesia diminta mengajak umat Hindu berpartisipasi secara ikhlas  untuk melaksanakan doa bersama di tempat peribadatan masing-masing.
Veda Poshana Ashram  juga berpartisipasi  melaksanakan kegiatan Santhi Puja untuk Indonesia sesuai dengan kondisi daerah masing-masing .  Ketua Umum VPA Pusat  Pandita Nabe Sri Begawan Agni Yogananda menghimbau kepada masing-masing cabang  Veda Poshana Ashram  agar melaksanakan puja tanggal 17 Oktober 2019 secara serentak jam 18.00

Beberapa Cabang melaksanakan shanty puja dalam bentuk Homa Yadnya tanggal 17 Oktober 2019, ada pula yang melaksanakan tanggal 18 Oktober  2019 dan untuk Veda Poshana Ashram  Cabang Lombok melaksanakan Shanti Puja selama 3 hari berturut-turut yaitu tanggal 17 Oktober 2019 bertempat di Pura Gunung Pangsung, Lombok barat ,  tanggal 19 Oktober 2019 bertempat di Pura Sri Sedana Cakranegara , Kota Mataram  dan tanggal 19 Oktober 2019 dilaksanakan di Pura Kaweri, Kecamatan Narmada, Lombok Barat.





Shanti Puja VPA Cabang Buleleng



Shanti Puja VPA Cabang Lombok di Pura Gunung Pengsong







Shanti Puja di Pura Sri Sedana, Cakranegara. Lombok



Shanti Puja di Pura Kaweri, Narmada- Lombok


Shanti Puja VPA Cabang Klungkung




Shanti Puja VPA Cabang Kalimantan Selatan

Shanti Puja VPA Cabang Karangasem

Shanti Puja VPA Cabang  Badung




Shanti Puja VPA Cabang Denpasar bersama Bali TV




Sabtu, 19 Oktober 2019

Cara Sederhana Dan Mudah Merasakan Hadirnya Tuhan Dalam Keseharian BG.VII. 8-10


Banyak cara, banyak ritual, banyak upaya sudah kita lakukan untuk memuja Tuhan tetapi masih sedikit dapat merasakan hadirnya Tuhan dalam setiap Ritual. Upacara Agama cenderung berjalan sebagai Ritual dan aktivitas sosial biasa. Selesai upacara yang dirasa hanyalah rasa "plong" karena kewajibannya sudah terlaksana. Bagaimana meningkatkan kualitas Upacara hingga sampai pada merasakan hadirnya Tuhan karena Ngerti dan Nglakoni. 

Untuk merasakan Tuhan hadir dalam keseharian cukup sederhana.
1. Raso ham apsu: Aku adalah rasa dalam air. Nunaslah Tirta setiap hari atau
ambil segelas air putih taruh di tempat sembahyang. Sembahyanglah terlebih dahulu dengan khusuk. Setelah tenang dimana suasana bathin terasa damai minum pelan2 air putih tadi. Rasakan segarnya rasa air sebagai Tuhan hadir dan mengalir di dalam tubuh kita. Niscaya kita akan sehat, segar dan bugar.

2. Prbhasmi sasi suryayoh: Aku adalah cahaya Matahari dan Bulan.
Di pagi hari cari tempat yang nyaman dan tenang di luar rumah. Usahakan cahaya matahari menerpa tubuh kita. Pejamkan mata lalu konsentrasi. Rasakan dalam2 hangatnya sinar matahari sebagai kehadiran Tuhan dalam diri kita. Lakukan ini berulang ulang niscaya kita akan sehat bahagia dalam lindunganNya.
Di malam hari sewaktu bulan purnama lakukan hal yang sama sebagai wujud menerima hadirnya Tuhan.

3. Pranavah sarva vedesu:Aku adalah suku kata OM dalam mantra2 Veda. Ucapkan pranawa OM setiap saat anda ingat setiap saat anda bisa maka Tuhan pasti hadir memberi perlindungan dan kekuatan. Gunakan liontin perhiasan bertuliskan Om kara yang selalu akan memberi kekuatan.

4. Sabda khe: suara di angkasa. Gemuruh di angkasa Suara petir di angkasa adalah wujud hadirnya Tuhan setiap saat. Pada saat terdengar sambut dengan ucapan OM.

5. Punyo gandhah prthivyam: bau harumnya tanah. Pergilah di tempat terbuka cari lahan tanah kosong. Duduk dengan tenang konsentrasikan pikiran lalu sujud cium ke tanah. Rasakan bau harumnya tanah sebagai wujud hadirnya Tuhan. Dapat juga dengan cara Ambil tanah asli yang bersih sekepal taruh pada alas lalu konsentrasikan pikiran sambil mencium bau harumnya tanah.

6. Tejas casmi vibhavasau: Aku adalah panasnya api. Di tempat sembahyang nyalakan dupa dipa lilin atau pasepan lalu rasakan panasnya api sebagai hadirnya Tuhan. Di dapur sambil memasak juga bisa dilakukan dengan cara merasakan panasnya api kompor sebagai kehadiran Tuhan yang mematangkan dan memberi energi semua makanan yang kita masak. Sambil masak sambil berdoa dalam hati sambil merasakan hadirnya Tuhan di hadapan kita mengalir merasuk dalam makanan yang kita olah dan ibu2 sajikan untuk anak2 dan suami. 

Selamat Membaca
Semoga Shanti dan memberi manfaat.

Namaste


Ki Panji

Rabu, 16 Oktober 2019

Total Surrender - Bhakti Yoga

  
oleh: Ida Pandita Agni Acharya Rishi Sadhu Giriramananda



Om namah shiva ya, har har Mahadewa ya.
Sebuah inspirasi dari  Bhagawad Gita Bab XI Sloka 53-55

Nahan vedair na tapasa
Na danena na cejyaya
Sakya evam vidho drastum
Drstavan asi mam yatha 

“Tetapi tak dapat Aku terlihat  dalam bentuk yang Arjuna telah saksikan, walaupun dengan mempelajari Veda veda, berpuasa, dengan pemberian pemberian sedekah atau pengorbanan pengorbanan” (BG XI - 53) 

Bhaktya tv ananyaya sakya
Aham evam vidho’rjuna
Jnatum drastum ca tattvena
Prabestum ca paramtapa 

“Tetapi hanya dengan Kesetian kepada Ku semata, dedikasi dengan  - total surrender - penyerahan diri total - tak terpecah pecah, maka intisari Ku  akan diketahui bahkan  masuk  ke dalam Ku, oh Arjuna” (BG XI-54) 

Mat karma krn mat paramo
Mad bhatah sanga varjitah
Nirvairah sarva bhutesu
Yah sa mam eti Pandava 

“Seseorang yang bekerja untukKu, yang menjadikan Diriku sebagai tujuan suci dan agung. Ia  selalu disiplin dalam memujaKu, lepas dari pamerih , melepaskan keterikatan dunia, selalu berbuat baik penuh kasih sayang kepada sesama, maka dipastikan bakta,shadaka   tersebut datang kepada Ku oh Arjuna” (BG XI-55)

Sri Shankara Acharya, seorang swami terbaik Hindu menegaskan BG XI-55 ini merupakan intisari dari seluruh Bhagawad  Gita itu. Maka senantiasalah disiplin , selalu berdedikasi dengan kosentrasi tinggi,  terpusat seluruhnya kepada Hyang Widhi. Beliaulah selalu dijadikan tujuan suci, agung tertinggi dan utama.  Cintai semuanya   tanpa diskriminasi , bantulah sesama makluk di dunia ini. Jangan sekali kali menyakiti hati orang  lain. Mengusik makluk lain baik yang tak berdosa maupun berdosa tanpa alasan pasti dan dapat dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Kalau ingin mengetahui hakekat keberadaan, kemurnian dan kesucian Brahman/ Krishna/ Paramashiva,  maka  sejatinya  kunci yang harus diikthiarkan itu sangat sederhana. Hanya  lakukan dedikasi dan kesetian total surrender  secara  tulus, kepada Tuhan semata. Tat asthu Om Kham Brah Esa Brahmistitah

Putrada Ekadashi


Putrada Ekadashi (Pausha-Shukla Ekadashi)



Yudhishthira Maharaja yang saleh dan suci berkata, "Ya Tuhan, Engkau telah menjelaskan kepada kami kemuliaan indah Saphalaa Ekadashi, yang terjadi selama dua minggu yang gelap (Krishna paksha) di bulan Pausha (Desember—Januari). Sekarang tolong berbelas kasih kepada saya dan jelaskan kepada saya detail Ekadashi yang terjadi dalam dua minggu terang (Shukla atau Gaura paksha) bulan ini. Siapa namanya, dan Dewa apa yang harus disembah pada hari suci itu? Oh Purushottama, Oh Hrishikesha, tolong juga ceritakan bagaimana Anda bisa senang pada hari ini?"

Shri Krishna kemudian menjawab, "Oh, raja yang suci, demi kebaikan semua umat manusia, sekarang saya akan memberi tahu Anda bagaimana menjalankan puasa di Ekadashi Pausha-shukla.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, setiap orang harus mematuhi peraturan dan ketentuan Ekadashi vrata, sesuai kemampuan mereka. Perintah ini juga berlaku untuk Ekadasi bernama Putrada, yang menghancurkan semua dosa dan mengangkat seseorang ke tempat tinggal spiritual.
Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa Shri Narayana, kepribadian aslinya, adalah Dewa Ekadashi yang dapat disembah. Dan bagi para penyembah-Nya yang setia, Dia dengan gembira memenuhi semua keinginan dan penghargaan dengan sempurna. Dengan demikian di antara semua makhluk hidup dan mati di tiga dunia (lebih rendah, menengah dan lebih tinggi), tidak ada kepribadian yang lebih baik daripada Narayana. Oh Raja, sekarang saya akan menceritakan kepada Anda sejarah Putrada Ekadashi, yang menghapus semua jenis dosa dan membuat seseorang terkenal dan terpelajar.

Pernah ada sebuah kerajaan bernama Bhadraavati, yang diperintah oleh Raja Suketumaan. Ratunya adalah Shaibyaa yang terkenal. Karena dia tidak memiliki putra, dia menghabiskan waktu yang lama dalam kecemasan, berpikir, "Jika saya tidak memiliki putra, siapa yang akan meneruskan dinasti saya?" Dengan cara ini raja bermeditasi dalam untuk waktu yang sangat lama, berpikir, "ke mana saya harus pergi? Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya bisa mendapatkan putra yang saleh?" Dengan cara ini Raja Suketumaan tidak dapat menemukan kebahagiaan di mana pun di kerajaannya, bahkan di istananya sendiri, dan segera dia menghabiskan lebih banyak waktu di dalam istana. Istrinya dengan muram hanya memikirkan bagaimana dia bisa mendapatkan seorang putra. Demikianlah Raja Suketumaan dan Ratu Shaibyaa berada dalam kesulitan besar. Bahkan ketika mereka mempersembahkan tarpana (persembahan air kepada nenek moyang mereka), kesengsaraan mereka membuat mereka berpikir bahwa itu sama sekali tidak dapat diminum seperti air mendidih. Mereka dengan demikian berpikir bahwa mereka tidak akan memiliki keturunan untuk menawarkan tarpana kepada mereka ketika mereka mati dan dengan demikian menjadi jiwa yang hilang (hantu). Raja dan ratu sangat sedih mengetahui bahwa nenek moyang mereka khawatir bahwa tidak akan ada yang menawarkan mereka tarpana juga.
Setelah mengetahui ketidakbahagiaan nenek moyang mereka, raja dan ratu menjadi semakin sengsara. Dan para menteri, teman, atau bahkan orang-orang terkasih pun tidak bisa menghibur mereka. Bagi raja, gajah-gajahnya, kuda-kudanya, dan infanteri bukanlah penghiburan, dan akhirnya dia praktis tidak berdaya.

Raja berpikir pada dirinya sendiri, "Dikatakan bahwa tanpa seorang putra, pernikahan akan sia-sia. Memang, bagi seorang lelaki berkeluarga yang tidak memiliki anak lelaki, baik hatinya maupun rumahnya yang indah tetap kosong dan sengsara. Di belakang seorang putra, seorang lelaki tidak dapat melunasi hutang-hutang yang ia miliki pada leluhurnya, para dewa dan manusia lainnya. Oleh karena itu setiap pria yang menikah harus berusaha untuk melahirkan seorang putra. Seorang putra adalah bukti dari kegiatan saleh yang dilakukan seorang pria dalam seratus masa lalunya, dan orang seperti itu mencapai masa hidup yang panjang di dunia ini, bersama dengan kesehatan yang baik dan kekayaan yang besar. Memiliki putra dan cucu dalam kehidupan ini membuktikan bahwa seseorang telah menyembah Wisnu, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, di masa lalu. Berkat besar putra, kekayaan, dan kecerdasan yang tajam hanya dapat dicapai dengan menyembah Tuhan Yang Mahatinggi, Shri Krishna. Itu pendapat saya."
Berpikir demikian, raja tidak memiliki kedamaian. Dia tetap dalam kecemasan siang dan malam, dari pagi hingga sore, dan dari saat dia berbaring tidur di malam hari sampai matahari terbit di pagi hari, mimpinya sama-sama penuh dengan kecemasan besar. Menderita kecemasan dan kekhawatiran yang konstan seperti itu, Raja Suketumaan memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya dengan melakukan bunuh diri. Tetapi dia menyadari bahwa bunuh diri membuat seseorang berada dalam kondisi kelahiran kembali yang neraka, dan karena itu dia meninggalkan gagasan itu. Melihat bahwa ia secara bertahap menghancurkan dirinya sendiri karena kegelisahannya yang besar akan kekurangan seorang putra, raja akhirnya menaiki kudanya dan pergi ke hutan lebat seorang diri. 

Tidak ada seorang pun, bahkan para imam dan brahmana istana, yang tahu ke mana ia pergi.
Di hutan itu, yang dipenuhi dengan rusa dan burung-burung dan hewan-hewan lainnya, Raja Suketumaan berkeliaran tanpa tujuan, mendapati semua jenis pohon dan semak yang berbeda, semua didekorasi dengan indah dengan buah-buahan dan bunga. Dia melihat rusa, harimau, babi hutan, singa, monyet, ular, gajah, sapi dengan anak lembu mereka, dan gajah empat taring dengan teman dekat mereka. Ada sapi, serigala, kelinci, macan tutul, dan kuda nil. Lihatlah semua binatang ini ditemani oleh pasangan dan keturunan mereka, raja teringat akan kebun binatangnya sendiri, terutama gajah istananya, dan menjadi sangat sedih sehingga dia linglung tanpa pikir mengembara ke tengah-tengah mereka. Pada tengah hari, raja mulai lelah. Dia disiksa oleh kelaparan dan kehausan juga. Dia berpikir, "Perbuatan dosa apa yang mungkin bisa dilakukan sehingga aku sekarang terpaksa menderita seperti ini, dengan tenggorokanku kering dan terbakar, dan perutku kosong dan bergemuruh? Aku menyenangkan para dewa dengan banyak pengorbanan api dan berlimpah ibadat. Saya telah memberikan banyak hadiah untuk semua brahmana yang layak. Dan saya telah merawat rakyat saya seolah-olah mereka adalah anak-anak saya sendiri. Lalu mengapa saya begitu menderita? Dosa apa yang tidak diketahui telah menghasilkan buah dan menyiksaku dengan cara yang mengerikan ini?"
Terserap dalam pikiran-pikiran ini, Raja Suketumaan berjuang maju, dan akhirnya ia tiba di sebuah kolam teratai yang indah yang menyerupai Danau Maanasarova yang terkenal. Dipenuhi dengan air, termasuk buaya dan banyak jenis ikan, dan dihiasi dengan varietas lili dan teratai. Teratai-teratai yang indah telah terbuka menatap Matahari, dan angsa, bangau, dan bebek berenang dengan gembira disana. Di dekatnya ada banyak ashram yang menarik, di mana terdapat banyak orang suci dan orang bijak yang dapat memenuhi keinginan siapa pun. Memang, mereka berharap kesejahteraan bagi semua orang. 

Ketika raja melihat semua ini, lengan kanan dan mata kanannya mulai bergetar, sebuah tanda sakuna (untuk laki-laki) bahwa sesuatu yang baik akan terjadi. Ketika raja turun dari kudanya dan berdiri di depan orang bijak, yang duduk di tepi kolam, dia melihat bahwa mereka melantunkan nama-nama suci Tuhan pada manik-manik japa. Raja menghormat dan menyapa mereka dengan pujian. Mengamati rasa hormat yang diberikan raja kepada mereka, orang-orang bijak berkata, "Kami sangat senang dengan Anda, ya raja. Mohon beri tahu kami mengapa Anda datang ke sini. Apa yang ada dalam pikiran Anda?
Raja menjawab, "Oh, orang bijak yang hebat, siapa kamu, siapa namamu, pasti kehadiranmu mengungkapkan bahwa kamu adalah orang suci yang baik? Mengapa kamu datang ke tempat yang indah ini? Tolong ceritakan semuanya."
Orang bijak menjawab, "Ya raja, kami dikenal sebagai sepuluh Vishvadeva (putra-putra Vishva; Vasu, Satya, Kratu, Daksha, Kaala, Kaama, Dhriti, Pururavaa, Maadrava, dan Kuru). Kami telah datang ke sini untuk hal yang sangat indah, untuk mandi di bulan Magha (mashava mase) akan segera tiba di sini dalam lima hari (dari Magh nakshatra), dan hari ini adalah Putrada Ekadashi yang terkenal. Seseorang yang menginginkan seorang putra harus dengan ketat mengamalkan Ekadashi yang khusus ini". Raja berkata," Aku telah berusaha keras untuk memiliki seorang putra. Jika Anda orang-orang suci yang agung senang dengan saya, mohon anugerahi saya memiliki putra yang baik. Orang bijak menjawab, "Arti dari putrada adalah pemberi seorang putra, putra yang saleh. Jadi tolong amalkan puasa lengkap pada hari Ekadashi ini. jika Anda melakukannya, maka dengan restu kami dan dengan kemurahan Tuhan Shri Kesava tentunya Anda akan mendapatkan seorang putra. 

Atas saran Vishvadevas, raja mengamalkan hari puasa yang baik dari Putrada Ekadashi sesuai dengan aturan dan peraturan yang berlaku, dan saat Dvadasi, setelah berbuka puasa, ia membayar penghormatan berulang-ulang kepada mereka semua. Segera setelah Suketumaan kembali ke istananya dan bersatu dengan ratunya, Ratu Shaibya segera hamil, dan persis seperti yang telah diramalkan oleh Vishvadeva, seorang putra yang berwajah cerah dan tampan dilahirkan untuk mereka. Pada saatnya ia menjadi terkenal sebagai pangeran yang gagah berani, dan raja dengan senang hati menyenangkan putra bangsawannya dengan menjadikannya penggantinya. Putra Suketumaan merawat rakyatnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah mereka adalah anak-anaknya sendiri.

Sebagai kesimpulan, Oh Yudhishthira, orang yang ingin memenuhi keinginannya harus benar-benar memperhatikan Putrada Ekadashi. Sementara di planet ini, orang yang dengan ketat mengamalkan Ekadashi ini pasti akan mendapatkan seorang putra, dan setelah kematian dia akan mencapai pembebasan. Siapa pun yang membaca atau mendengar kemuliaan Putrada Ekadashi memperoleh pahala yang diperoleh dengan melakukan pengorbanan kuda. Demi memberi manfaat bagi semua umat manusia, saya telah menjelaskan semua ini kepada Anda."

Demikianlah berakhir narasi kemuliaan Pausha-Shukla Ekadashi, atau Putrada Ekadashi, dari Bhavishya Purana dari Veda Vyasadeva.

Senin, 14 Oktober 2019

Matur Piuning di Pura Wanagiri Prako



Dengan ditetapkannya pelaksanaan Maha Shanti Puja ke 11 di Pura Wanagiri Prako, Desa Suranadi, Lombok maka kegiatan diawali dengan matur piuning (Melaksanakan upacara permakluman kehadapan Bhatara dan Ida Sanghyang Widhi Wasa) yang dilaksanakan pada Purnamaning Sasih Kapat tanggal 13 Oktober 2019.

Upacara dalam bentuk Agnihotra dipimpin oleh Pandita Agni Mas Suyasa. Peserta yang hadir adalah Panitia Maha Shanti Puja 11 serta Pengurus Pura Wanagiri Prako dan beberapa warga sekitar. Tanggal 13 Oktober 2019 jatuh pada Hari Minggu bertepatan dengan Purnama yang disebut Aditya Purnima adalah hari yang sangat baik untuk melakukan  pemujaan Agni, demikian dijelaskan oleh Pandit Shri Anantadamar Ganachakra.

Disamping Aditya Purnima, tgl 13 Oktober 2019 juga Purnamaning Kapat, dalam bahasa Sansekerta disebut dengan Kartikamasa dan disebut juga sebagai subha dewasa ( hari yang sangat baik).
Mengenai keindahan purnamaning kapat /kartikamasa tertuang dalam kidung Kawitan Wargasari  "Kartika panedenging sari’".
Artinya, Purnamaning Kapat merupakan musim semi, dimana bunga-bunga sedang bermekaran

Dari sudut pandang astronomi, khususnya di Bali, matahari dalam Purnama Kapat tepat berada pada garis katulistiwa.
Dalam bahasa Bali matahari itu disebut dalam posisi majeg atau berada di atas ubun-ubun.

Nah ketika berbicara di atas ubun-ubun, di situlah titik nol (0).
Titik nol itu adalah simbol daripada sunya (tidak ada) atau niskala. Keadaan ini akan dimulai dari 15 hingga 21 Oktober.Sehingga Purnama Kapat, sebagian di anggap Sakral.. 

Selama rentang hari tersebut, masyarakat diharapkan melakukan pembersihan dan membangun sifat-sifat kedewataan, sehingga tumbuh berkembang ibaratkan bunga. Hal tersebut tidak hanya dilakukan pada raga manusia itu sendiri. Namun juga harus dilakukan pada alam semesta beserta isinya.
Oleh karena itu hari ini sangatlah tepat untuk memulai Yadnya Maha Shanti Puja yang bertujuan untuk kedamaian semesta

Disamping upacara matur piuning juga sekaligus untuk melakukan praline Pelinggih Padmagiri karena akan dilakukan pemugaran dan dibuat pelinggih yang baru. Disepakati bentuk pelinggih Padmagiri dengan model Pesasakan yaitu Padma yang bentuknya sudah ada sejak jaman dahulu di Lombok, yaitu tidak dengan ornament bedawangnala. Menurut Pandit Shri Anantadamar Ganachakra , berdasarkan hasil pencariannya menemukan bahwa dalam Padma style Pesasakan, bedawangnala sudah dituangkan dalam bentuk rerajahan serta pis bolong sebagai pependeman, selanjutnya menurut beliau pis bolong ini tidak ditemukan di bali, oleh karena itu beliau mencari sampai ke Palembang.
Dengan persetujuan pengemong pura disepakati untuk menata Pura Wanagiri Prako agar menjadi indah dan asri, bukan menjadi megah. Hal ini selaras juga dengan nama pura yakni Wanagiri (hutan), di hutan tidak ada kemegahan tetapi yang ada adalah keindahan. Keindahan akan menimbulkan kebahagiaan serta kedamaian, berbeda dengan kemegahan yang biasanya cenderung berdampak pada kesombongan dan keangkuhan, demikian penjelasan Pandit Shri Anantadamar.

Homa Yajnya/Agnihotra berjalan dengan khidmat dan penuh vibrasi kesucian. Doa dan harapan pemujaan matur piuning adalah agar Ida Sanghyang Widi Wasa, Para Dewa dan Bhatara serta Para Pitara/Leluhur  memberikan restu, memberikan tuntunan sinar suci sehingga Maha Shanti Puja dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya untuk kedamaian Gumi Lombok, Nusantara, dunia dan alam semesta.

Dengan terlaksananya upacara matur piuning ini maka panitia sudah mulai untuk melaksanakan kegiatan persiapan, terutama akan dilakukan pemugaran pelinggih Padma, menata lingkungan serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya. Astungkara mapikolih kerahayuan.









Untuk melihat koleksi foto selengkapnya silahkan klik DISINI

Senin, 07 Oktober 2019

UTTHANA EKADASHI


UTTHANA EKADASHI
Ekadashi ini memiliki empat nama: Haribodhini - Prabodhini - Devotthani - Utthana Ekadashi
19 Nov 2018 pukul 05'05 sampai 20 Nov 2018 pukul 05'05

Dan itu adalah Ekadashi kedua (Kartika Shukla, dua minggu yang terang) di bulan Kartika.
Dewa Brahma berkata kepada Narada Muni, “Anakku terkasih, wahai orang  bijak terbaik, aku akan menceritakan kepadamu tentang keagungan Haribodhini Ekadashi, yang menghapus segala jenis dosa dan menganugerahkan pahala besar, dan akhirnya pembebasan, atas orang-orang bijak yang menyerah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Oh yang terbaik dari para brahmana, manfaat yang diperoleh dengan mandi di Sungai Gangga tetap signifikan hanya selama Haribodhini Ekadashi tidak datang. Ekadashi ini, yang terjadi selama dua minggu yang terang di bulan Kartika, jauh lebih memurnikan daripada mandi di lautan, di tempat ziarah, atau di danau. Ekadashi suci ini lebih kuat dalam meniadakan dosa dari seribu pengorbanan Asvamedha dan seratus pengorbanan Rajasuya.

Narada Muni bertanya, "Wahai ayah, tolong jelaskan manfaat relatif dari puasa sepenuhnya di Ekadashi, makan malam (tanpa biji-bijian atau kacang-kacangan), atau makan sekali di tengah hari (tanpa biji-bijian atau kacang-kacangan)." Dewa Brahma menjawab, "Jika seseorang makan satu kali di tengah hari di Ekadashi, dosa kelahirannya yang sebelumnya dihapus, jika dia makan malam, dosa yang didapat selama dua kelahiran sebelumnya dihapus, dan jika ia berpuasa sepenuhnya, dosa-dosa terakumulasi selama tujuh kelahiran terakhirnya dibasmi, apa pun yang jarang dicapai dalam tiga dunia diperoleh oleh dia yang ketat mengamalkan Haribodhini Ekadashi. Seseorang yang dosa-dosanya sama dengan Gunung Sumeru akan melihat mereka semua berkurang jika dia hanya berpuasa pada Papaharini Ekadashi (nama lain untuk Haribodhini Ekadashi). Dosa yang telah terakumulasi lebih dari seribu kelahiran sebelumnya dibakar menjadi abu jika ia tidak hanya berpuasa tetapi juga tetap terjaga sepanjang malam Ekadashi, seperti gunung kapas yang bisa dibakar menjadi abu jika seseorang menyalakan api kecil di dalamnya.
O Narada, seseorang yang dengan ketat berpuasa mencapai hasil yang telah saya sebutkan. Bahkan jika seseorang melakukan sedikit aktivitas saleh pada hari ini, mengikuti aturan dan peraturan, seseorang akan mendapatkan pahala sebesar Gunung Sumeru; Namun orang yang tidak mengikuti aturan dan peraturan yang diberikan dalam Kitab Suci mungkin melakukan aktivitas saleh sama dengan Gunung Sumeru, tapi dia tidak akan mendapat sedikit pun pahala. Orang yang tidak mengucapkan mantra Gayatri tiga kali sehari, yang mengabaikan hari-hari puasa, yang tidak percaya pada Tuhan, yang mengkritik Kitab Suci Veda, yang berpikir bahwa Veda hanya membawa kehancuran bagi orang yang mengikuti perintah mereka, yang menikmati istri orang lain, siapa yang benar-benar bodoh dan jahat, siapa tidak menghargai layanan apa pun yang telah diberikan kepadanya, atau siapa yang menipu orang lain - orang yang berdosa seperti itu tidak dapat melakukan kegiatan keagamaan apa pun secara efektif. Apakah dia brahmana atau shudra, siapa pun yang mencoba untuk menikmati istri orang lain, terutama istri dari orang yang lahir dua kali, dikatakan tidak lebih baik dari seorang pemakan anjing. O yang terbaik dari para resi, setiap brahmana yang menikmati hubungan seks dengan seorang janda atau seorang wanita brahmana yang menikah dengan pria lain membawa kehancuran bagi dirinya dan keluarganya. Setiap brahmana yang menikmati seks terlarang tidak akan memiliki anak di kehidupan berikutnya, dan setiap prestasi masa lalu yang mungkin ia peroleh telah hancur. Memang, jika orang seperti itu menunjukkan arogansi terhadap brahmana yang dua kali lahir atau guru spiritual, ia kehilangan semua kemajuan spiritualnya dengan segera, juga kekayaan dan anak-anaknya.
Ketiga jenis laki-laki ini merusak kemampuan mereka: dia yang karakternya tidak bermoral, dia yang berhubungan seks dengan istri seorang pemakan anjing, dan dia yang berkumpul dengan para penyamun. Siapa pun yang bergaul dengan orang-orang yang berdosa dan mengunjungi rumah mereka tanpa tujuan spiritual akan langsung menuju ke kediaman Yamaraja, pengawas kematian. Dan jika seseorang makan di rumah semacam itu, pahala yang diperolehnya hancur, bersama dengan ketenarannya, lamanya hidup, anak-anak, dan kebahagiaan. Setiap bajingan berdosa yang menghina orang suci segera kehilangan religiusitasnya, perkembangan ekonomi, dan kepuasan indera, dan akhirnya dia terbakar dalam api neraka. Siapa saja yang suka menyinggung perasaan orang suci, atau yang tidak menghentikan seseorang yang menghina orang suci, dianggap tidak lebih baik daripada keledai. Orang jahat seperti itu melihat dinastinya hancur di depan matanya.
Seseorang yang karakternya kotor, yang nakal atau penipu, atau yang selalu menemukan kesalahan pada orang lain tidak mencapai tujuan yang lebih tinggi setelah kematian, bahkan jika dia memberi sedekah dengan murah hati atau melakukan amal saleh lainnya. Oleh karena itu seseorang harus menahan diri dari melakukan tindakan yang tidak menguntungkan dan hanya melakukan yang saleh, dimana seseorang akan mendapatkan pahala dan menghindari penderitaan. Namun, dosa-dosa orang yang, setelah dipertimbangkan, memutuskan untuk berpuasa dari Haribodhini Ekadashi terhapus dari seratus kehidupan sebelumnya, dan siapa pun yang berpuasa dan tetap terjaga semalaman di Ekadashi ini mencapai pahala yang tak terbatas dan setelah kematian pergi ke kediaman tertinggi Dewa Wisnu , lalu ribuan leluhur, kerabat, dan keturunannya juga mencapai tempat itu. Bahkan jika nenek moyang seseorang terlibat dalam banyak dosa dan menderita di neraka, mereka masih mencapai tubuh spiritual yang indah dan dengan senang hati pergi ke tempat tinggal Vishnu.
O Narada, bahkan orang yang telah melakukan dosa keji untuk membunuh brahmana dibebaskan dari semua noda pada karakternya dengan lebih cepat di Haribodhini Ekadashi dan tetap terjaga malam itu. Pahala yang tidak bisa dimenangkan dengan mandi di semua tempat ziarah, melakukan pengorbanan kuda, atau memberi sapi, emas, atau lahan subur dalam amal dapat dengan mudah dicapai dengan berpuasa pada hari suci ini dan tetap terjaga sepanjang malam. Siapa pun yang mengamalkan Haribodhini membuat dinastinya terkenal. Karena Kematian sudah pasti, maka kehilangan kekayaan seseorang juga pasti. Mengetahui hal ini, wahai para resi terbaik, kita harus mengamalkan puasa pada hari ini yang begitu berharga bagi Sri Hari - Shri Haribodhini Ekadashi. Semua tempat ziarah di tiga dunia sekaligus datang untuk tinggal di rumah seseorang yang berpuasa di Ekadashi ini. Oleh karena itu, untuk menyenangkan Tuhan, yang memegang cakra di tangan-Nya, seseorang harus menyerahkan diri mengamalkan Ekadashi ini dengan puasa. Orang yang berpuasa pada hari Haribodhini ini diakui sebagai orang bijak, seorang yogi sejati, seorang pertapa, dan yang indranya benar-benar terkendali. Dia sendiri menikmati dunia ini dengan baik, dan dia pasti akan mencapai pembebasan. Ekadashi ini sangat disayangi Wisnu, dan dengan demikian itu adalah esensi dari religiositas. Bahkan satu ketaatan itu memberikan pahala tertinggi di semua tiga dunia.
O Naradaji, siapa pun yang berpuasa di Ekadashi ini pasti tidak akan memasuki rahim lagi, dan dengan demikian para pengabdi yang setia dari Keilahian Agung menyerahkan semua jenis agama dan hanya menyerah untuk berpuasa pada Ekadashi ini. Untuk jiwa agung yang menghormati Ekadashi ini dengan berpuasa dan tetap terjaga sepanjang malam, Tuhan Yang Maha Esa, Shri Govinda, secara pribadi mengakhiri reaksi dosa yang diperoleh jiwa oleh tindakan pikiran, tubuh, dan kata-katanya. "Hai anak laki-laki, bagi siapa saja yang mandi di tempat ziarah, memberi sedekah, menyebut nama-nama suci Tuhan Yang Maha Esa, mengalami pertapaan, dan melakukan pengorbanan untuk Tuhan pada Haribodhini Ekadashi, pahala yang diperolehnya menjadi tidak dapat binasa..seorang pemuja yang memuja Tuhan  Madhava pada hari ini dengan perlengkapan kelas satu menjadi bebas dari dosa-dosa besar ratusan kali kehidupan. 
Puasa Ekadashi ini sangat menyenangkan hati Tuhan Janardana sehingga Dia mengambil orang yang mengamalkan puasa  kembali ke tempat tinggal-Nya. Dosa-dosa dari seratus kelahiran masa lalu - dosa-dosa yang dilakukan selama masa kanak-kanak, pemuda dan usia lanjut di al masa kehidupan itu, apakah dosa-dosa itu kering atau basah - dibatalkan oleh Yang MahatinggiTuan Govinda jika seseorang berpuasa pada Haribodhini Ekadashi dengan pengabdian. Haribodhini Ekadashi adalah Ekadashi terbaik. Tidak ada yang tidak bisa didapat atau langka di dunia ini bagi orang yang berpuasa pada hari ini, karena ia memberikan biji-bijian makanan, kekayaan besar, dan pahala yang tinggi, serta pemberantasan semua dosa, rintangan yang mengerikan bagi pembebasan. Puasa di Ekadashi ini seribu kali lebih baik daripada memberi sedekah pada hari matahari atau gerhana bulan. Sekali lagi saya katakan kepada Anda, O Naradaji, pahala apa pun yang diterima oleh seseorang yang mandi di tempat ziarah, melakukan pengorbanan, dan mempelajari Veda hanya satu dari sejuta manfaat yang dihasilkan oleh orang yang berpuasa kecuali satu di Haribodhini Ekadashi. Pahala apa pun yang diperoleh seseorang dalam hidupnya oleh beberapa kegiatan saleh menjadi sama sekali tanpa hasil jika seseorang tidak mengamati Ekadashi dengan puasa dan memuja Wisnu di bulan Kartika. Karena itu, Anda harus selalu menyembah Tuhan Yang Mahatinggi, Janardana, dan memberikan pelayanan kepada-Nya. Dengan demikian Anda akan mencapai tujuan yang diinginkan, kesempurnaan tertinggi.

Pada Haribodhini Ekadashi, seorang penyembah Tuhan tidak boleh makan di rumah orang lain atau menyantap makanan yang dimasak oleh orang yang bukan pemuja. Jika dia melakukannya, dia hanya mendapatkan pahala puasa pada hari bulan purnama. Diskusi filosofis Kitab Suci di bulan Kartika menyenangkan Shri Vishnu lebih dari jika seseorang memberikan gajah dan kuda dalam amal atau melakukan pengorbanan yang mahal. Siapa pun yang meneriakkan atau mendengar kemuliaan Tuhan Vishnu, bahkan jika setengah atau bahkan seperempat dari sebuah ayat, mencapai pahala luar biasa yang berasal dari memberikan seratus sapi kepada seorang brahmana.
O Narada, selama bulan Kartika seseorang harus menyerahkan segala jenis atau tugas-tugas biasa dan mencurahkan seluruh waktu dan tenaga terutama saat berpuasa, untuk membahas lila rohani dari Tuhan Yang Maha Esa. Pemuliaan Shri Hari pada hari yang begitu berharga bagi Tuhan, Ekadashi, membebaskan seratus generasi sebelumnya. Orang yang menghabiskan waktunya menikmati diskusi seperti itu, terutama di bulan Kartika, mencapai hasil dari melakukan sepuluh ribu korban api dan membakar semua dosanya menjadi abu. Dia yang mendengar kisah-kisah indah tentang Wisnu, khususnya selama bulan Kartika, secara otomatis mendapatkan pahala yang sama seperti yang diberikan kepada seseorang yang menyumbangkan seratus sapi dalam bentuk amal..O orang bijak yang agung, orang yang melantunkan kemuliaan Tuhan Hari di Ekadashi mencapai pahala yang diperoleh dengan menyumbang tujuh pulau.

Narada Muni bertanya kepada ayahnya yang mulia, "Wahai yang terbaik dari semua dewa, tolong katakan padaku bagaimana cara mengamalkan Ekadashi yang paling suci ini, pahala apa yang diberikannya kepada orang beriman? "
Dewa Brahma menjawab, "Wahai putra, seseorang yang ingin mengamalkan Ekadashi ini harus bangun pagi-pagi di Ekadashi, selama jam brahma-muhurta (satu jam setengah sebelum matahari terbit sampai lima puluh menit sebelum matahari terbit)..dia kemudian harus membersihkan giginya dan mandi di danau, sungai, kolam, atau dengan baik, atau di rumahnya sendiri, sesuai dengan situasi yang ada. Setelah menyembah Tuhan Shri Keshava, dia harus mendengarkan dengan saksama lila suci Tuhan. Dia harus berdoa kepada Tuhan sebagai berikut: "Ya Tuhan Keshava, aku akan berpuasa pada hari ini, yang sangat berharga bagimu, dan besok aku akan menghormati prasadam suciMu. Ya Tuhan bermata teratai, Engkau adalah satu-satunya tempat tinggal. Tolong lindungi aku." Setelah mengucapkan doa yang khusyuk di hadapan Tuhan dengan kasih dan pengabdian yang besar, seseorang harus berpuasa dengan riang. Pada Haribodhini Ekadashi seseorang harus menyembah Shri Krishna dengan kapur barus, buah-buahan, dan bunga-bunga aromatik, terutama bunga agaru kuning. Seseorang seharusnya tidak menyerap diri dalam menghasilkan uang pada hari yang penting ini. Dengan kata lain, keserakahan harus ditukar dengan amal. Ini adalah proses untuk mengubah kerugian menjadi pahala yang tidak terbatas. Seseorang harus menawarkan banyak jenis buah kepada Tuhan dan memandikan-Nya dengan air dari cangkang kerang. Masing-masing praktik kesalehan ini, ketika dilakukan pada Haribodhini Ekadashi, adalah sepuluh juta kali lebih bermanfaat daripada mandi di semua tempat ziarah dan memberikan semua bentuk amal. Bahkan Dewa Indra mencakupkan telapak tangannya dan menawarkan hormatnya kepada seorang penyembah yang memuja Tuhan Janardana dengan bunga agastya kelas satu hari ini. Yang Mulia Hari sangat senang ketika ia dihias dengan bunga agastya yang bagus. O Narada, aku memberikan kebebasan kepada orang yang dengan setia memuja Sri Krishna di Ekadashi ini di bulan Kartika dengan daun pohon bel. Dan bagi orang yang memuja Janardana dengan daun tulasi segar dan bunga harum selama bulan ini, O nak, saya pribadi membakar sampai abu semua dosa yang telah dilakukannya selama seribu kelahiran.
Seseorang yang hanya melihat Tulasi Maharani, menyentuhnya, menceritakan sejarahnya, menawarkan hormat kepadanya, berdoa kepadanya untuk rahmatnya, menanamnya, memujanya, atau menyiraminya akan hidup di kediaman Tuhan Hari selamanya. O Narada, orang yang melayani Tulasi-devi dalam cara ini mencapai kebahagiaan di dunia yang lebih tinggi untuk sebanyak ribuan yuga karena ada akar yang tumbuh dari tanaman tulasi matang. Ketika tanaman tulasi penuh menghasilkan biji, banyak tanaman tumbuh dari biji-biji itu dan menyebarkan cabang, ranting, dan bunga mereka, dan bunga-bunga ini juga menghasilkan banyak biji untuk sebanyak ribuan kalpa karena ada benih yang dihasilkan dengan cara ini. Nenek moyang orang yang melayani tulasi dalam cara ini akan tinggal di kediaman Tuhan Hari.

Orang yang menawarkan bunga tulasi (manjari) kepada Shri Krishna selama bulan Kartika menerima pahala lebih dari yang bisa diperoleh dengan menyumbangkan sepuluh juta sapi. Bahkan persembahan bhakti dari tunas rumput yang baru tumbuh membawa serta seratus kali lipat manfaat yang diperoleh dari ibadah ritual biasa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Orang yang memuja Wisnu dengan daun pohon samika dibebaskan dari cengkeraman Yamaraja, tuan kematian. Orang yang memuja Wisnu selama musim hujan dengan bunga champaka atau melati tidak pernah kembali ke planet bumi lagi. 
Wahai brahmana terbesar, Shri Narada, selama bulan ini setiap orang harus secara teratur mempersembahkan lampu ghee kepada Wisnu atau Shrimati Tulasidevi di sebuah kuil.

Jadi saya telah menceritakan kepada Anda proses lengkap untuk mengamalkan Haribodhini Ekadashi. Seseorang yang membaca atau mendengar tentang ini mencapai pahala yang diperoleh dengan menyumbangkan sapi ke brahmana yang memenuhi syarat.
Dengan demikian berakhirlah narasi kemuliaan Karttika-sukla Ekadashi - juga dikenal sebagai Haribodhini Ekadashi atau Devotthaani Ekadashi - dari Skanda Purana.

Dari Hari-Bhakti-Vilasa:
PRABODHINIM UPOSYA EVA NA GARBHE MENGUNJUNGI NARAH SARVA DHARMAN PARITYAJYA TASMAT KURVITA NARADA (HARI BHAKTI VILASA 16/289 dari SKANDA PURANA diucapkan oleh Dewa Brahma) 
Oh Narada Muni, orang yang berpuasa pada Prabodhini (ketika Tuhan bangkit) Ekadashi, tidak masuk lagi ke dalam rahim ibu lain. Oleh karena itu, seseorang harus menyerahkan semua jenis pekerjaan dan puasa pada hari Ekadashi ini.
BHAKTIPRADA HAREH SATU NAMNA KSATA PRAVODHINI YASA VISNOH PARA MURTIR AVYAKTA ANEKA RUPINI SA MANAJEMEN KSIPTA LOKE DVADADI MUNI PUNGAVA (HARI BHAKTI VILASA 16/301 dari VARAHA PURANA, percakapan antara Yamaraja dan Narada Muni) Prabodhini Ekadashi ini terkenal karena menghargai pengabdian kepada Tuhan Shri Hari. Oh yang terbaik dari para resi (Narada Muni), kepribadian Ekadashi hadir di planet bumi ini dalam bentuk Tuhan Hari yang tidak terwujud. Shrila Sanatana Gosvami berkomentar dalam bukunya Digdarsini-tika bahwa orang yang dengan tepat mengamalkan Ekadashi dengan puasa, dia secara langsung memuja Tuhan Shri Hari. Ini adalah arti dari ayat ini. Karena itu, Ekadashi dikatakan sama dengan Tuhan Shri Hari sendiri.
EKADASYAM PARER DATTAM DIPAM PRAJVALYA MUSIKA MANUSYAM DURLABHAM PRAPYA PARAM GATIM AVAPA SA (HARI BHAKTI VILASA 16/129 dari SKANDA PURANA) Satu tikus (tikus betina) pernah membakar lampu ghee yang dipersembahkan oleh orang lain pada hari Ekadashi. Dengan demikian, ia mencapai bentuk manusia yang jarang dicapai dan akhirnya mencapai tujuan paling tinggi.
Shrila Sanatana Gosvami menulis dalam bukunya Digdarsini-tika, dalam ayat ini ditemukan bahwa adalah mungkin untuk mencapai hasil langsung menawarkan lampu pada Ekadashi. Sejarah tikus ini sangat terkenal di Padma Purana, Kartika Mahatmya. Di sebuah kuil Visnu, ada seekor tikus yang hidup dengan memakan ghee dari lampu-lampu ghee yang telah dipadamkan yang telah dipersembahkan oleh orang lain kepada Visnu. Suatu hari ketika dia merasa lapar untuk makan ghee, dia mencoba memakan ghee dari lampu yang belum padam. Sambil makan ghee dari lampu, sumbu kapas terjebak di giginya. karena sumbu ghee memiliki nyala api, tikus mulai melompat di depan arca Tuhan dan akhirnya tikus mati karena api. Tapi Shri Visnu menerima lompatan tikus itu dengan sumbu ghee menyala di mulutnya sebagai aratik-Nya. Pada akhirnya Dia memberikan pembebasan kepadanya.
Kenangan yang Tersisa Terjadi pada malam Prabodhini Ekadashi: (Padma Purana, Kartika Mahatmya). Dosa yang terkumpul dalam ribuan kelahiran sebelumnya terbakar seperti sekumpulan kapas untuk seseorang yang tetap terjaga selama Prabodhani-ekadasi. Semua dosa mental dan fisiknya akan tersapu habis oleh Shri Govinda.

Shri Damar

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok