Senin, 30 November 2020

Agnihotra Ritual Veda Yang Terlupakan


oleh : Pandita Acharya Brahma Murti





 

Om ajnana timirandhasyah jnananjana salakaya

caksur unmilitam yena tasmai sri gurave namah

hamba lahir dalam ketidak tahuan yang paling gelap, lalu guru spiritual membuka matahamba dengan pelila ilmu pengetahuan. Hamba sujud dan hormat kepadaMu Guru. (Guru Gita : 5)


Sebagai sebuah agama, bahkan lebih tepat jika disebut pandangan hidup (way of life). Hindu dibangun diatas fondasi Pustaka Suci Veda, dengan tiga kerangka penyangga, yaitu ; tattva (hakekat keyakinan), susila (etika), upacara (ritual). Secara tradisional ketiga kerangka dasar tersebut, sebagaimana disebutkan dalam lontar sundarigama, dinamakan igama (idep, tattwa), agama (ambek, susila), dan ugama (ulah, upacara). Seperti bangunan, Hindu akan menjadi kuat jika ketiga kerangka dasarnya itu benar-benar kokoh tertancap dalam di hati sanubari setiap umatnya.

Namun kenyataannya, praktek beragama umat Hindu (khususnya etnis Bali), hanya terfokus pada satu tiang, yaitu upacara. Seluruh tenaga, uang, waktu dan pemikiran umat dihabiskan untuk melaksanakan ritual keagamaan. Dalam pandangan masyarakat awam, agama memang dimaknai sebatas kegiatan ritual. Atas dasar itu, tidak keliru jika penelitian Clifford Geertz sampai pada kesimpulan, bahwa ; 'umat Hindu di Bali sangat sibuk melaksanakan upacara yang tidak pernah mereka ketahui maknanya'.

Umat Hindu di Bali melaksanakan kegiatan ritual keagamaan semata-mata berdasarkan tradisi. Tradisi sebagai sebuah produk masyarakat, sangat tergantung pada kondisi jamannya, sehingga harus ditinjau ulang dan diremajakan sesuai dengan konsep 'desa-kala-patra', serta didukung dengan kajian tattwa. Sebuah agama yang hanya dibangun diatas bingkai tradisi, tanpa pemahaman akan tattwa keagamaannya, ibarat candi yang dibangun diatas pasir.

Bangunan tersebut akan segera rubuh manakala datang banjir dan angin ribut, apalagi juga ada gempa bumi. Kenyataan itu sesungguhnya sudah terjadi dalam perkembangan Hindu di Nusantara, namun tidak banyak umat Hindu di negeri ini yang melakukan auto kritik terhadap kekeliruan praktek beragama di masa lalu. Hindu pernah menjadi mayoritas, namun kini terhimpit sebagai minoritas.

Ritual keagamaan Hindu di Bali, yang bernuansakan Siwaisme sangat lekat dengan keyakinan lokal 'Tantra Bhairawa'. Pengaruh Paksa Bhairawa menyebabkan bebantenan yang digunakan dalam ritual Hindu di Bali menggunakan; daging, ikan, minuman keras, rokok dsb. sebagai sarana upakara. Menurut petunjuk Lontar Yadnya Prakerti, semua sarana yang digunakan dalam upakara merupakan perlambang (yantra) yang semestinya digali maknanya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan binatang sebagai sarana ritual mengandung makna; kemauan dan kemampuan untuk mengalahkan nafsu-nafsu kebinatangan yang ada di dalam diri. Hanya orang-orang yang mampu mengalahkkan nafsu-nafsu ragawi(kebinatangannya)-lah yang dapat mendekatkan dirinya dengan sumber kesucian.










Kunda Agni di Pura Gunung Kawi


Karena sistem ritual yang dilakukan dibungkus dengan mistis, bahkan disempurnakan dengan mitos ancaman (sesuatu yang menakutkan akan terjadi), maka umat Hindu di Bali menerima tradisi ritual sebagaimana yang diwariskan, tanpa keberanian untuk mengkritisinya.

Kondisi tersebut menurut Sang Buddha; 'sama saja dengan telah memasrahkan diri sebagai korban masa lalu'. Hindu sesungguhnya tidak se-kaku apa yang dipraktekkan dalam tradisi. Ritual Hindu diajarkan untuk pembebasan umat bukan sebaliknya. Tidak mengikat umat dengan beban ritual, yang seringkah ; sangat mewah, meriah dan mahal. Sesungguhnya ritual Hindu tidak menekankan pada kuantitas upakara tetapi pada kualitasnya.

Sebagai agama besar tertua, Hindu memiliki sistem ritual yang bersumber pada Pustaka Suci Veda, yaitu Homa Yajna atau Agnihotra. Sesuai dengan asal katanya agni = api (Dewa Agni), dan hotra = penyucian. Upacara ini dimaknai sebagai; penyucian lewat perantara Dewa Agni. Jika Ista Dewata-rrya bukan Dewa Agni, sesuai dengan tujuan Sang Yajamana, maka upacara api suci ini dinamakan Homa. Istilah lainnya adalah Havana dan Huta.

Sarana utama upacara ini adalah api, yang dinyalakan di dalam kunda (menurut Yajurveda, kunda adalah simbol ardhacandra, yaitu kesadaran yang bersifat terbuka), kayu (menurut Gita, sebagai lambang pikiran yang masih diselimuti avidya, sedangkan api merupakan simbol dari veda yang akan memberikan penerangan batin).

Kedudukan Agnihotra jelas dipaparkan dalam Veda Sruti sampai dengan susastranya, termasuk dalam lontar-lontar yang ada di Bali. Misalnya; dalam Rgveda X:66.7 dan 8, disebutkan bahwa Agnihotra merupakan cara untuk melakukan sembah sujud kepada Tuhan, yang akan menganugerahkan kedamaian, kebahagiaan, kesehatan, kekuatan, menjauhkan para pemujaNya dari rasa marah dan benci, dan sebagainya. Hal senada juga disampaikan dalam Atharvaveda XXVIII: 6, 'dimana Agnihotra dilangsungkan, disanalah akan muncul pemimpin yang mampu bekerja dengan baik dan mengayomi masyarakatnya'. Akan tetapi, dalam Parasara Dharmasastra 1.32, diungkapkan, pada jaman Kali ini, upacara utama (yang oleh Sang Buddha disebut sebagai rajanya yajna), cenderung ditinggalkan (tidak dilakukan).

Demikianlah kondisi Kali Yuga, orang-orang melupakan upacara veda, walaupun dengan tegas dikatakan oleh Yudistira (pada waktu menjawab pertanyaan yaksha, dalam Wana Parwa), bahwa 'melaksanakan homa adalah kewajiban semua orang'. 

Agar masyarakat dapat menikmati kebahagiaan dan kedamaian, Sarasamuscaya 58, menyerukan supaya para pemimpin tekun mempelajari veda dan senantiasa melaksanakan Agnihotra (kuneng ulaha sang ksatriya, umajya Sang Hyang Veda, nitya agnihotra) selanjutnya dalam sloka 177 disebutkan; untuk mempelajari veda, laksanakanlah agnihotra (agnihotraphala veda). 

Lebih tegas lagi Canakya Nitisastra VIII: 10, menyebutkan; mempelajari veda tanpa agnihotra, sesungguhnya adalah kesia-siaan belaka (agnihotram binaveda). Berkaitan dengan fungsi agnihotra (pada buku yang sama XII:10, disebutkan), tanpa agnihotra, kondisi rumah tiada bedanya dengan kuburan. 

Dalam konteks BALI, yang sebagian besar mewarisi tradisi Saiva Siddhanta, agnihotra semestinya tidak asing. Kitab Siva Samhita 1:6, menyebutkan; 'orang-orang yang bijaksana akan memandang upacara agnihotra sebagai yang tertinggi'. Hal senada juga dipaparkan dalam Adiparwa, yang mengungkapkan agnihotra sebagai yang terpenting diantara upacara yajna. 

Lontar Agastya Parwa menyebutkan ada tiga cara untuk mencapai kelepasan, yaitu; tapa, yajha, dan kirti. Disebutkan lebih lanjut; 'yajha ngaranya agnihotradi kapujan Sang Hyang Sivagni.

Wrhaspati Tattwa: 25 menyebutkan; yajha ngaraning manghanaken homa. Selanjutnya, Lontar Silakrama menekankan bahwa fungsi agnihotra adalah sebagai penyucian diri (suddha ngaranya enjing-enjing madyus, asuddha sarira, masurya sevana, mamuja, majapa, mahoma). Lebih lanjut juga disebutkan, bahwa persyaratan seorang wiku yang layak dijadikan guru (nabe), salah satu diantaranya adalah senantiasa dan mahir melaksanakan upacara homawidhi.

oleh : Pandita Acharya Brahma Murti

Pandangan Keliru Tentang Agnihotra

oleh : Pandita Acharya Brahma Murti

Homa yajna atau agnihotra merupakan bentuk yajna dalam veda yang justru terlupakan dalam khasanah ritual Hindu di Bali. Karena ketidaktahuan, pandangan-pandangan kontrapun dilontarkan terhadap kegiatan ritual ini pada awal kebangkitannya di akhir tahun 90-an.

Malah ada pejabat yang tega menuding Homa Yajna sebagai suatu gerakan aliran yang harus diwaspadai karena bisa menggerus budaya Bali. Kontan pernyataan tersebut dijadikan dasar penolakan oleh mereka yang merasa dirugikan dengan kehadiran (kembali) upacara vedic tersebut. Di sisi lain, fenomena itu mempeijelas (pengaruh) kekuasaan Kali Yuga, memang kokoh mencengkeram masyarakat. Sebagaimana disebutkan dalam Parasara Dharmasastra 1.32. 'pada jaman Kali upacara agnihotra dan pemujaan kepada guru cenderung akan dilupakan' (sidanti agnihotrani gurupuja pransyati).

Setidaknya ada 3 (tiga) kekeliruan berkaitan dengan penolakan agnihotra atau homa yajna oleh pemimpin umat;

  1. Menyebut Homa Yajna sebagai sebuah aliran, ini memunculkan image negatif pada ritual veda (yang jelas-jelas dimuat dalam veda bahwa homa yajna / agnihotra merupakan ritual yang utama dan sangat penting). Veda bukan milik aliran keagamaan (sampradaya) tertentu, sehingga ritual yang diatur di dalamnya bukanlah milik kelompok tertentu pula. Tetapi sebagai umat Hindu kita meyakini dan menganggap bahwa Veda sebagai kitab suci kita.
  2. Tidak setuju dengan pelaksanaan homa/agnihotra. Sebagai umat Hindu, adalah wajib hukumnya untuk melaksanakan homa/agnihotra. Menurut Vana Parva, melaksanakan homa adalah swadharma semua orang (utamanya yang beragama Hindu, yang mengakui veda sebagai kitab sucinya). Dipertegas lagi dalam Canakya Nitisastra VIII: 10, agnihotra bina veda, mempelajari veda tanpa upacara agnihotra hanyalah kesia-siaan belaka. Dalam penjelasan Mahanarayana Upanishad, 50; ketidak setujuan terhadap pelaksanaan agnihotra atau homa disebut sebagai kepalsuan.
  3. Menganggap homa/agnihotra itu tidak penting. Jabatan pemimpin mengisyaratkan kewajiban untuk mempelajari veda dan melaksanakan homa. Dalam Sarasamuscaya, 58 disebutkan, “kuneng ulaha sang ksatriya umajya Sang Hyang Veda, nitya agnihotra....dst. ”

Berdasarkan ketiga hal tersebut, umat Hindu, apalagi pemimpin umat seharusnya menganalisis setiap fenomena keumatan berdasarkan ajaran-ajaran veda, bukan berdasarkan tradisi semata. Pemimpin harus membangun keyakinan (sraddha) umat berdasarkan petunjuk pustaka suci veda, bukan semata-mata berdasarkan drsta yang ada di masyarakat.

Setelah dua dasa warsa berlalu, pandangan masyarakat tentang homa yajna mulai terbuka, walaupun masih ada yang merasa keberatan. Mereka yang merasa keberatan mungkin didorong oleh kecintaannya yang sangat besar kepada Budaya Bali, khawatir dan takut jika sampai sistem ritual homa menggusur sistem banten. Kondisi itu berusaha dikait-kaitkan dengan kedatangan para tourist, yang konon akan berkurang jika budaya banten sampai surut. Kelompok ini memang sulit menerima penjelasan, karena acuan yang dipakai bukan veda (vaidika vakya) , tetapi tafsir veda, dan atau 'tafsir atas tafsir' veda pada masa lalu.

Semestinya, bagi siapa saja yang menerima otoritas veda, kata-kata bijak dalam Canakya Upanishad 10.2 dapat dijadikan pegangan, “sastra putam vadedvakyam manah piitam samacaret” artinya, sesuaikan dulu dengan sastra (veda), setelah itu barulah boleh bicara!

Di sisi lain, ada juga yang menolak karena homa bisa mengancam lahan bisnis ritual mereka. Kecurigaan masyarakat awam terhadap homa yajna, sebagian besar disebabkan oleh ketidak tahuannya. Ketidak tahuanlah yang menyebabkan mereka menolak. Sebagaimana disebutkan dalam Canakya Nitisastra XI:8, na veti yo yasya gunaprakarsam sa tam sada nindati natra citram, yatha kirati karikumbha labdahdm, muktdmprityajya vibharti guiijdm.

Artinya , jangan merasa heran, orang yang belum mengetahui sesuatu dengan sebenarnya cenderung selalu menjelek-jelekkannya. Seperti halnya istri para pemburu pada jaman purba yang menolak permata dari kepala gajah, sebaliknya memakai perhiasan biji-bijian yang diambil dari semak belukar. Ketidak tahuan itu dipupuk lagi dengan pernyataan tokoh-tokoh agama yang menyatakan homa yajna atau agnihotra itu bermaksud memberangus banten, agnihotra itu ke-India India-an dan tidak cocok diterapkan di Bali, ritual memakai banten bersumber pada purana murni (pure puranic). Dan terakhir malah ada yang menyebut bahwa agama Hindu Bali adalah Hindu murni. (Entah apa yang dipakai dasar pernyataannya itu?)

Mengingat penolakan kelompok tertentu terhadap ritual agnihotra tidak pernah memakai landasan sastra (veda), maka dipandang perlu untuk memaparkan kedudukan agnihotra (pada lontar-lontar Bali disebut homa) dalam pustaka suci veda, dan praktek pelaksanaan ritual tersebut di Bali sebelum digusur dengan praktek pelaksanaan ritual berbasis 'tradisi puri' yang kita terapkan dewasa ini.

Terakhir, penulis telah menemukan tiga salinan lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja, berkaitan dengan upacara homa. Penyalinan ke aksara latin terhadap ketiga lontar tersebut dilakukan oleh IGN Ketut Sangka, pada tahun 1978. Ketiga lontar yang dialih-aksarakan masing-masing;

  1. Puja Homa, milik Ida Pedanda Made Subali Wesnawa dari Griya Camara Mataram, Lombok Barat;
  2. Homa Widhi Bwat Kirana, milik Ida Pedanda Made Sidemen dari Griya Delod Peken, Intaran, Sanur, Badung; dan
  3. Homa Agni Jhana, dari Griya Taman, Blayu, Marga, Tabanan.

Ketiga lontar tersebut memaparkan tentang urutan pelaksanaan upacara homa, peralatan dan bahan-bahan yang digunakan, lengkap dengan puja mantranya. Temuan tersebut menunjukkan, selain mewarisi berbagai sistem ritual yang sarat dengan simbol bebantenan, krama Bali juga memiliki upacara homa yang sederhana, namun sarat dengan mantra-mantra

oleh : Pandita Acharya Brahma Murti


Homa Yadnya Dalam Perjalanan Sejarah Bali

oleh : Pandita Acharya Brahma Murti

 foto sumber : Balipost.com                                 



Di Desa Dinaya (Dinoyo), Jawa Timur, ditemukan prasasti berangka tahun 760 Masehi Prasasti tersebut dibuat oleh Raja Gajayana, yang memuja dan sangat memuliakan Maharsi Agastya Kumbhayoni. Sang Raja memperhatikan patung Maharsi yang terbuat dari kayu Dewandaru, yang dibuat oleh nenek moyangnya mengalami kerusakan, beliau memerintahkan untuk mengganti patung itu dengan bahan batu marmer. Arca marmer itu di-abhiseka pada bulan margasira tahun 682 Caka, dipimpin oleh para brahmana yang sangat paham mantra-mantra veda. Disamping memakai sesaji sebagaimana biasanya, dalam upacara itu dilakukan juga upacara homa.

Dalam prasasti tersebut tertulis, “Maharsi prabhawa caru hawi”. Maksudnya, yang melakukan homa atau caru hawi itu adalah Maharsi yang pandai. Menurut Shastri (1963), upacara homa adalah upacara pembakaran hawi, yaitu campuran mentega, beras, gula, serbuk menyan dan cendana, serta buah-buahan yang telah kering. Pembakaran hawi tersebut diikuti dengan pembacaan mantra-mantra veda. Ritual homa itu dilakukan di tempat-tempat suci yang ditengah-tengahnya dibuatkan lubang segi empat, pada lubang itulah dibakar hawi, serta dilakukan homa oleh para brahmana.

Upacara homa pernah juga dilakukan oleh raja-raja Kutai dan Taruma Negara. Sampai kini di Kutai masih tertinggal yupa (tiang kurban) yang digunakan oleh raja-raja Hindu pada jamannya. Dalam Mahandrayana Upanishad dipaparkan, yupa diperlukan untuk melaksanakan somayaga, dan harus diawali dengan agnihotra. Kegiatan itu diakhiri dengan pemberian daksina kepada para brahmana berupa sapi dan lain-lainnya.

Dalam Vsana Bali dan Pamancangah (ibid), diceriterakan Bali pernah diperintah oleh seorang raja bernama Gaja Wahana. Bila diperhatikan kata wahana sesungguhnya sama dengan yana, yang berarti kendaraan. (Apakah Gaja Wahana di Bali sama dengan Gajayana di Jawa Timur?) Pemerintahan Gaja Wahana dilanjutkan oleh Singha Mandawa (882-942M)Prasasti Singha Mandawa juga menyebutkan tentang kemuliaan nama Bhatara Hyang Anggasti Maharsi, yang tiada lain adalah Maharsi Agastya. Raja Singha Mandawa membangun Pura Hyang Api atau Agni Sala sebagai tempat untuk melakukan homa.

Menurut prasasti Sukawana (804 Caka), tanah dan aktivitas di Pura Hyang Api tidak dikenai pajak, tetapi sebaliknya disubsidi oleh pemerintah. Prasasti tersebut juga tertulis ijin raja untuk Biksu Siva Kangsi, Siva Nirmala, dan Siva Prajna untuk mendirikan ashram dan satra (penginapan) di bukit Kintamani. Para biksu dibebaskan dari bermacam-macam pajak, tetapi diwajibkan untuk memelihara Pura Hyang Api (Agni Sala) melakukan homa ,dan melayani para tamu (atithi).
Prasasti Bebetin (818 Caka) kembali memuat kewajiban para biksu untuk membangun dan merawat Pura Hyang Api dan melaksanakan ritual Homa di dalamnya. Untuk mendukung aktivitas di pura tersebut, mereka dibebaskan dari bermacam-macam pajak, dan disubsidi dari harta warisan mereka yang tidak memiliki keturunan (camput). Lebih lanjut, di dalam prasasti Pura Kehen {tanpa tahun) memuat tentang ijin kepada para Brahmana untuk mendirikan pertapaan di dekat Pura Hyang Api dan perintah kepada penduduk setempat untuk melakukan' punya' kepada Pura Hyang Api tersebut. Aktivitas di Pura Hyang Api itu juga ditopang dari harta warisan para Brahmana Sudha Genitri. Selain itu, Prasasti Gobleg (836 Caka) dan Prasasti Anggasari juga memuat tentang pendirian pertapaan di Indra Pura dan pembangunan Pura Hyang Api.
Prasasti Srokadan dan Sembiran yang dikeluarkan oleh raja Sri Ugra Sena (837-864 Caka atau 915-942 Masehi), memuat tentang kehancuran desa-desa di pantai Utara, terutama Desa Djula, dari seragan musuh. Dalam prasasti lain, untuk menghindari seringnya serangan musuh, maka desa tersebut dipindahkan ke pegunungan dekat desa Sembiran. Dalam Prasasti Baturya dan Dausa, disebutkan lagi Pura Hyang Api. Dijelaskan pada waktu itu Pura Hyang Api dipandang sangat penting kedudukannya di seluruh Bali. Pentingnya kedudukan Pura Hyang Api juga dimuat dalam prasasti Kintamani (889C) yang dikeluarkan oleh raja Tabanendra Warmadewa (877-889C).
Pada tahun 916C, prabu Dharmodayana Warmadewa dan permaisurinya Gunapriya-dharmapatni, mengeluarkan prasasti berkaitan dengan persetujuan raja terhadap permohonan Desa Bibahan untuk memisahkan diri dari Desa Kedisan (di daerah danau Balur). Sementara itu, rakyat juga diwajibkan membayar iuran untuk pura Hyang Api.

Mengingat demikian pentingnya pemujaan terhadap Hyang Api pada jaman Udayana, para purohita wajib mendalami dan melakukan;

a.      Yama dan Niyama Brata,

b.      Surya Sewana,

c.       mahir dalam melakukan Sawa Wedana, Diksa Widhi dan Homa Yajna.

Lebih lanjut dalam Purana Bali Dwipa dipaparkan, pada saat Prabu Udayana mangkat, di seluruh desa di Bali dilaksanakan upacara homa untuk mendoakan arwah beliau. Doa-doa yang dilantunkan pada acara homa tersebut bersumber pada lontar Agni Jhana dan lontar Homa.

Menurut Shastri (1963), pelaksanaan homa terus berlangsung di Bali sampai Bali dikuasai oleh raja-raja jawa (Jawa Timur). Sistim ritual homa yang dilakukan oleh masyarakat Bali Kuno sama dengan yang dilakukan oleh raja Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur dan Purnawarman di Jawa Barat. Peninggalan besar pada jaman itu yang sampai kini berkaitan dengan pelaksanaan homa di Bali adalah Pura Kehen (dalam bahasa Bali Kuno, kehen = api). Yang di dekat pura tersebut juga dibangun Pura Hyang Api (Agni Sala). Data lain, pada salah satu goa pertapaan di Gunung Kawi, Tampaksiring, terdapat peninggalan purbakala berupa kunda (lubang api) tempat melangsungkan upacara homa (Titib, 1995).

Selain peninggalan berupa prasasti, orang-orang suci di Bali juga mewariskan lontar-lontar berkaitan dengan upacara homa. Dalam lontar Widhi Sastra Roga Sangara Bumi dijelaskan tentang pelaksanaan upacara homatraya, yang harus dilakukan jika teijadi berbagai keanehan, seperti;
a.       sapi kawin dengan kerbau,
b.      musim kemarau berkepanjangan,
c.       wabah mpenyakit (gering) dan hama tanaman merajalela.

Upacara tersebut dilaksanakan oleh para dwijati dengan tujuan untuk membersihkan jagat. Barkaitan dengan makna homatraya, lontar Nitisastra Purbasesana , menyebutkan berasal dari kata;

a.       homa berarti yoga sakti, dan

b.      traya berarti tiga.

Maksudnya, upacara homa tersebut mesti dipimpin oleh ; Brahmana Siwa, Brahmana Budha dan Ksatrya Putus

Dalam lontar Nitisastra Pedanda Sakti Wawu Rauh juga dijelaskan tentang kondisi yang mengharuskan agar dilaksanakan upacara homa. Disebutkan, jika berbagai keanehan dan penderitaan melanda dunia, maka harus dilakukan upacara Panca Bali Krama. Bersamaan dengan itu dilaksanakan upacara Ngelukat Jagat yang disebut upacara Homa Traya. Walaupun Ida Pedanda menyebutkan tentang pentingnya pelaksanaan upacara homa, masyarakat Bali waktu itu sudah tidak melakukannya. Sampai akhirnya, keponakannya, Dang Hyang Astapaka memohonnya untuk melaksanakan upacara veda tersebut di Puri Gel gel.

Menurut Babad Dalem, pada jaman pemerintahan Dalem Waturenggong, upacara homa mengalami perkembangan pesat dan berdampak positif terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Akan tetapi, karena terjadi musibah kebakaran di tempat pelaksanaan upacara, akhirnya ritual veda tersebut kembali terhenti. Sebagai gantinya, kunda dalam upacara homa, diganti dengan padipaan yang biasa dipakai oleh para pandita di Bali sekarang ini. Sejak saat itu, upacara yang dimuliakan dalam veda (homa) tersebut semakin menyusut dan akhimaya terlupakan. Namun di kalangan pandita Budha (di Bali), upacara itu tetap dipertahankan sebagai upacara Homa Sambada.















Pandita Acharya Brahma Murti

Rasionalisasi Homa Yadnya

oleh : Pandita Acharya Brahma Murti



Alam semesta diciptakan dan dipelihara lewat perputaran yajna, serta Tuhan-lah yang menjadi porosnya. Mengingat Tuhan menyusup ke dalam ciptaanNya (isvarah sarva bhutanamj , sehingga alam menjadi badanNya, maka yang melakukan yajna sudah sewajarnya belajar dari alam. Sebagai contoh; matahari telah memancarkan partikel-partikel energi (quantum) ke seluruh jagat raya. Pengorbanan diri tanpa pamerih seperti itu menyebabkan jagat raya ini menjadi terang benderang. Siklus air, angin, unsur, dan energi, yang secara umum disebut dengan daur biokimia di jagat ini juga berlangsung karena adanya pengaruh energi Sang Surya.

Energi panas matahari menyebabkan air permukaan bumi mengalami penyucian (prayascita), menguap ke angkasa, perlahan menjadi awan, dan akhirnya jatuh kembali ke bumi sebagai air hujan. Dengan cara seperti ini bumi dapat menghidupi tumbuhan (dengan menyediakan air, karbon dioksida, hara dari tanah), dibantu sinar matahari. Tumbuhan melakukan yajna menghasilkan oksigen dan makanan bagi kehidupan lainnya, dan limbah yang bermanfaat untuk melestarikan kehidupan di muka bumi. Demikianlah kehidupan akan tetap damai dan lestari jika sirkulasi langit dan bumi (dyavaprthivi) tetap berlangsung.

Mengingat bahwa para dewa diyakini sebagai penghuni langit (svah loka), maka sudah selayaknya yajna yang dilakukan umat manusia melibatkan sirkulasi langit dan bumi. Untuk itu, kehadiran api sangat diperlukan; karena hanya api yang mampu membakar bahan-bahan persembahan dan mengantarkannya menuju langit. Selain itu, persembahan ke dalam api suci mendapat penguat religius mengingat api sebagai lidah Tuhan dalam proses persembahan. Dengan demikian penggunaan api suci dalam pelaksanaan ritual memiliki landasan rasional ' ilmiah-religius'. Ritual veda menjadikan api sebagai sarana utama, dan Agnikunda (altar api) sebagai tempat untuk menaruh persembahan. Ritual tersebut dinamakan Agnihotra (agni = api, hotra = persembahan). Agnihotra adalah persembahan kepada Dewa Agni, karena Ista Dewata pada upacara tersebut adalah Dewa Agni. Jika Ista Dewatanya lain, maka disebut Homa.

Dalam Homayajna, Dewa Agni sebagai purohita (perantara yajamana dengan Ista Dewatanya).

Berbagai ciri agnihotra dapat dipaparkan sebagai berikut;

  1. Semua peserta duduk sama rendah dan menjadikan api suci sebagai pusat konsentrasi. Posisi duduk yang sedemikian itu menyadarkan kita bahwa pada saat memuja para dewa (Bapak Angkasa), sudah semestinya dekat dan malah ada dipangkuan Ibu Pertiwi (mretiwi).
  2. Semua peserta aktif mengucapkan mantra-mantra veda, bahkan sebagian diucapkan dengan ber:/7//;«. Japa sendiri merupakan yajna yang sangat utama (Sri Krishna dalam Gita X.25; "yajhanam japayajno'smi” artinya diantara yajna Aku adalah japa). Selain mantra-mantra pujian, juga dilantunkan tyaga mantra untuk mengiringi persembahan. Mantra tersebut mengandung penolakan terhadap rasa memiliki (namakara) bahan- bahan yang akan dipersembahkan. Misalnya persembahan kepada Dewa Yama, diiringi mantra; “Om Yama ya svaha, Yama ya idam na mama”. 
  3. Bahan bahan yang dipersembahkan hanya berupa bagian-bagian tumbuhan, sehingga bebas dari perbuatan himsa-karma dan perbuatan mengakhiri kehidupan. Sebagaimana disebutkan dalam Agni sukta; “rajantam adhvaram, gopam rtaasya didivim, vardhamanan svedame”. Artinya ; Tuhan Engkaulah yang mengatur persembahan tanpa kekerasan (himsa), pengendali hukum abadi (rta) yang senantiasa berkilauan di rumah kami.

Berdasarkan pemaparan diatas, pelaksanaan upacara agnihotra atau homayajna mengem- bangkan beberapa nilai berikut; 
  1. Nilai keseimbangan. Sebagaimana disampaikan terdahulu, agnihotra merupakan peniruan atas yajna yang dilakukan oleh alam semesta, sehingga bisa bersinergi dan seimbang dengan perilaku alam.
  2. Nilai kebersamaan. Sikap duduk sama rendah yang dicontohkan oleh pemimpin ritual, termasuk oleh beliau yang sudah di-diksha, memberikan kesan/pesan bahwa dihadapan Tuhan semua orang adalah sama. Yang membedakannya hanyalah keyakinan (sraddha) dan perbuatannya (karma). Dengan demikian keharmonisan hubungan antar peserta menjadi terjaga dan bebas dari nuansa fanatik-isme dan feodalisme.
  3. Nilai kasih. Pelaksanaan ritual homa menekankan pada semangat kasih diantara peserta, para hotri, dan yajamana. Sikap kasih pada sesama dijadikan dasar pelak- sanaan yajna, termasuk tidak digunakannya daging binatang/hewan ternak sebagai sarana ritual ini.
  4. Nilai kesederhanaan. Sarana yang dipergunakan dalam, upacara homayajna sangat sederhana. Sebagaimana dikatakan oleh Yudistira kepada Yaksa dalam Wana Parwa, kesederhanaan (aparigraha) adalah perilaku hidup yang membuat hati merasakan kedamaian. Kesederhanaan juga menjadi dasar pengendalian diri, sebagai salah satu komponen etika kemanusiaan, yang dipaparkan dalam Yoga Sutra 11.30, “satydsteya brahmacaryaparigraha yamah"

Menurut Maitri Upanisad VI:38, agnihotra akan mampu memberikan kesehatan yang sempurna dan kehidupan nan abadi bagi mereka yang tekun melaksanakannya. Dampak ritual ini akan dapat menembus dan jaring-jaring keinginan rendah, yaitu;
a.       kerakusan (lobha),
b.      kebingungan (sammoha),
c.       sifat suka marah (krodha).

Mengingat sifat dan perilaku kita ditentukan oleh makanan yang kita konsumsi, maka perlu ada keseimbangan antara sistem yajna yang berlaku di alam besar (buana agung) dengan yang ada di alam raga (buana alit), maka agnihotra juga harus di arahkan ke dalam diri. Prosesi itu dilakukan setiap kali akan menyantap makanan (bhoga).

Bhagavadgita, IV: 24, menyebutkan; “brahmarpanam brahmahavir brahmagnau brahmanahutam brahmaivatena gantavyam brahmakarmasamadhina”. 

Artinya,
dipersembahkan kepada Brahman, persembahannya adalah Brahman, dipersembahkan oleh Brahman ke dalam api suci Brahman. Ia akan mencapai Brahman, yang dalam segala kegiatannya selalu merenungkan Brahman. 

Sloka tersebut menegaskan bahwa makanan merupakan persembahan bagi Brahman yang ada di dalam diri kita. 

Setelah persembahan dilakukan, Brahmanpun menjawab dari dalam,; “aham vaisvanaro bhiitva prdnindm dehamdsritah, pranapana samayuktah pacamyannam caturvidham 

Artinya, aku adalah api pencernaan (vaisvanara) di dalam badan makhluk hidup, aku bersatu dengan keluar masuknya udara pernafasan, untuk mencernakan empat macam makanan, (keempat jenis makanan yang dimaksud adalah makanan yang; dikunyah, diisap, dijilat dan ditelan).

Di samping homa di luar diri menggunakan api alam, manusia juga harus melakukan prandgnihotra' atau 'amrtahoma' menggunakan api di dalam diri (Mahandrayana Upanisad 69) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. 

Dalam kitab tersebut (bagian ke 13:9-11) dijelaskan, bahwa di tengah ruang sempit dari hati (susumna) terdapat api agung yang tidak pernah padam, yang mengetahui segalanya, yan memiliki nyala pada setiap sisinya, yang menikmati makanan yang dihaturkan kepadanya, dan yang menghangatkan badannya sendiri dari telapak kaki hingga puncak kepala. Disebutkan pula, homa dapat membantu seorang sadhaka (orang yang melakukan sadhana spiritual) guna mencapai kemurnian mental dengan melantunkan mantram Gayatri. Kemurnian mental juga dapat diraih dengan ber-japa dan dhyana (umum disebut meditasi).


oleh : Pandita Acharya Brahma Murti

Agnihotra Sebagai Satwika Yadnya


oleh : Pandita Acharya Brahma Murti



Brhadaranyaka Upanisad, menyebutkan yajna yang dilaksanakan tanpa pemahaman, cenderung akan mengantarkan yajamana menuju timira (kegelapan). 
Hal yang sama juga disampaikan dalam lontar Yajna Prakerti dan lontar Tutur Dharma Kahuripan yang menyebutkan yajna tanpa pemahaman tattwa hanyalah kesia-siaan belaka. Ibarat membangun gedung di atas pasir, yang segera akan rubuh jika diteijang angin kencang atau dilanda banjir.

Demikian halnya pelaksanaan ritual tanpa pemahaman, akan goyah jika bersinggungan atau digedor dengan keyakinan yang lain. Ironisnya; untuk mempertahankan tradisi ritual, orang sering menebar isu untuk menakut-nakuti, bahkan berupa ancaman yang menakutkan jika umat tidak melakukan ritual tersebut. Hal ini menarik untuk dicermati; sebab agama sejati, didasarkan pada keyakinan dan ketulusan, membebaskan penganutnya dari rasa takut, memuja Tuhan sebagai Sang Maha Kasih. Jadi, Tuhan tidak menakutkan, tidak menakut-nakuti, tapi sebaliknya melenyapkan kegelapan, ketakutan dan penderitaan.

Dalam kontek perilaku ritual, kita diingatkan dengan tiga sifat dasar yang menyelimutiseluruh ciptaan Tuhan, yaitu satvika (sifat tenang, sabar, kalem), rajasika (sifat agresif, aktif), dan tamasika (sifat malas dengan segala manifestasinya). Kombinasi dari ketiga sifat tersebut juga yang mendasari watak seseorang, dan akan menentukan jenis makanan, ritual, tapa samadhi, dan sedekah yang dilakukannya. Mengingat satvika yajna merupakan cita-cita semua orang, maka sudah semestinya kita memahami karakter yajna tersebut.

Bhagavadgita XVII: 11, memuat tiga kriteria pokok agar yajna bersifat satvika, yaitu;

a.    dilaksanakan menurut petunjuk kitab suci (vidhi drstah).

b.    tidak mengharapkan pahala (aphala (ikanksibhih). dan

c.     dilandasi dengan keyakinan penuh (sraddha).

Ketiga kriteria tersebut perlu disampaikan kepada umat, mengingat pada jaman Kali ada kecenderungan orang-orang melaksanakan yajna dengan tujuan materi duniawi, semata-mata mengikuti tradisi, dan tanpa pemahaman tattwa yang jelas.

Kecenderungan ritual menyimpang tampaknya memperkuat alasan Brahma Vaivarta Purana untuk menerapkan lima larangan pada Kali Yuga, tiga diantaranya berkaitan dengan kegiatan ritual, yaitu; mempersembahkan korban kuda (asvamedaj, mengorbankan sapi, dan mempersembahkan daging kepada roh-roh leluhur. Dalam Santi Parwa, Maharsi Bhisma menasehatkan kepada Yudistira, agar jangan sampai mempersembahkan daging kepada para dewa dan leluhur. Pengorbanan binatang (pasuyajha) pada Jaman Kali tidak akan mampu menjadi media untuk membangun kasih sayang, tetapi justru sebaliknya; membangkitkan sifat-sifat kenikmatan terhadap kekerasan. Dan jika terus dipertahankan, pasuyajiia potensial diselewengkan untuk memenuhi tuntutan lidah dan perut.

Manava Dharmasastra, V: 22, memberikan tuntunan bahwa hewan boleh dibunuh oleh para Brahmana untuk upacara kurban, dan akhirnya dimakan. Sloka tersebut memilikipembatasan, tidak setiap orang, tetapi oleh dia yang memiliki kualifikasi Brahmana. Kenapa seorang Brahmana diperbolehkan menyembelih binatang? Karena beliau mampu membebaskan roh binatang tersebut menuju kelepasan. Jika tidak (seperti orang awam)dia akan ditunggu oleh dendam roh hewan yang disembelihnya itu, di alam neraka. 

Dalam Bhagavata Purana, teks 25, disebutkan, bahwa pembunuh binatang-binatang dengan mengatas-namakan korban suci agama, tanpa alasan, akan ditempatkan di neraka bernama Visdsana. (ye tviha vai dambhika dambhayajhesu pasun visasanti tan amusmilloke vaisase narake patitam nirayapatayo yatayitva visasanti).

Mengingat demikian beratnya membebaskan roh binatang, menurut Manava Dharmasastra V: 23, seorang dwijati senddiri tidak boleh makan daging. Jika dia ingin makan daging, maka harus membuat daging tiruan dari; susu, mentega, atau tepung (sloka 37). Lebih lanjut, mengingat daging tidak akan bisa didapat tanpa menyakiti makhluk-makhluk lain, dan tindakan menyakiti adalah halangan untuk mencapai kebahagiaan, seseorang hendaknya menghindari makan daging (sloka 48).

Perlu diingat, na daya mamsa bhojinah (tidak ada rasa belas kasihan yang mumi pada orang
yang masih memakan daging) Canakya Nitisastra, XI: 5.

Jika kita sayang akan hidup kita, maka sayangilah hidup makhluk lainnya. Diri sendirilah yang hendaknya dijadikan ukuran, sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuscaya, 136; apan ikang wang kahatri kahuripnya, apa nimittanikan panghilangaken prana ning ika tatan harimbawa ktaya, ikang sanukhana ryawaknya, ya ta angenangeneya, ring len. 

Artinya, bila orang sayang akan hidupnya, mengapa ia ingin memusnahkan yang lainnya. Hal itu sama sekali tidak memakai ukuran sendiri. Segala sesuatu yang dapat menyenangkan diri sendiri, itulah yang semestinya dicita-citakan terhadap makhluk lainnya.

  1. Pada sloka 137 disebutkan; jika kita sudah tahu bahwa badan ini tidak kekal, kenapa harus dipelihara dengan mencelakai makhluk lain?
  2. Lebih lanjut pada sloka 141 dipaparkan; orang-orang yang telah mencapai paramasukha, sama sekali tidak pernah menyakiti makhluk lain (pariklesa ringprani), tidak membunuh (tan pamati). Sebaliknya, membuat senang makhluk lain. 
  3. Ditegaskan kembali pada sloka 145 pemberian hidup kepada satu makhluk lebih utama dibandingkan pemberian yang lainnya. Karena hanya dengan hidup- makhluk mampu ber-ya/ha sesuai dengan swadharmanya masing-masing.

Agar yajna kita berkualitas, pada waktu merencanakan (menyusun perencanaan pelaksanaan yajna), mesti diingat petunjuk Manava Dharmasastra VII :10, tentang perlu dipertimbangkannya lima hal, yaitu;

  1. Iksha (tujuan yajna yang akan dilakukan),
  2. Shakti (kemampuan yang kita miliki dan pendukungnya),
  3. Desa (kondisi sosial, alamiah tempat kita melakukan yajna),
  4. Kala (jaman/masa dan waktu saat kita melakukan yajna), dan
  5. Tattwa (landasan sastra yang mendasari pelaksanaan yajna tersebut).


Bhagavadgita XVII: 11-13, menuntun agar selama yajna dilaksanakan memenuhi unsur;

  1. Sraddha (memiliki keyakinan penuh atas manfaat yajna yang kita lakukan),
  2. Lascharya (didasari keikhlasan),
  3. Vidhidrsta (mengikuti peraturan yang berlaku, mengacu pada pustaka suci veda dan diiringi dengan pemujaan menggunakan mantra-mantra veda),
  4. Nasmita (sama sekali bebas dari unsur pamer),
  5. Annaseva (setelah ritual selesai dilangsungkan, dilanjutkan dengan pembagian makanan untuk semua yang hadir dalam acara tersebut), dan Dhaksina (pemberian dhaksina kepada pemimpin upacara /purohita).

oleh : Pandita Acharya Brahma Murti

AGNIHOTRA Pemujaan kepada Dewa Agni

 oleh : Pandita Acharya Brahma Murti



Api yang merupakan gejala alam yang sangat penting untuk menopang kehidupan, dan 
memiliki dewa khusus, yakni Dewa Agni, yang pada saat lain juga dipuja sebagai; Dewa Brahma, Surya, dan sebagainya. Dalam Wana Parwa,Yudistira menyampaikan, bahwa Agni adalah tamu bagi semua makhluk hidup (atithih sarvabhutandm agniti) dan persembahan susu sapi ke dalam api homa sebagai dharma yang abadi (somo gavamrtam sanatano'mrto dharmah). Kata atithi di dalam bahasa sanskrta menunjukkan tamu yang harus dihormati secara sopan dengan mempersembahkan makanan.

Agni dikatakan menjadi tamu bagi semua makhluk hidup berdasarkan kenyataan menurut veda, mempersembahkan susu sapi, minyak ghee, dan sebagainya kepada api dilaksanakan untuk mendatangkan mendung dan menurunkan hujan. Air hujan dimanfaatkan oleh tumbuh- tumbuhan untuk bertumbuh kembang, yang akan menjadi sumber makanan bagi binatang dan manusia. Agni menjadi tamu karena beliau alah obyek pemujaan. Lebih lanjut dijelaskan, ” yo'gnihotraparo dantah sa brahmana iti smrtah” (ia yang melaksanakan agnihotra dan telah berhasil mengendalikan indriya-indriyanya adalah seorang brahmana). Dijelaskan pula, pelaku agnihotra senantiasa menyucikan pikirannya dan memperkaya spiritualnya, tidak pernah memiliki niat sedikitpun dalam; pikiran, perkataan, dan perbuatan -nya untuk melakukan kekerasan kepada orang dan makhluk lain.

Berkaitan dengan Agni, Rgveda memuat 19 kemuliaan Dewa Agni (Jendra,1995), yang dapat diringkas menjadi tujuh fungsi utama, sebagai berikut;
  1. Purohita. Dewa Agni sebagai purohita, mantra pertama dalam Rgveda menyebut, “agnimde purohitam yajhasya deva rtvijam hotaram ratnadhatamam” (Rgveda 1.1.1), artinya, Oh Dewa Agni, Engkau pendeta utama (purohita), dewa pelaksana yajha, kami memujaMu, Engkaulah pemberi berkah yang utama. Mengingat fungsi Dewa Agni sebagai purohita, maka para pendeta dalam memimpin upacara menyalakan api pengetahuannya (jnanagni) dan mewujudkan diri sebagai Siva Raditya.
  2. Perantara pemuja dengan Istadewata-nya. Api memiliki kekuatan bersumber dari Matahari untuk membakar bahan-bahan persembahan dan menyampaikan pesan bhakti para bhakta kepada dewa pujaannya. Asap api yang membumbung tinggi ke angkasa dengan bau harum menyan (lambang Siva), majagau (lambang Sada Siva), serta cendana (lambang Parama Siva), akan memberi efek menenangkan bagi para pemuja. Karena itu ritual dengan menggunakan persembahan ke dalam api suci (tanpa disadari) akan menjadi aromatheraphy bagi para pelakunya.
  3. Pengusir roh-roh jahat. Kehadiran Dewa Agni sebagai pengusir roh-roh jahat (di Bali) diwujudkan dalam upakara Bhuta Yajha dalam bentuk, api takep, api tatimpug, api prakpak, api tabunan, dan api linting. Api takep sebagai lambang pengendalian nafsu-nafsu kebinatangan, dipergunakan untuk melengkapi segehan. Api tetimpug dengan tiga kali ledakannya, dipergunakan untuk memanggil bhuta kala, mempersilahkannya menyantap lelabahan, dan akhirnya dipersilahkan pergi setelah di somya. Jika tidak pergi maka akan diusir paksa dengan api prakpak. Api tabunan dipergunakan untuk memutuskan ikatan roh seseorang dengan darah yang tercecer pada saat mengalami kecelakaan, disamping untuk mencegah perubahan darah tersebut menjadi roh-roh jahat. Berkaitan dengan fungsi Dewa Agni sebagai pengusir roh-roh jahat, Rgveda 1.12.5 menyebutkan; “grtahavana didivah prati sma risato daha agne tvamraksasvinah”. Artinya; O, Agni yang bercahaya kepadaMu disiapkan minyak suci menyala. Tumpaslah musuh-musuh kami yang dilindungi oleh kekuatan jahat. Berkaitan dengan pengusiran roh-roh jahat yang menguasai tri bhuwana, (di Bali) para pendeta pada saat memimpin ritual secara kolaboratif (menurut Lontar Eka Pratama), berbagi fungsi menjadi Sang Katrini Katon sebagai putra dari Brahma Aji, meliputi;
a.      Sang Siwa, bersenjatakan agni anglayang menyucikan angkasa (svahloka),
b.      Sang Bodha, dengan agni sinararasa menyucikan alam leluhur (bvahloka),
c.      Sang Rsi Pujangga, dengan agni sara menyucikan alam manusia (bhur loka).

 

  1.  Penyucian dan pemralina. Api memiliki kekuatan untuk menghilangkan kotoran jasmani. Api digunakan untuk melelehkan bijih besi (batuan) dan menghilangkanmkotoran yang ada di dalamnya. Karat besi juga hilang dengan cara membakar dan menempanya. Bahkan, bahan-bahan plastik-pun didaur ulang dengan menggunakan api. Fenomena ini menunjukkan, bahwa api mempunyai kemampuan untuk melunakkan, membersihkan dan bahkan memusnahkannya. Kekuatan penyucian dan pemralina yang dimiliki oleh api, sebabnya api digunakan sebagai media utama pada kremasi jenasah (ngaben), dan prosesi penyucian pengantin pada acara wiwaha samskara.
  2. Saksi dalam upacara. Selama ini dupa dan dipa dalam upacara digunakan sebagai upasaksi; dan saksi yang paling utama adalah api maha besar nan abadi yang ada di alam semesta (surya raditya). Atas dasar itu, setiap melakukan puja kramaning sembah selalu diawali dengan permohonan upasaksi kehadapan Sang Hyang Surya (Dewa Matahari). Mengingat pentingnya kehadiran Dewa Surya dalam upacara yajna, maka Beliau dibuatkan sanggar sementara yang disebut Sanggar Surya.
  3. Penerang lahir batin. Pada malam hari (ketika tidak ada sinar matahari) api-lah yang menjadi sumber cahaya. Api mampu menerangi dunia karena api memiliki kekuatan dan energi spiritual (dewa) yang menggerakkannya. Penerangan fisik (lahir/sekala) mendorong munculnya penerangan spirit (batin/niskala). Keyakinan terhadap veda juga terbangun lewat pemujaan kepada Dewa Agni. Dalam Rgveda X.151.1, disebutkan; “sraddhaya agnih samidhyate, sraddhaya huyate havih, sraddham bhagasya murdhani vacasa vedayamasi”. Artinya; upacara agnihotra dilandasi keyakinan, persembahan mentega dilandasi keyakinan, dan Tuhan-pun dipuja dengan keyakinan. Akhirnya dengan keyakinan kesejahteraan akan terwujud. Dalam fungsinya sebagai penerang batin, api sering disejajarkan dengan ilmu pengetahauan (veda) yang menjadi penerang (suluh) jiwa dalam menjalani kehidupan ini.
  4. Sumber energi. Dewa Agni dalam Rgveda, atau Dewa Brahma dalam Purana adalah manifestasi Tuhan pada saat menciptakan alam semesta beserta isinya. Agar mampu mencipta perlu mempunyai pengetahuan, sehingga kekuatan (shakti) Beliau dinamakan Dewi Saraswati (Sang Dewi Ilmu Pengetahuan). Beliau juga harus mempunyai pandangan yang luas sehingga dapat melihat ke segala penjuru (Catur Muka), dan mempunyai energi. Energi-lah yang menjadi prasyarat keberlangsungan proses di alam semesta ini. Khusus untuk kehidupan di Bumi, sumber energi yang paling utama adalah api dari Matahari.

Seluruh fungsi api seperti dipaparkan di atas, dipadukan pandangan kita dengan fungsi api dalam api suci homa atau agnihotra, akan kita bahas pada tulisan berikutnya. Karena banyaknya fungsi api maka upacara Aoma-pun dapat dilaksanakan untuk berbagai tujuan / keperluan.



 









oleh : Pandita Acharya Brahma Murti 

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok