Kamis, 21 Mei 2020

Proses Roh Setelah Kematian Melalui Dewayana (Utarayana ) Dan Pitrayana (Daksinayana)



Dikompilasi dari berbagai sumber oleh 
 Acharya Rishi Sadhu Giriramananda 

Dewayana alias Uttarayana merupakan proses perjalanan  roh setelah kematian pada sang yogi yang menekuni dyana / meditasi atau   disebut juga jalan  Pengetahuan / jnana agni. Sedangkan  Pitrayana dengan jalan  Daksinayana itu, diasosiasikan sang manawa yang lebih  dominan pada   jalan perbuatan / karma .   
Dewayana dan Pitrayana itu merupakan  paramater buah kerohanian yang berbeda alias tidak sama. Tahapan perjalanan roh  itu dominan  ditentukan tingkah laku, kesucian, cinta kasih, shadana intensif sang manawa ketika masih hidup berbadan wadag di dunia ini. 

Mengutip Chaandogya Upanisad , (Bab 10 : 1, 2, 3, 5, 6 , 7 dan 10 )

  1. Tad ya ittham viduh , ye ceme’ ranye sraddhaa tapa ity upaasate , te’ reisam abhisambhavanti , arciso’ hah , ahna aapuuryamaana paksam, aapuuryamaana paksaad yaan sad udann eti maasaams taan.           
“Demikianlah mereka yang mengerti memasuki hutan samadi, atas dasar tapasya dan sraddha, akan pergi kepada sinar, dari sinar kepada hari, dari hari kepada tengah bulan terang, dari setengah bulan kepada enam bulan pada matahari bergerak ke utara atau Uttarayana" 
  1. Maasebhyah samvatsaram , samvatsaraad aadityam, adityac candramasam, candramaso vidyutam, tat puruso ‘ maanavah , sa enaam brahma gamayati , esa deva yeenah panthaa iti. 
“Dari bulan bulan ini sampai tahun, dari tahun sampai matahari, dari matahari ke bulan, dari bulan kepada kilat. Ini sudah wujud niskala paramjyotir , kemudian membawa kepada Brahman, inilah jalan menuju dewata, Dewa yana.  
  1. Atha ya ime graama istaapurte dattam ity upaasate, te dhuumam abhisambhavanti, dhuumaad raatrim, raatrer apara paksam apara paksaad yaan sad daksinaiti maasams taan, naite samvatsaram abhipraapnuvanti. 
“Tetapi bagi mereka yang pada lingkungan hidup desa, kota, menjalankan hidup penuh yadnya, melakukan perbuatan untuk kepentingan umum dan berderma, mereka akan pergi melewati asap, dari asap kepada malam, dari malam setengah bulan gelap tanpa bulan, dari sini kepada matahari yang bergerak ke selatan / Daksinayana , akan tetapi tidak sampai tahun. 
  1. Tasmin yaavat sampaatam usitvaa’ thaitam evaadhvaanam punar nivartante yathenam aakaasam , aakaasad vaayum, vayur bhuutva dhuumo bhavati, dhuumo bhuutva bhram bhavati. 
“Setelah berdiam disana sepanjang masih ada sisa dari perbuatan baik, mereka kembali lagi menuju jalan itu, dari mana mereka menjadi angksa, dari angkasa menjadi udara, dari udara menjadi asap, setelah menjadi asap menjadi embun. 
  1. Abhram bhuutvaa megho bhavati , megho bhutvaa pravarsati, ta iha vriihi yavaa osadhi vanaspatayas tila maasaa iti jaayante, ato vai khalu durnisprapataram , yo yo hy annam atti yo retah sinncati tad bhuuta eva bhavati. 
“Setelah menjadi embun, menjadi mendung lalu turunlah hujan. Mereka kembali dilahirkan di sini, namun ada jadi  beras, gandum, pepohonan, tanaman jamu, pohon buah dan kacang kacangan. Dari sini pelepasan akan menjadi sangat sukar bagi siapapun yang menyantap makanan dan memetik buah, dia akan menjadi seperti dia. Namun pelepasan akan lebih mudah dalam wujud manusia. 
  1. Tad ya iha ramaniya caranaah , anhyaaso ha yet te ramaniiiyam yonim aapadyeran, brahmana yonim vaa ksatriya yonim vaa vaisya yonim va atha ya iha kapuuya caranaah abhyaaso ha yat te kapuuyaam yonim aapadyeran sva yonim vaa suukara yonim vaa candaala yonim vaa. 
“Mereka yang melakukan perbutan baik di sini akan memperoleh kelahiran yang baik, kelahiran sebagai Brahmana, kelahiran sebagai seorang Ksatriya, kelahiran Vaisya. Namun mereka yang perbuatanya jahat, kelahirannya sebagai anjing, babi atau candaala. 
  1. Atha ha ya etaan evam panncaagnim veda, na saha tair apy aacaram paapmanaa lipyate suddhah puutah punya loko bhavati ya evam veda, ya evam veda. 
"Namun dia yang  mengerti kelima api ini. (Kelima Api / Pancaagnim yang dimaksud adalah :  1. Alam Semesta, 2. Dewa Hujan/ Padjanyo, 3. Pertiwi, Bhumi, 4. Hakekat Diri Manusia, 5. Wanita,) Dia tidak akan tercemar oleh kejahatan, bahkan walau dia bergaul dengan mereka. Dia menjadi murni, bersih, memperoleh dunia kebajikan, yaa demikian dia yang mengerti Pancaagni itu" 

Pada Bhagawad Gita, VIII.24 , disabdakan Sri Krishna kepada Arjuna, menguatkan dari Chaandogya Upanisad.di atas :
Agnir jyotir ahah suklahSan masa Uttarayanam Tatra prayata gacchanti Brahma Brahma Vido janah 
“Api, cahaya, siang hari, dua minggu yang terang , enam bulan dikala Mentari bergerak ke Utara - Uttarayana- sang yogi meninggalkan raganya pada saat saat itu, mereka yang kenal dengan Hyang Maha Abadi akan pergi ke Brahman.

Kemudian Bhagawad Gita , VIII. 25.
Dhumo ratris tatha Krishnah San masa Daksinayanam Tatra candramasam jyotirYogi prapya nivartate. 
“Asap malam hari, begitu juga malam dua minggu yang gelap, enam bulan sewaktu Matahari bergerak ke selatan - Daksinayana, meninggalkan raga pada waktu itu, para yogi itu akan mencapai cahaya Sang Rembulan dan akan kembali lagi. 

Bhagawad Gita VIII. 28 
Vedesu yajnesu tapahsu Caiva Danesu yat punya phalam pradistamAtyeti tat sarvam idam viditva Yogi param sthanam upaiti cadyam 
“Seorang yogi yang mengetahui hal itu, maka jasa nya dianggap melampui semua jasa, yang didapatkan dari mempelajari Veda Veda, dari pengorbanan (Yadnya) Dana ( pemberian amal ) bertapa, (lakukan tapa brata yoga dyana samadi) , maka ia akan pergi ke Maha Agung Yang Abadi, - mencapai alam yang penuh kedamaian dan karunia. 

Bhagawad Gita memberikan solusi, pada Bab VIII. 13.
Om iti Ekaksaram Brahma Vyaharam mam anusmaran Yah prayati tyajan deham Sa yati paramam gatim 
“Sang yogi yang menyebut satu kata “Om” yang adalah Sang Brahman Yang Abadi, hidup di Dalam Ku, aspek yang sempurna adalah Brahman, maka sang Yogi pada saat meninggalnya akan pergi ke Tujuan Tertinggi.  

Tentang meditasi omkara, Om atau Omkara juga diharapkan di  Mudaka Upanisad. Meditasi omkara diterjemahkan   seperti seseorang memanah. Sabda Brahma omkara itu adalah busur nya. Sedangkan anak  panah nya adalah Atma. Sebagai  target atau sasarannya adalah Brahman. Jadi sang yogi diharapkan  melakukan konstruksi meditasi pada omkara menunggalkan Atma lebur dengan Brahma dengan suntuk meditasi  pada om. 

Ada lagi, metode   Tantra Shiva Shidanta. Sistem meditasi ini dengan mengekplore tujuh cakra dari Muladara, Swadistana, Manipura, Anahata, Visuda, Adnya dan Sahasrara dengan sistematis mengucapkan  om na ma si va ya  si va ya na ma om. 

Panca akasara Om Na Ma Si Va Ya itulah sebagai wahana dari Atma. Atman dibawa dari Muladara menuju Sahasrara melewati kundalini - ida pinggala sushumna  -  kendaraan  bermuatan Atma menuju Bindu. Setelah sampai Bindu di Sahasrara kemudian ditunggalkan / dikawinkan dengan Nadha atau Purusha, sebagai representasi Atma lebur dengan Paramatma di Sahasrara Cakra. Dengan meditasi itu sang yogi mencapai immortal/ keabadian. 



Acharya Rishi Sadhu Giriramananda 

Om Tat Sat Manawa Adalah “Anak Keabadian”


oleh : Acharya Rishi Sadhu Giriramananda


VEDANTA , menyatakan ada enam musuh yang keberadaanya laten dalam diri setiap manusia. 1. Kama/ keinginan, 2. Krodha / kemarahan, 3. Lobha/keserakahan, 4. Moha/ kayalan, 5. Mada/ kesombongan dan keangkuhan, 6. Matsarya/iri hati. 

Namun manusia sendiri bisa mengatasi sad ripu itu dan mengalahkan dengan kekuatan spiritual serta berusaha terus memurnikan pikiran . Dari sad ripu itu dua diantaranya, kama dan krodha , disebutkan paling berbahaya . Jika kama dan krodha itu dapat dikendalikan dengan kemurnian pikiran, maka empat lainnya akan lebih mudah. 
Jnana, yang tersembunyi dalam diri manusia ditutupi dengan kama dan krodha itu. Energi rajas dan tamas yang memotivasi pikiran menuju kama dan krodha harus dirubah menjadi energi satwam yang murni. 

Swami Sankaryacharya, dalam Vivekacudamani , Sloka 181, mengatakan 
“Tanmanah sodhanam karyam prayatnena mumuksuna” mereka yang berusaha memiliki kebebasan jiwa harus melatih kemurnian pikirannya dengan kerja keras. 
“Visuddhe sati caitasmin muktih karapalayate” ketika pikiran menjadi murni, selanjutnya akan bisa mewujudkan mukti, pembebasan akan menjadi buah yang bisa diraba di telapak tangan seseorang. 
“Indriyebhya param manah” Sesungguhnya manas lebih unggul dan mengontrol indria sensorik. 
“manasastu para buddhih” Buhdhi lebih unggul dari manas. 
“Budhi yi buddheh paratah tu sah” Apa yang lebih unggul dari Budhi adalah Dia atau Atman. 

Kebenaran Atman atau Brahman, disebut dalam Vedanta, dalam berbagai cara “ Om Tat Sat” 
Om itu Kebenaran. “Tat twam asi” itu adalah kamu. Sebuah fitur khusus dari kebenaran , ia selamanya murni, selamanya bebas dan selamanya bercahaya. Itu adalah ajaran tertinggi dari Vedanta. 
Tidak ada dosa yang mempengaruhi Atma. Tidak ada infeksi menyentuh Atman. Itu sebabnya Atma selalu disebut bebas. Itu hanya ada dalam Vedanta, dari ajaran ajaran mistik di seluruh dunia. 

Apa yang disampaikan Mahareshi Veda dari Svetasvatara Upanisad, sebagaimana dideklare Swami Wiwekananda di Amerika, “srnvantu” tolong dengarkan. Visve artinya Alam Semesta dimana mana. 

Ketika berbicara tentang kemanusiaan pandanganya. “Amrtasya putrah” manusia sejatinya, Anak anak keabadian. Wahai anak anak keabadian aku punya kabar baik untukmu. “Veda aham etam” bukan saja Aku tahu kebenaran itu, bahkan Aku telah menyadari dan mengalami kebenaran itu. “Saya telah menyadari diri yang terbatas ini ada pada yang tidak terbatas Atman. “Vedahametam purusam mahantam” Aditya Varnam” mulia atau bercahaya seperti Matahari. Tamasah Parastat, melampaui segala kegelapan dan kebodohan. “Itulah kebenaran yang saya sadari” tam eva viditva atimrtyumeti, “Kamu juga harus menyadari kebenaran ini supaya abadi” itu sejatinya hak sendiri, karena itu tidak perlu meminjam kebenaran itu dari orang lain. “Nanyah pantha vidyate ayanaya” tidak ada cara lain , tidak ada cara lain menuju kebebasan

“Nanyah pantha vidyate” tidak ada cara lain, menyadari kebenaran ini walaupun sedikit, bahkan sekilas dapat mengubah hidup manusia. Konon setelah mendengar “kebenaran itu, seorang individu yang korup, ia sangat terinspirasi kemudian berubah kehidupnya menjadi baik dan jujur dengan sikap pelayanan kepada kemanusiaan yang luar biasa. Demikian catatan ringan kompilasi dari Giriramananda 

Acharya Rishi Sadhu Giriramananda



Selasa, 19 Mei 2020

Makanan Merupakan “Trimurthi” Mahluk Tertua, Disebut juga “Pohon Penyembuh”

Perspektif Taittiriya , Maitri Upanisad dan Bhagawad Gita 

Kompilasi 
Acharya Rishi Sadhu Giriramananda 



Makanan, sejatinya sangat vital dalam keberlangsungan kehidupan sarwa prani termasuk manawa. Sebab , makanan  bukan saja merupakan Trimurti dan mahluk tertua di jagat ini, juga disebutkan sebagai pohon penyembuh untuk semuanya.  Karena itu, sebelum makan wajib hukumnya menyembah/ berdoa kepada makanan itu. 
Keutamaan makanan itu dimuliakan dalam, Taittiriya Upanisad Bab 2. 2. 
Anaad vai prajah prajayante , yah kas ca prthivim sritah ,
atho nnenaiva jivanti , arhainadapi yanty antatah,
annam hi bhutanam jyestham tasmat sadvausdham ucyate. 
Annad bhutani jayante , jatany annena vardhante adyate’tti ca bhutani,
tasmaad annam tad ucyate iti; Tasmaad va etasmad anna rasa mayyat anyo ‘ntara aatma prana mayah tenaisa puurnah , sa va esa purusa vidhi eva, tasya purusa vidhataam anvayam purusavidah , tasya prana eva sirah , vyaano daksinah paksah , apana uttarah paksah, akasa atma , pertivi  puccham pratistha , tad apy esa sloko bhavati. 

Artinya : 
“Dari makanan , sesungguhnya dihasilkan mahluk apa saja yang ada di bumi. Hanya dengan makanan saja mereka bisa hidup. Kedalam makanan mereka akan lewat pada akhirnya. Karena itu, “makanan” disebut pohon penyembuh semuanya. Karena siapa saja yang menyembah “Brahman” sebagai makanan, akan memperoleh semua makanan. Sebab makanan, sebetulnya “mahluk tertua” yang dilahirkan. Karena itu, makanan disebuh sebagai pohon penyembuh semuanya. Dari makanan lah mahluk mahluk dilahirkan dan dibesarkan. Dia disantap dan menyantap benda benda karena itu dia disebut makanan. Namun, makanan berbeda dari Atman yang memberikan sumber kehidupan dengan prana adalah kepalanya, vyana sisi kanannya, apana sisi kirinya, angkasa badannya dan bumi dasar atau bagian bawahnya”. 


Maitri Upanisad, menyebutkan “Esa’ thannam apas candrama ity appyanavati” artinya, Makanan , bulan adalah bentuk pertumbuhan dari omkara. Karena itu Trimurti juga dikatakan hadir dalam makanan itu, karenanya sebelum menyantap makanan harus mengucapkan doa mantra kepada makanan itu;
Annam Brahma Raso Wisnu  Bhokta Devo Maheswara” 
artinya 
"makanan adalah Brahma, sarinya adalah Wisnu dan yang mencerna sari sari makanan itu  adalah Maheswara” 

Bagian makanan yang paling kasar adalah Brahma, bagian yang lebih halus adalah Wisnu dan bagian yang paling lembut sari sari makanan adalah Shiva. Karenanya hormatilah makanan sebagai Trimurti Brahma, Wisnu dan Shiva. Makanan itu sebetulnya lebih tua dari manusia, makanan memberikan dan menjaga kehidupan kita, karena itu sebelum makan harus berdoa sehingga makanan itu menjadi prasad / lungsuran , surudan Ida Bethara. 

Dalam Bhagavad Gita , doa kepada pada sloka IV. 24 dan Sloka XV.14 , sebagai berikut : 
Brahmarpanam Brahma havir
Brahmaagnau Brahmanahutam
Brahmaiva Tena Gantavyam
Brahma karma Samaadhina 
Persembahan yadnya adalah Brahman.
Pengorbanan itu adalah Brahman,
jika Pengorbanan itu dikorbankan kepada Api Tuhan,
maka kepada Brahman lah datangnya,
seseorang yang melakukan kerja / persembahan kepada Brahman. 

Diperkuat juga dengan Sloka XV. 14 
Aham vaisvanaro bhutva praninam deham aaritah pranaapana samayuktah pacamy annam catur vidam
dengan menjadi api kehidupan, yang bersemayam di setiap mahluk yang bernafas ,menyatu dengan nafas yang ditarik dan nafas yang dikeluarkan , Kucernakan semua , empat jenis makanan. 

Demikian kompilasi catatan ringan ini, Tat Asthu Svaha Om Kham Brah Esa ParamashivastahπŸ™πŸ‘πŸ•‰πŸ”±πŸ‘πŸ™ Omkara ya namah

Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

Kamis, 14 Mei 2020

Omkara, Atma dan Brahman Dari Perspektif Upanisad

Dikompilasi
Acharya Rishi Sadhu Giriramananda



TUJUAN Agama kita adalah “Atmanam moksartham jagadithaya ca” Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai kelepasan, kebebasan, kesempurnaan roh (moksah),kesejahteraan umat manusia, kedamaian dan kelestarian dunia (jagadhita). Disadari, banyak jalan , marga, yoga menunju yang satu. Sarwadewa namaskaram Kesavam Pragaachati - apapun dewa , sesembahaan yang dipuja sampai kepada yang satu Hyang Widhi, Paramashiva, Brahman, Narayana dll. Namun sejatinya hanya ada satu Tuhan Mahamutlak Brahman tiada duanya “Eka evadvityam Brahman” Atau Ekatwa Anekatwa Swalaksaan Bhatara , “Keberadaan Tuhan tunggal, yang yang beraneka itu adalah personifikasi ketika berkriya menjalankan tugas melalui Bhatara”. Sejatinya hanya ada satu Hakekat Tuhan, Orang suci Rishi lah yang menyebut dengan banyak nama dan berbagai gelar. “Ekam sat viprah bahuda vadanti” Dalam Catur Veda , ada Maha Wakya , Rig Veda mendeklarkan Prajnanam Brahma “Kesadaran adalah Brahma” sedangkan Yayur Veda, Aku adalah Brahman, “Aham Brahma Asmi”’Sama Veda , Engkau adalah Itu “Tat Twam Asi” sedangkan Atharva Veda, Diri Sejati ini adalah Brahman, “Ayam Atma Brahma” Dalam BG Bhagawan Krishna menegaskan, Engkau adalah pancaraan Abadi dari Diri Ku. “Mamaiva jiva loke bhuta Sanatana” Manusia itu sejatinya adalah Tuhan. Keberadaan Atma di Hrdaya, nafas Shiva ham, So Ham, menegaskan manawa itu adalah Tuhan. Karena itu manusia Atma ditakdirkan untuk bersatu manunggal pada Paramaatma/ Tuhan, suatu hari nanti, cepat atau lambat sudah tentu sesui anugerah Nya.

Lalu dalam hidup ini apakah Dharma dari manusia itu? Derma/ bersedekah semata tidak mewakili Dharma. Derma sedikit berbeda dari Dharma/ Kebenaran. Tindakan duniawi yang bersifat sementara tidak bisa disamakan dari Dharma. Dharma, dalam pengertian yang sebenarnya merujuk pengertian yang abadi. Apa itu “Atma Dharma”. Dharma dari Jiwa. Dharma itu melampui semua tindakan keduniawian. Semua manawa/ nara harus mengingat asal nya. Ikan lahir dari air, ikan itu tanpa bisa bertahan bahkan sekejap saja tanpa air. Ikan akan merasa bahagia bila ia berada di Air, tempat asalnya. Manusia adalah percikan Tuhan. Manawa berasal dari asas Atma. Manusia lahir dari Atma. Karena itu manawa harus senantiasa merenungkan Atma. Jadi janganlah pernah melupakan Atma yang juga merupakan omkara atau Brahman sendiri. Atma sumber asal semua makluk termasuk Nara ini. 

Perlakukan Atma sebagai dasar kehidupan itu. Itulah Darma sejati, Atma Dharma yang harus diikuti semua manusia. Manusia bisa saja dapat Kekuasaan, Kekayaan, Kemakmuran, Reputasi, tetapi semua itu tidak bisa melindungi ketika kematian menghampiri. Karena itu, berpegang teguh , yakinlah pada diri sendiri ada asas Atma. Ketika kesadaran Atma itu dicapai, sadar selalu dengan Atma, maka bukan saja menyelamatkan di dunia sekala, juga menuntun ke dunia niskala, menuju keabadian, mukti dan kaivalya. Lalu apa salah satu marga / yoga efektif yang harus dilakukan? Dalam Mundaka Upanisad, disebutkan, “Yad arcimad yad anubhyo ‘nu ca, yasmin loka nihita lokinas ca , tad etad aksaram brahma sa pranas tad u van manah, tad etat satyam , tad amrtam , tad veddhavyam saumya, viddhi” maksudnya , Apa yang bersinar ?. Apa yang lebih halus dari yang halus? Dimana berpusat dunia ini, dan mereka mereka yang menjadi penghuninya? . Itulah Brahman, Yang Kekal. Itulah hidup, itulah vicara, itulah pikiran. Itulah yang benar, yang abadi. Wahai anakku. Itulah yang mestinya diketahui. Mengertilah akan hal itu. Kemudian, “Dhanur grhitva aupanisadam mahastram saram hy upasanisitam samdadhita: Ayamya tad bhavagatena cetesa laksyam tad evaksaram saumya viddhi” artinya mengambil sebagai gendeva , senjata ampun Upanisad, seorang mestinya menempatkan panah yang dibuat tajam oleh Samadhi. Menarik panah ini dengan pikiran yang dipusatkan pada yang itu, Brahman. Wahai anakku pahamilah Brahman, Yang Abadi sebagai sasaran. 

Kemudian secara lebih detail dijabarkan lagi. “Pranavo dhanuh , saro hy atma, Brahman tal laksyam, ucyate aprattena veddavyam, saravat tanmay bhavet” maksudnya. Aksara Aum / Om/ Omkara adalah gendewa nya, Atman sesungguhnya Panahnya. Brahman adalah sasaran dari hal itu. Demikian seseorang menjadi manunggal dengan hal itu. Anak panah Atma yang dibentangkan busur/ gendewa omkara akan mencapai sasaran Brahman. Setelah mencapai , “Samprayinam rsayo jnana trptah krtatmano vita ragah prasantah, te sarvagam sarvatah prapya dhira yuktatmanas sarvam evavisanti” Setelah mencapai dia/ Brahman, para Rshi, yang puas atas pengetahuan mereka yang memiliki jiwa sempurna. Dia terbebas dadi nafsu, tenang, setelah mencapai Hyang Maha Kuasa/ Brahman/ Paramashiva dari semua arah. Mereka yang bijaksana itu dengan pikirannya terpusat maka akan lebur ke dalam Hyang Semesta/ nirguna. Kemudian, “Vedanta vijnana suniscitarthah samnyasa yogaad yatayah suddhaasattvah te brahma lokesu paramtakale paramrtaah parimucyanti sarve” Para pertapa yang telah memastikan dengan baik makna dari pengetahuan Vedanta, Yang telah memurnikan sifat sifat mereka dengan jalan pelepasan, mereka bersemayam di dunia Brahman, dan pada akhir masa akan menunggal dengan yang abadi dan semuanya akan Terbebaskan, Mukti, Kaivalya. Sloka di atas terakhir ini, dari Mundaka Upanisad juga disitir pada Kaivalya Upanisad 1.4. 

Demikian tulisan kompilasi singkat dari berbagai sumber, Giriramananda, tat asthu svaha Om Kham Brah Esa Paramashivastah. Semoga menjadi inspirasi dan memotivasi.

Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

Covid -19 , Netra Pariksa dan Aksara Ang Ah - Ah Ang

Oleh:
Acharya Rishi Sadhu Giriramananda



BALIAN lebih lebih Sulinggih / Pandita putus alias menak di Bali, tidak bisa eksis tanpa pengetahuan aksara suci yang sangat sakral. Karena itu pengetahuan aksara suci itu bukan saja wajib diketahui, tetapi mau tidak mau harus mahir menerapkan secara riil pengetahuan aksara suci itu, yang diaplikasikan baik dalam Surya Sevana maupun saat ngeloka palasraya /muput karya. Apa itu Caturdasksara ( Sa Ba Ta A I Na Ma Si Va Ya A U M Ong) sedangkan Panca Brahma ( Sang , Bang, Tang , Ang , Ing) juga Panca Tirta ( Nang Mang Sing Wang Yang) termasuk Panca Aksara ( Mang Ang, Ong, Ung , Yang) Jika proses kelahiran/ Utpati, kehidupan/ Stiti dan Kematian/ Pralina dikonversikan dengan Dasaksara yang terdiri dari gabungan ( Panca Brahma dan Panca Tirta)

Nah saat Utpati / Sresti aksara yang digunakan adalah : Ing Bang Sang Tang Ang - Yang Wang Sing Mang Nang. Sedangkan, Sthiti atau Anugraha, aksaranya : Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang , sedangkan Pralina/ Samhara/ Tirobawa aksaranya : Ang Tang Sang Bang Ing Sing Wang Mang Nang Yang.

Selain Dasaksara, juga dwiaksara juga diaplikasikan pada moment spesifik, Dwiaksara itu terdiri dari : Ang/ Purusha / Api - Ah / Predana / Air sedangkan kematian Ah Ang.

Penerapan Dwiaksara itu sering juga digunakan oleh Balian. Seorang balian yang belajar Sastra, sebelum mengobati pasti langkah awalnya adalah memeriksa pancaran sinar radiasi mata si sakit. Dalam diagnosa awal itu, Sang Balian akan memeriksa apakah ada “sinar kehidupan” yang dipancarkan dari mata si sakit. Jika ada sinar kehidupan yang memancar dalam skema formula aksara Ang - Ah. Ang Ah itu merupakan peringkesan dari Triaksara , ang ung mang. Dimana, ang sebagai Purusha dan Ung Mang lebur jadi Ah dalam wujud Pradana. Nah .. jika dari sinar mata si sakit memancar Ang Ah, berarti ada tanda tanda kesembuhan dari si sakit. Namun bila sebaliknya ,kedua mata yang diperiksa itu tidak ada tanda tanda Ang Ah melainkan Ah Ang , maka dipastikan orang itu akan meninggal, tidak dapat ditolong oleh siapapun. Lalu apa hubungannya dengan Covid -19 , Pandemi Covid - Corona Virus Desease 19 itu, menjadikan anak manusia di seluruh jagat ini lemah kemudian meninggal. Sejatinya lahir, hidup , mati , semua karena kehendak Nya. Namun covid - 19 yang mulai pecah di Wuhan , Tiongkok, membuat paranoid - ketakutan - negara dan masyarakat, sehingga muncul lock down, stay at home, social distancing, cuci tangan, disinfectan , hand sanitizer, pakai masker, menjadi kata kata yang sangat pasif dengan frekuensi yang tinggi digunakan oleh banyak pihak sebagai salah satu protap - prosedur tetap , regulasi meminimalisid atau mencegah mutasi corona virus itu.

Namun jika dihubungkan dengan yuga, adalah suatu masa menyongsong era baru , the golden age, zaman emas, satya yuga. Sudah pasti manusia manusia terberkati itu harus , lakukan tapasya - tapa , brata , yoga, dyana , samadi - demikian pesan nya, selama 9 bulan dalam hiranyagarba - telur kosmos/ alam semesta ini. Sama halnya manusia lahir perlu bertapa 9 bulan di Garba Ibu. Covid - 19, dengan berbagai keterbatasan yang bisa dilakukan menuntut manusia eling mohon anugerah Ibu Durga. Mengutip Garba Upanisad, si cabang bayi yang masih umur 8 bulan di garba / perut ibu, sebetulnya setelah “berjanji” kepada Ibu, bahwa jika kelak lahir, akan mencari jati diri, merealisasikan atma, berlindung kepada Shankara, dan saat itupun Ibu Si Bayi memberikan anugerah inisiasi. Jadi inisiasi pertama diberikan oleh Ibu Kita sendiri seiring janji kita.

Mestinya dalam situasi covid -19 ini , sembilan bulan dikeram di Hiranyagarba/ Telur Kosmis ini, kita melakukan hal hal konstruktif, gunakan waktu semaksimal mungkin untuk introspeksi , refleksi kalau enggan disebut “tapasya”. - tapa, brata, yoga, dyana dan samadhi. Bisa jadi seperti Ratnakara, sebelum jadi Rishi Agung Walmiki, penulis Ramayana, adalah pejahat besar. Karena bunyaknya energi dosa, keburukan bukan vibrasi kesucian, menyebut angsara Rama saja susah, hanya bisa mengatakan Ma Ra - Ma Ra yang artinya Bahaya, Bahaya bukan Ra Ma - Tuhan Penuh Anugerah. Setelah lama bertapa hingga tempatnya bertapa jadi “bukit semut” baru bisa mantap mengucap nama Rama dan kemudian memberikan anugerah kepada Ratnakara, sehingga menjadi Rishi Agung Walmiki, penulis wiracaritra Ramayana. Atau praktek orang orang tak baik, mencelakai seseorang, sering memutarbalikkan posisi aksara pada orang yang disasar. Menjadikan hal itu inspirasi, pembelajaran kenapa Covid- 19 Corona Virus Desease itu agar aksaranya itu diapresiasi, dipersepsi dan diafirmasi secara konstruktif serta positif. Dari perspektif, spiritual, untuk menjadikan orang itu keluar dari avidya/ kebodohan, kelemahan/ ketidakberdayaan , solusinya adalah dengan menggunakan “jnana agni” api suci pengetahuan rohani. Jnana agni itu diyakini dapat membakar sarwa papa, klesa, roga, winasaya. Lalu bagaimana caranya, Maka rubahlah juga letter , Covid - 19 itu menjadi kepanjangan kata kata suci , luhur, terberkati dan penuh anugerah. Hurup C - consciusnes atau “kesadaran” . Nah .. manakala ada kesadaran akan Hyang Widhi maka secara gradual , evolusi pasti lebih baik. Sedangkan hurup O, bisa saja Omkara, sebagai Sabda Brahma , Suara Tuhan. Atau O itu bisa Omnipotent - Mahakuasa Omnipresent - Hadir Dimana-mana Omniscient - Mahatahu

Lalu bagaimana halnya dengan V , bisa diartikan V - Victory - Kemenangan
Void -Kekosongan , Keampaan atau Pengetahuan Abadi Veda. Sedangkan I - Ishvara atau I - Ishana / Shiva.

D - Deva bisa juga Durga. Dengan kesadaran tuhan itu Mahakuasa, Hadir dimana mana, Mahatahu, melalui kekosongan, kehampaan meditasi kepada Ishwara atau Ishana dan juga Durga , Ardenareswari maka akan mencapai angka 1 adalah Tuhan, Ekasara, Omkara , sedangkan angka 9 mencapai level deret angka tertinggi sempurna. Bukanlah jika, aksara menyeramkan Covid- 19 itu dilebur dengan “Jnana Agni” isoterik advaita menjadikan kita mencapai kesempurnaan manunggal dengan Shiva Durga, dalam kekosongan omkara menerima kesadaran dari Hyang Mahakuasa, Ada Dimana-mana dan Mahatahu. Demikian perenungan Acharya Rishi Sadhu Giriramananda, atas situasi tak kondusif Covid- 19. Rubahlah aksara covid-19 itu menjadi konstruktif suci, luhur, penuh anugerah dan sempurna seperti formula di atas. Om Tat Sat Om Kham Brah Esa Paramashivastah. Klungkung Semarapura, kirang langkung nunas ampure. Jika dianggap konstruktif digunakan, jadikan inspirasi dan motivasi. Jika tidak, abaikan, delete dari memori. 


















Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

All Out Dalam Vairagya, Niddhidyasana To Be Mukti




Kompilasi , catatan ringan
Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

Dalam Mundaka Upanisad, diceritakan seorang pencari Tuhan yang serius bernama Saunaka. Sang Shadaka ini mendekati Maharishi Angiras, yang memperoleh anugerah dan menjadi penerus gurunya , salah satu dari Saptarishi yakni Maharishi Bharadwaja. Rishi Angiras, senantiasa menyampaikan pengetahuan kerohanian, setelah tamat dan kemudian mengetahui pentingnya Veda dan Kesadaran Tuhan. 
Saunaka, bertanya “Apa yang harus diketahui dan dengan semua itu telah diketahui,”?
Kemudian Rishi Angiras menjawab, ada dua jenis pengetahuan yang harus diketahui seseorang jika mau belajar Veda. Yakni Para Vidya - pengetahuan tertinggi Brahma Vidya dan Apara Vidya adalah pengetahuan duniawi. 
Para Vidya pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang Kesejatian Diri, Paramatma atau juga disebut Brahma Vidya. 
Sedangkan Apara Vidya, adalah pengetahuan duniawi yang tidak berhubungan dengan “Kesadaran Ketuhanan” Sejatinya, semua buku buku adalah hanya bisa menyampaikan pengetahuan saja dan tidak bisa berkomunikasi dengan kita apalagi penanamkan pengetahuan niskala dengan baik. Seperti halnya transformasi Pengetahuan Para Vidya, yang dilakukan Para Rishi yang memiliki pengalaman langsung mengenai kesadaran Tuhan. Karena itu mendengarkan kata kata guru kerohanian, khususnya yang memahami dan tahu substansi kitab suci dengan baik adalah sangat penting dalam elevasi spiritual. Mendapatkan pembelajaran dari Guru yang memiliki kekuatan saksatkara “kesadaran” yang teguh kepada Tuhan, selain juga Guru yang punya pengalaman langsung niskala atau anubhawa jnana. 

Kehadiran dari seseorang yang mengetahui kesadaran Sang Diri, menyejukkan kepada pencari Tuhan itu, sehingga dapat memberikan vibrasi Ketuhan yang agung. Seorang guru kerohanian yang sudah memiliki pengetahuan Sang Diri, akan memunculkan nilai nilai Jnana dalam pemikiran, pembicaraan, dan tingkah laku dari aktivitas mereka. Karena itu hidup bersama dengan Guru kerohanian, akan dapat kesempatan mempelajari sifat sifat spiritual dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya dengan praktek langsung. Hasilnya, para pencari Tuhan yang serius pasti akan mengembangkan keinginan yang kuat mencapai Atma Jnana bahkan mumuksuthwa - keinginan dan hasrat yang kuat mewujudkan mukti, kaivalya atau moksah itu sendiri. Sravana ( mendengarkan) membimbing dan membawa kita dekat dengan lautan ilmu pengetahuan spiritual. Manana ( perenungan/ merefleksika pikiran) adalah untuk menyadari atma dengan cara menstabilkan dari Sravana . Sedangkan Nididyasana atau meditasi dengan Sang Diri alias Atma, adalah mensinergikan semua pelajaran tentang Jiwa dan Paramatman, yang dipahami dengan jelas setelah diadopsi dari proses sravana dan manana.


Maka Nididyasana, merupakan proses yang serius, strike dalam shadana dengan aturan aturan yang kuat dari vairagya , melepas pikiran dari segala pengaruh tarikan indria indria, namun tetap mengikatnya beberapa kebenaran yang muncul dalam diri. Dalam proses meditasi, pikiran kita benar benar fokus dan terkosentrasi pada unsur terdalam dalam diri yang suci yaitu Atma. Penekanan shadana ekstra juga ditegaskan Tuhan Pencipa Dewa Brahma dalam Kaivalya Upanisad , kepada muridnya Rishi Asvalayana. Ringkasan shadana dari Dewa Brahma dalam mewujudkan pengetahuan Sang Diri, selain vedanta sravana, manana dan nididyasa pelajaran yang sistematis dengan Upanisad, pemahaman dan juga perubahan yang terjadi karena Upanisad itu. Tiga kata kuncinya adalah Sradha, Bhakti dan Dyana selain itu Dewa Brahma juga mengajarkan dalam betuk tyaga / pengorbanan yang dikenal sebagai Vairagya.

Upanisad menekankan,dengan penolakan pada hal hal meterial, maka akan pengarahkan pencapaian Moksah itu. “ Na Karmana Na Prajaya Na Danana Tyagenaike Amritatvamaanasu” tidak dengan melakukan perbuatan baik, berketurunan dan punya kekayaan tetapi dengan pelepasan ikatan terhadap dunia meterial, atau pengorbanan , maka keabadian / amritam/ immortal akan didapatkan.

Dijelaskan juga oleh Dewa Brahma dalam Kaivalya Upanisad itu, ada tiga tingkatan meditasi yakni merenungkan Tuhan dalam bentuk tunggal atau ( ek rupa saguna) Tuhan dalam bentuk bermacam macam alias vishva rupa. Dan Tuhan dalam Nirguna. Pada proses meditasi semakin sempurna sesuai tingkatan di atas, sang yogi akan menyadari unsur Ketuhanan sendiri sebagai pemahaman yang utama dalam pelaksanaan Samadi. Sang yogi akan memahami Mahavakya Vedik, Aham Brahmaasmi, penemuan inilah yang disebut moksah. 

Demikian kompilasi catatan ringan Acharya Rishi Sadhu Giriramananda, kirang langkung sinampura. Semoga dapat memberikan inspirasi dan motivasi. 

Om Tat Sat Asthu Om Kham Brah Esa Paramashivastah , Shivoham bho shivoham bho saranam bhaje


   Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

Bersahabat Dengan Kematian


 
Kompilasi berbagai sumber oleh
Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

TOPIK ini bisa jadi aneh. Biasanya secara duniawi orang diharapkan bersahabat dengan tokoh, pejabat, bigboss. La ... Ini kok rada aneh “Bersahabat dengan Kematian” Kenapa? sejatinya “kematian” itu keniscayaan, karena itu kesempatan hidup menjadi “mahluk paling utama di antara 8.400.000 di alam semesta” jangan disia siakan, tanpa berusaha berjuang eskra bershadana, agar benar benar siap lahir , batin dan spiritual menjalani kematian itu seperti , Rishi Markandeya, Naciketa, Sidharta dan Raja Parikesit.

Sejatinya, dalam peradaban rohani/ spiritual, kematian itu benar benar disadari, tidak adanya suatu ketidakterpisahan dari kehidupan itu sendiri. Sebab, Kematian ( mrtyu) itu adalah salah satu bagian integral dari janma (kelahiran) jara ( usia tua) , vyadhi ( penyakit) dan dukha ( duka citta). Di Bali dikenal suka, duka , lara dan pati, hidup ini berbekalkan prinsif ( bahagia, duka, sesangsara, dan kematian) . Nah .. manawa yang dibekali tripramana , bayu, sabda idep itu , sebagai mahkluk utama dengan tripramana di antara 8.400.000 spesies di jagat ini, Sang Bhakta, Shadaka, Yogi yang sudah mengerti tentang hakekat jiva ( jivasa tattva jijnasa), karena itu manawa yang hidup dalam peradaban , komunitas spiritual itu sejatinya telah merancang dengan baik, mempersiapkan diri sejak dini bagaimana cara kematian yang baik. Artinya menjadikan kehidupan yang diyakini merupakan kesengsaran ini, sebagai proses pendakian menuju kebebasan. Tujuan agama kita sendiri Atmanan moksartham jagadhita ya ca ity dharma ( mewujudkan kehidupan moksah di niskala dan jiwanmukta sejahtera dan bahagia di Bumi) Dharma sendiri dipahami sebagai jalan pergi ke Surga “ikang dharma ngaranya, henuning mara ring suarga ika” . Bagi manawa yang hidup di jalan peradaban rohani, yang sudah menyadari jalan “pembebasan” , dunia material ini tidak lagi sebagai hal “sensual” gemerlap yang harus diburu dengan ngoyo, melainkan kenyataanya adalah maya atau ilusi. Sebab, dalam perspektif dan apresiasinya, hidup di jagat ini atau dunia hanya menjalani menuntaskan karma masa - vasana dan samskara lalu - karena itu membosankan sebab merupakan tempat kematian (mrtyuloka) , tempat penderitaan (dukhalayan) kesementaraan ( asasvatam), dan penuh kayalan ( cancalan). Diyakini, dan disadari tidak ada kebahagiaan yang sejati atau kebahagian kekal abadi di sini. Karena itu, kematian dirindukan sebagai medium pembebasan, atau penyatuan mukti, kaivalya dengan Hyang Widhi, Sang Pencipa sumber tertinggi Kebahagian dan juga Keindahan ( sat cid ananda).

Namun penting wajib diingat konsep rindu mati ini, tidak dimaksudkan membenarkan tidakan bodoh “bunuh diri” . Jika tindakan konyol bunuh diri dilakukan sebagai usaha melepas dari penderitaan, maka hukumnya sangat mengerikan. Menderita di alam neraka 60 ribu tahun, bukan saja jiwa yang meninggal orang jadi mederita, termasuk yang membantu menurunkan , memikul, memprosesi jenasah orang mati bunuh diri, demikian juga Sang pandita pengantar prosesi terakhir juga terkena imbas vibrasi buruk tindakan nekadnya itu. 


Bebas dari Kematian ..
Manawa yang bersahabat dengan “kematian” itu sebetulnya bebas dari kematian. Sebab yang sangat merindukan kematian dengan cara baik itu adalah manawa yang menjalankan hari hari dengan teman dengan penuh cinta kasih dengan total surrender”
(maduria) kepada Tuhan/ Hyang Widhi, seperti halnya Para Gopi nya Krishna, Para Wiku Putus, Muni, Shidha, Sadhu, Aghori, Pertapa mengawal shadana ekstra mewujudkan kesejatian itu. Tiada lain Sahabat yang dirindukan sangat mendalam itu adalah Hyang Widhi. Mungkin dalam

persepsi lain diyakini sebagai Brahman, Paramashiva, Narayana , Hyang Tunggal, Acintya, Hyang Embang dll. Sebab hanya Hyang Widhi yang merupakan sahabat sejati di dunia ini. Seperti doa Veda yang memposisikan Hyang Widhi sebagai sahabat itu adalah. Twan Eva Mata Ca Pita Tvam Eva, Twam Eva Bhandosca Sakha Twan Eva , Twam Eva Vidyam Dravinam Tvam Eva , Twan Eva Sarwam Mama Deva Deva , Och Hyang Widhi “Engkau adalah Ibu, Engkau adalah Ayah, Engkau adalah Keluarga dan juga Sahabat,Engkau adalah Pengetahuan dan juga Kekayaan, Engkau adalah segala galanga,Oh Dewa Para Dewa, Tuhan Paramashiva” Dalam Bhagawad Gita , 5.9, Tuhan disebutkan “Suhridam Sarvabhutanam, merupakan sahabat paling utama seluruh mahluk hidup. Jadi, apabila manawa ini menyadari hakekat dirinya adalah Roh atau Atma yang kekal abadi dan bukan badan jasmani yang bersifat sementara “yan matutur ikang Atma rijatinya” ia akan bersdhana ekstra menurut pengertian itu, melakukan wairagya dan tyaga, meninggalkan paham paham material yang bersifat sementara. Dengan solusi itu, maka niscaya Sang Atma yang bersifat rohani, bahkan Tuhan di dalam diri ini , secara otomatis akan selalu dirindukan sebagai sumber kebahagian rohani. Karena itu kita mau tidak mau harus bersahabat dengan kematian itu sendiri.


Memuja Shiva ...
Daya kekuatan kematian merupakan suatu faktor adanya pemujaan salah satu dari trinitas Trimurti khususnya Shiva/ Pelebur. Sedangkan , Brahma/ Pencipta, Wisnu/ Pemelihara. Shiva merupakan Tuhan Trimurthi, penguasa kematian itu sendiri. Pemujaan kepada Shiva juga dihubungkan dengan tokoh Lubdaka. Padahal sang “Pemburu” itu banyak sekali melakukan tindakan “himsa” karma . Suatu saat si Pemburu, kemalamam di hutan. Lubdaka, sama sekali tidak menyadari tindakannya - mejagra, mempersembahkan bilva ke linggam - itu kelak setelah mati mendapat anugerah luar biasa dari Shiva. Kisah nya saat itu Lubdaka kemalaman dalam usaha menyelamatkan diri di hutan dari santapan harimau,Lubdaka memetik metik daun bilwa untuk mengusir rasa kantuknya. Nah .. , daun bilwa itu persis jatuh di atas linggayoni yang ada di samping telaga. Singkat ceritra, saat kematian roh Lubdaka, dibawa pasukan Yamadewa yang dipimpin Kingkarabala. Saat itu, Shiva mengutus Gan gan Pret - Gana gana dan preta preta .. juga . Perang perebutan roh Lubdaka tak terelakkan. Kemenangan sudah pasti di pihak anak buah Shiva . Roh Lubdaka kemudian dibawa dan mendapat anugerah ke Shivaloka, walau usaha shadana Jagra, menghaturkan daun bilwa kepada Lingga saat malam paling gelap Shivaratri itu dilakukan dengan tidak disadar. Namun karena bershadana Shivaratri pada hari spesial dan istimewa Shiva, makan anugerah luar biasa. Apalagi para bhakta, yogi, shadaka Shiva dengan konstruksi penuh kesadaran dan cintakasih merayakan hari suci Shivaratri dengan Tapasya, Jagra dan Persembahan Panca Amritam dan Bilwa itu, betapa anugerah nya??? . Dan penulis sudah pasti tidak pernah absen lakukan shadana shivaratri itu.

Lain lagi ceritra Rishi Markandeya saat menghadapi kematian. Markandeya muda adalah anak Rishi Merkandu. Sang Rishi punya anak cerdas itu sejak umur 4 tahun sudah menguasai Veda. Namun sang Mahayogi Markandeya, yang kemudian menanam pancadatu di Pura Basukihan, negdegang gumi Bali, umurnya ditakdirkan hanya sampai 16 tahun. Demikian anugerah dewata kepada Rsihi Merkandu saat memohon anak. Walau sudah seorang Rishi , tetapi sang ayah tetap sedih, murung menjelang kematian anaknya. Markandeya muda mengetahui kegundahan ayahnya. Kemudian bertanya apa yang menyebabkan ayah nya bersedih. Diceritrakanlah kehidupan Markandeya akan segera berakhir bertepatan dengan usia 16 tahun. Lalu apa solusinya, ayahnya kemudian meminta Markandeya bertapa di hutan meditasi pada linggayoni, dengan mengucapkan om na ma si va ya. Saat dauh kematiannya tiba, pasukan Yama gagal, hingga Dewa Yama sendiri melasso Markandeya, spontan Markandeya mengucapkan dengan keras om na ma si va ya . Shiva pun muncul serta merta melabrak Dewa Yama, untuk melindungi yogishiva. Singkat ceritra dianugerahkan lah Mantra dashyat Shiva “Trayambhakam” untuk mengurip Dewa Yama dan sejak itu Rishi Markandeya dianugrahu keabadi hidup chiranjiwi, hingga kemudian menyebarkan ajaran Shiva ke Bali dan juga menanam pancadhatu. Soal dharasan , sparsam sambhasan dan anugerah omkara dari Rishi Abadi ini kebetulan Giriram, dianugrahi 3 kali pertemuan niskala melalui anubhava meditasi. Termasuk mendapat view niskala Rishi Markandeya 2017, berkontribusi menahan Gunung Agung tidak erupsi dengan mengikat Gunung Agung menggunakan tridatu. Dan sudah pasti juga peran Hyang Ganesha, Trimurti serta Bethara Padmatiga Besakih dll. Anak Raja Naciketa, umur 9 tahun dipersembahkan ayahnya kepada Dewa Yama. Sebagai anak yang berbakti , Naciketa dengan tulus, iklas menuju Kerajaan Dewa Kematian. Kemudian dengan legowo harus menunggu tiga hari. Atas kesabaran Naciketa kemudian Naciketa dianugrahi tiga anugerah. Bukan saja kembali diterima di kerajaan, dan dengan senang hati disambut ayahnya, juga menerima jnanagni meditasi omkara. Dalam Mudaka Upanisad , meditasi omkara diartinya seperti omkara itu adalah busur nya, anak panah nya adalah Atma dan target sasarannya adalah Brahman. Jadi dengan melakukan konstruksi meditasi omkara menunggalkan Atma lebur dengan Brahma dengan meditasi omkara. Sedangkan metode Tantra Shiva Shidanta, dengan om na masi va ya sebagai Atma melewati to kundalini - ida pinggala sushima - kendaraan bermuatan Atma menuju Bindu ditunggalkan / dikawinkan dengan Nadha sebagai representasi Atma lebur dengan Paramatma di Sahasrara Cakra

Dua tokoh penting juga disemangati “Daya Kekuatan Kematian” yakni Shidarta Gautama dan Maharaja Parikesit. Shidarta adalah anak Raja Suddohana. Karena diharapkan menjadi pewaris kerajaan Sakya, Shidarta saat masih muda dikawinkan dengan Putri Yasodara, hingga usia 29 tahun punya anak satu, sang Ayah berusaha mengurung Shidarta di kerajaanya. Hal itu dilakukan sang Ayah , guna mencegah Shidarta menjadi seorang pertapa sesuai diramalkan waktu ia kecil.

Namun dalam perjalanan ke luar istana bersama sopirnya bernama Chana, Shidarta memperoleh “Penampakan Agung” yang dalam Budha disebut empat peristiwa sangat penting. “Orang tua, orang sakit, mayat dan pertapa” Nah .. untuk mencari solusi semua itu,Shidarta dengan “kesadaran penuh” kemudian meninggalkan kemewahan istana, ia pergi ke hutan bertapa ekstra keras 6 tahun hingga badannya tinggal tulang, akhirnya setelah bertapa ekstra keras itu jalan tengah yakni dengan shadana - tak ekstrim tak lunak - akhirnya menjadi pilihannya dan kemudian menerima pengetahuan agung, penerangan Maha Agung Kebudhaan. Sejak itu Sidartha menjadi “Bhuda”

Berbeda halnya anak Abhimayu, Raja Parikesit menyambut kematian itu. Raja Parikesit ini segera meninggalkan Istana, setelah mendengar suara gaib dari Langit. Cucu Arjuna itu menyadari kutukan dari putra seorang Brahmana Gajivata/ Srenggi) , bahwa dalam waktu seminggu Sang Raja Parikesit akan dipatuk ular Taksaka. Menyadari kematiannya sudah dekat, dengan keiklasan Raja Parikesit meninggalkan segala kemewahan istana menuju tepian Sungai Gangga yang suci. Di sana Raja Parikesit bertemu dengan Rishi rishi Agung, Pertapa yang mengajukan pertanyaan kepada Sukadeva Gosvami, beliau adalah putra Bhagawan Wyasa ,terkait apa yang harus diingat, didengar, disembah menjelang hari hari kematian itu. Berkah dari Maharishi Sukadeva Gosvami, saat itu dibacakan Bhagavata Purana , seminggu secara penuh siang dan malam hingga Raja Parikesit lebur dalam anamdam dan kemudian siap , iklas menyambut patukan Naga Taksaka, yang merupakan kutukan sang Brahmana. 

Demikian kompilasi catatan ringan Acharya Rishi Giriramananda, terkait topik “Kematian sebagai sahabat” semoga bermaanfaat bisa jadi inspirasi dan motivasi dalam hidup menyambut kematian dengan baik & mulia. 

Kirang langkung nunas ampure. Om Tat Sat Asthu Om Kham Brah Esa ParamashivastahπŸ‘πŸ™πŸ’πŸ”±πŸ”±πŸ”±πŸ”±πŸ•‰πŸ™πŸ‘πŸ‘❤️πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ•‰πŸ’πŸ™

 
 

    Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok