Jumat, 27 Agustus 2021

Dewi Saraswati , Sumber Pengetahuan Weda


Reshi Acharya Giri Ramananda


Semoga Senantiasa Mengalirkan Parajnana

HARI  Saraswati di Bali berotasi secara fixs   setiap 210 hari sekali. Dengan perpaduan perhitungan panca wara, sapta wara dan pawukon  maka hitungan satu bulannya  diperoleh 35 hari dikali 6 bulan, maka sama dengan 210 hari. Hari penuh berkah itu , hadir 28 Agustus 2021. 

Karena itu  Hari Saraswati di Bali, tepatnya akan diperingati setiap Saniscara, Umanis, Watugunung. Hari Raya Saraswati  itu dikhususkan untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasi sebagai  ilmu Pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang tak bisa dibendung dan  terus mengalir , menyingkirkan kebodohan dengan berkah pencerahan itulah dinyasakan sebagi Saraswati. 

Saraswati merupakan sakti dari  Tuhan  trinitas Trimurti yakni, dalam manifestasi Brahma. Jika ditelusuri, keberadaan Dewi Saraswati itu, memiliki  historis sangat  suci dan penting. Dalam Pustaka Suci Weda, keberadaan Saraswati adalah sungai yang mengalir di gugusan Himalaya, melewati  lembah Bandrnat, Dewa Prayag, Risikesh, bahkan hingga Triweni di Allahabad, Utarpradesh, yang disebut merupakan sanggam/ campuan atau  pertemuan tiga Sungai, Gangga, Yamuna dan Saraswati. 

Walau saat ini secara fisik di Triweni , keberadaan aliran Saraswati  tidak ada, namun di dekat Badrinath ,Uttarkhand, India air sungai Saraswati masih mengelir, kendati sangat  kecil. Saraswati juga merupakan salah satu batas dari Brahmavarta, asal Bangsa Arya yang berwujud sungai. Selain itu , Saraswati dianggap sebagai dewi bahasa, dewiwak , Sang Dewi juga dipercaya sebagai penemu bahasa Sansekerta dan hurup Dewa Nagari, juga merupakan pelindung kesenian dan ilmu pengetahuan secara lebih holistik

Lalu bagaimana halnya Saraswati diapresiasi masyarakat Bali?. Di Bali khususnya, Hari Saraswati menjadi piodalan/ pujawali besar. Segenap masyarakat Hindu merayakan. Bertepatan dengan  Hari Saraswati, semua buku buku, lontar lontar  kuno, dibersihkan dan kemudian disembahyangi, pada pagi atau sore harinya 

Sedangkan pada malam harinya dilakukan dharma tula, rembug sastra, mekekawin, mewirama, untuk memuliakan turunnya para Jnana dan aparajnana yang disimbolkan sebagai pengetahuan  baik sekala maupun niskala. 

Di Bali, juga ada pakem niskala terkait  proses pembelajaran sastra itu, diyakini bisa lebih cepat transformasinya  terserap ilmu pengetahuan itu manakala juga dilakukan prosesi  pewintenan/ sakramen saraswati, lidah dirajah sehingga  saraswati mengenah, hidup, dan dipercaya dapat memberikan tuntunan secara benar baik sekala lan niskala. 

Terkait dengan Weda, wid memang sangat identik dengan ilmu pengetahuan. Ilmu Weda yang disebut anadhi / tak lahir dan ananta/ tak ada batas akhirnya. 

Dalam terminologi modern, terkait proses pembelajaran ada istilah long life education - kita wajib terus dan senantiasa belajar hingga akhir hayat— Weda itu yang merupakan jnana yang mengalir atau Saraswati itu, memang tidak ada awal dan tak ada ujung akhirnya. Maka boleh jadi atas alasan tersebut,  ilmu pengetahuan itu selalu  mengalir sepanjang masa selama hari Brahman ini. 

Yang  disebut  kitab suci umat Hindu adalah Catur Weda, empat pokok kitab yang dirangkum dari wahyu Tuhan secara apuruseya  yang diterima  oleh tujuh Maharsi Agung. 

Catur Weda itu adalah Rg Weda yang berisi 10.552 mantram, Yayur Weda dengan 1.975 mantram, Sama Weda dengan 1.875 mantram dan Atharwa Weda dengan 5.987 mantram. Bagaimana mungkin kita mempelajari ribuan mantram itu? Ada intisari-intisari yang diturunkan dari “kitab iduknya” ini. Mari kita baca dan kita resapi semampu yang bisa kita lakukan.

Nah bertepatan hari 28 Agustus 2021  yakni Saniscara Umanis  Watugunung, disebut sebagai Hari turunnya dewi ilmu pengetahuan itu. Dewi itu adalah Saraswati. Pada hari inilah dengan penuh kesadaran, semangat, motivasi,  kita mulai lebih tekun  mempelajari Weda, sebagai ilmu pengetahuan. Juga Kitab Suci Weda sebagai pegangan dalam mengamalkan agama untuk kehidupan di masyarakat. 

Sudah barang tentu  harus disesuaikan dengan kemampuan, bakat serta  minat, motivasi  kita. Intinya adalah hari ini kita memuja Dewi Saraswati dengan cara membaca , kontemplasi pada Weda. 

Para tetua kita di masa lalu menganjurkan sebelum membuka-buka Weda maka tubuh dan pikiran kita harus dibersihkan, disucikan lebih dahulu. Dari sini lahir apa yang disebut dengan sakramen suci, yakni  pewintenan Saraswati. 

Hanya  belakangan ini, pewintenan saraswati sebagai upaya sakramen suci  / membersihkan diri secara rohani itu yang lebih utama dibandingkan  kongkretnya kita membaca Weda. Membaca Weda, yang lumrah disebut parayana itu, idealnya  dilakukan setiap hari. 

Entah itu membaca  Sri Rudram- Namakam- Camakam, Purusha Suktam, Durga Suktam, Shivopasana Mantram, Ganesha Atharwashirsam, Narayana Upanisad, Surya Upanisad, Durga Suktam, dll

Ada anggapan di masyarakat   kita tidak diperbolehkan membaca di  Hari  suci Saraswati. Hal itu sepertinya ada 

mis interpretasi,  karenanya hanya  dilakukan sebatas pembersihan diri. Mestinya penyucian diri itu dilanjutkan dengan memohon anugerah yang lebih optimal dari Sang Aji Saraswati, dan setelahnya  kita suntuk , serius membaca Weda. 

Starts today, ayo kita baca Weda dan selain itu kita sucikan semua  kitab (buku pelajaran, buku sastra, buku agama, lontar dan sejenisnya) di Hari Saraswati dengan memberikan persembahan sesajen dan tirta , kemudian baru kita  baca dalam keadaan yang suci agar meresap. 

Waktu membaca Weda baik pada pagi hari atau malam  hari juga dauh / waktu sangat baik  membaca Weda dan apalagi ditambah  menyelenggarakan “malam sastra” sesuai lingkungan kita. Di pedesaan umumnya ada acara pesantian, makidung, mawirama

Sedangkan di Pura Jagatnatha Denpasar pun setiap malam Saraswati sudah jadi tradisi ada diskusi sastra. Demikian juga  di Jakarta, perayaan Saraswati disatukan dengan odalan di Pura Rawamangun dan biasanya ada malam sastra di sana.

Dewi Saraswati adalah "sakti" dari Dewa Brahma,sang pencipta. “Sakti” dalam bahasa yang populer di Bali sering disebutkan sebagai “istri”. Ini adalah nyasa  sakti  Dewa Brahma. Eksistensi Dewa Brahma  yang merupakan dewa pencipta, itu pada dasarnya terjadi karena adanya ilmu pengetahuan. 

Karena itu, segenap  umat dianjurkan  menuntut ilmu semaksimal mungkin, yang diturunkan oleh Dewi Saraswati agar bisa menciptakan karya  kreatif , inovatif dalam wujud  apa pun yang bermanfaat bagi semua mahluk hidup. 

Dewi Saraswati , disimbolakan memiliki lengan  empat. Ada yang memegang kecapi, ada yang memegang aksamala atau genitri. Sebutan genitri ini salah kaprah karena kebanyakan terbuat dari buah genitri padahal buah lain atau butir-butir logam juga bisa dipakai. 

Kemudian satu tangan Saraswati memegang damaru atau semacam kendang di Bali, dan tangan satu lagi memegang buku. Ada merak dan angsa di sampingnya. Semua itu simbol-simbol tentang ilmu yang tak habis-habisnya dipelajari dengan cara mencintainya. Ilmu yang akan memperindah budi, budi menyucikan jiwa, ketika jiwa tersublimasi optimal maka Atma saksatkara / kesadaran Atma terealisasi. 

Kenapa ada angsa? Angsa adalah hewan yang sangat bijaksana. Hamas, dengan pedang wiwekanya, mampu membedakan yang buruk- baik, satya asatya, merthyu amritam, tamas jyotir, dan aspek dwa dwan yang merupakan oposisi binnar. Angsa bisa mencari makanan di lumpur, tetapi tak pernah ada lumpur yang masuk ke tubuhnya. Makanan itu disaring, lumpurnya dibuang, makanan masuk ke perut untuk sumber kehidupan.

 Begitulah sebaiknya ilmu itu diamalkan. Ilmu yang membuat kerusuhan, konflik, ketegangan, sudah seharuslah dibuang, ilmu yang membuat kesejahtraan, kedamaian, cinta kasih, sat cit ananda  yang terus dipelihara. 

Hanya orang yang berilmu yang bisa merakit bom, tak mungkin petani yang bodoh bisa merakit bom. Tetapi apa gunanya bom jika itu dipakai untuk membunuh orang-orang yang tak berdosa?

Di Bali, Dewi Saraswati dipuja dengan sesajen khusus, tapi sudah banyak dijual di pasar-pasar. Harganya pun tak sampai Rp 20 ribu. Lihatlah di sesajen itu, ada ciri khasnya, yakni ada jajan melambangkan cecak. 

Kenapa cecak? Ini adalah simbul keheningan. Suara cecak sering terdengar dalam keadaan yang hening. Tetua kita sering mengingatkan, jika kita dalam keadaan semadi atau sembahyang sendiri, dan ada suara cecak maka itu pertanda baik.

Mari kita membaca Weda hari ini, apakah itu Sruti, Smerti, Ithiasa, Purana termasuk lontar lontar Bali dan kadyatmiakan Bali,  atau tafsir-tafsir yang sudah dibuatkan dalam bentuk kekawin dan tembang alit. 

Om Saraswati namastu bhayam, warade kama rupini, sidharambhan kari syami, siddhir bhawantu me sada. Om Saraswati ya namah swaha.  

Namaste shaarada devi kaashmir pura vaasini twaamaham praarthaye nityam vidyam daanam cha dehi me 

Om Aim Saraswati namah 

Om Aim bad vad vaagvaadini svaha 

Om hreem Saraswatyai namah 

Om aim vaagdevyai cha vidhmahe 

Kamrajaayaa dhimahi 

Tanno dewi prachodayaat 

Om prathamaan bharati naam dwityam cha Saraswati trutiyam shaarada devi , chaturtham Hansavaahini. Panchamam Jagati khyataa , shashtam Vageseshwari  tatha, Saptamam Kumudi proktaa, Ashtamam Bhrahmachaarine , navamam Buddhidarti cha, dashamam Varadaayini ekadasham Chandrakaanti, dwardasham Bhuvaneshwari, dwadashaitani naamaanu trisandhyam yah pathenaraha jivahgre vasate nityam Bhramarupa Saraswati.


 Reshi Acharya Giri Ramanandaeshi Acharya Giri Ramanda


Rabu, 21 April 2021

Galungan- Kuningan Sebagai “Pemujaan dan Anugerah Durga Shiva”


 
Kompilasi oleh  Giriramananda Acharyareshi

HARI Galungan , merupakan pujawali sangat penting dan sakral bagi umat Hindu Bali - Nusantara. Hari suci itu berulang setiap enam bulan Bali atau setiap 210 hari. Hari H Galungan itu merupakan pertemuan antara , sapta wara , panca wara dan pawukon, Budha, Kliwon Wuku Dungulan. Kata Galungan berasal dari Bahasa Jawa Kuno , yang artinya bertarung atau menang. Galungan juga berasal dari Dungulan juga artinya menang. Mengacu pada Lontar Purana Bali Dwipa, Galungan itu pertama kali dirayakan pada Purnama Kapat , Budha, Kliwon Dungulan tanggal 15 dan tahun saka 804 atau Tahun Masehi 882. Galungan dipersepsikan sebagai “kemenangan” Dharma mengatasi Adharma. Nah 10 hari setelah Galungan disebut Hari Kuningan. Hari ini dirayakan bertepatan Saniscara Kliwon wuku Kuningan. Masyarakat Bali saat Kuningan itu tidak saja mamitang / mengembalikan leluhur karena telah berkenan 10 hari dekat bersama kita dalam perayaan kemenangan Dharma, kebajikan atas kebatilan. Prosesi pengembalian leluhur dan juga Ibu Durga atau Yoni, yang dilaksanakan pada tengah hari. Hal itu ditandai menghaturkan Tebog. Nah .. Tebog itu merupakan nyasa atau simbol yoni itu sendiri. Di pertengan Galungan - Kuningan, ada lagi hari spesial yang disebut pemacekan. Hari pemacekan ini diyakini menguatkan sradha bhakti umat setelah dapat anugerah Ibu Durga yang membantu mengatasi intervensi Sang Kala Tiga. Karena itu, saat Galungan umat di Bali mempersembahkan Canigaan, asal katanya Chandika salah satu perwujudan Durga. Kehadiran Ibu Durga, memperkuat energi divinity / kesucian. Nah ketika umat mengakses energi itu melalui pemujaan maka dipercaya dapat berkah kekuatan untuk mengatasi intervensi Sang Kala Tiga itu yakni Sang Bhuta Galungan yang hadir saat Penyekeban, Sang Bhuta Dungulan saat penyajahan dan Sang Bhuta Amangkurat,saat penampahan sehari sebelum Galungan. Dalam konsep dwaita, Ibu Alam Semesta, Durga juga tiada lain Yoni itu sendiri. Karena itu bersamaan memulangkan para leluhur saat Kuningan itu, juga secara niskala memohon agar Ibu Durga menyatu kembali menjadi saktinya Shiva yang dipersepsikan eksistensi yang lebih luhur yakni Ardhenareswara atau Yoni - Lingga. Selain hari Shivaratri, maka tidak salah jika Hari Kuningan itu diyakini sebagai hari terbaik melakukan pemujaan kepada Shiwa, atau kepada Shivalinggam sendiri. Sebagai akhir pemujaan ada ritual mempersembahkan endong. Endong itu sejatinya merupakan simbol perbekalan pertapaan. Maksudnya agar Shiwa pergi bertapa ngider bhuana menjadi sanyasin untuk kerahayuang jagat raya ini. Mantra nya Om Namah Shiwa Ya Tapeswara ya Yogeswara ya Mahadewa ya Nilakantha ya
Sangat perlu substansi Galungan - Kuningan, dimaknai menuju Paramartha kesadaran penyatuan Durga Shiva dan juga Yoni - Lingga, agar tercapainya kebijaksanaan yang sejati dengan kesadaran murni, suci dan luhur. 
Mayadenawa Vs Dewa Indra 
Cerita di Bali dahulu kala sempat berkuasa Raja lalim dan juga kejam. Raja itu bernama Maya Denawa. Sayangnya Raja yang menerima anugerah Bethara Shiva itu tidak menjalankan swadharma sebagai raja yang baik. Kisah Mayadenawa itu, dimuat di lontar khusus namanya “Lontar Mayadanawantaka” Ceritanya, pada zaman purba, hiduplah Bhagawan Daksa Prajapati. Beliau mempunyai anak putri yang bernama Dewi Danu. Putrinya itu menikah dengan Bhagawan Kasyapa. Perkawinan Putri Danu dan Kasyapa itu, melahirkan putra tunggal bernama Mayadenawa. Mayadenawa ini berhasrat menguasai dunia. Karena demikian tinggi cita citanya, ia pun kemudian pergi bertapa ke Gunung suci. Tujuannya agar mendapat berkah Shiva Mahadewa. Tapasya yang keras dari Mayadenawa membuat Shiva berkenan. Selanjutnya, menganugerahkan kesaktian sekaligus daerah kekuasaan kepada Mayadenawa. Jadilah, daerah Makasar, Sumbawa, Bugis, Sasak, Blambangan dan Bali daerah teritorialnya. Setelah Mayadenawa berkuasa, mulailah bala tentara daityanya mengatur pemerintahan kerajaan itu. Dengan anugerah kekuasaan yang tiada batas itu, dia akhirnya mabuk kekuasaan. Rakyat Bali dilarang ke Besakih dan memuja Hyang Widhi, Justru rakyat diminta harus memuja dirinya. Karena dialah Dewa yang patut disembah. Mayadenawa sendiri bukan saja mencela dewa dewa, juga rakyat Bali tidak diperkenankan menghaturkan sesajen untuk para dewa, kahyangan juga dirusaknya. Dalam keadaan demikian Sang Hyang Pashupati pergi ke sorga meminta bantuan Dewa Indra. Raja Paradewa itu setuju. Akhirnya, persenjataan dan tentara kuat dipersiapkan untuk membinasakan Raja lalim Mayadenawa. Dewa Indra dibantu dua panglima utama Citrasena dan Citragadha yang menyerang dari sayap kanan Puri Mayadenawa yang mendirikan bentengnya di Bedahulu. Serangan dari sektor induk dari tengah tengah dipimpin langsung Dewa Indra sendiri dibantu para Gendarwa. Untuk menyelidiki suasana Puri Mayadenawa itu diutus Bhagawan Naradha. Walau dilakukan diam diam oleh para dewa, namun serangan itu sudah diketahui Mayadewa yang memang memiliki kesaktian mandraguna, setelah Para Dewa, siap siap, justru si Gelabong yang merupakan Patih Mayadenawa itu menyerang lebih dulu pasukan Dewa dewa. Terjadilah pertempuran sangat sengit dan dashyat. Ternyata tentara para dewa lebih unggul dalam peperangan antara sura dan asura itu. Namun dengan kesaktiannya, Mayadewa mesalin rupa/ berubah wujud , kadang menjadi buah nangka, widyadara, daun kelapa bahkan ayam jantan yang besar. Pernah menjadi sebuah Desa yang luas. Seperti Desa Manukaya dan Sawubhatu. Karena bala tentaranya banyak mati, pada suatu malam dia melakukan geranasika, barang siapa meminum air atau mandi maka akan jadi sakit bahkan menemui ajalnya. Banyak dewa yang meminum air dan mandi air beracun itu akhirnya memang mangkat. Dalam kesedihan yang mendalam Dewa Indra minta bala bantuan Bhagawan Naradha, Rishi rishi Shiwa, dan Sogata termasuk Bhujangga membacakan Weda Weda untuk menatralisir pengaruh racun dari Mayadenawa. Namun tetap gagal, akhirnya Mahadewa memberikan anugerah kepada Dewa Indra untuk menciptakan mata air suci yang kemudian disebut Tirta Mpul untuk menghidupkan para dewa dewa yang mangkat itu. Setelah itu pengejaran kepada Mayadenawa yang lari bersama patihnya Kelabong terus dilakukan . Namun Mayadenawa bersama patihnya terus bisa menghindar, saat sudah kepepet Mayadenawa mampu berubah ubah wujud menjadi ayam jago, padi dan terakhir menjadi batu besar. Kemudian bethara Indra yang sudah tahu siasat Mayadenawa itu, memanah batu besar itu dengan vajra, setelah itu hancurlah Mayadenawa termasuk patihnya Kelabong itu. Dari batu itu keluarlah darah yang kemudian darah itu mengalir menjadi sungai Petanu. Karena merupakan air dari darah Mayadenawa, rakyat kemudian masih menghubungkan dengan racun dan air yang tidak punya berkah. Atas alasan itu air sungai Petanu itu juga tidak digunakan mengairi sawah, termasuk mandi apalagi diminum. Sedangkan, Mata air suci Tirtampul yang menghidupkan para dewa itu dengan cara para dewa itu disirami - dilukat . Sejak itu Tirtampul dipandang sebagai kelebutan mata air suci masyarakat Bali. Air itu kemudian mengalir menjadi sungai Pakerisan. 
Cerita itu mendasari Galungan. Ada suatu pertempuran ekternal pihak Darma melawan Adharma. Kelompok Sura melawan Asura. 
Perang Dalam Diri ... 
Perang memang selalu ada setiap moment. Tidak hanya perang eksternal yang selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari “perang dalam diri” itu. Perang menghadapi Dasendria, melawan Sadripu, perang melawan kehidupan zaman now. Akan halnya moment Galungan, diwarnai tekanan Sang Kala Tiga, yakni Sang Bhuta Galungan yang hadir pada saat hari Minggu saat Penyekeban. Keesokan harinya saat Penyajahan muncul Sang Bhuta Dungulan. Berturut turut tiga hari dan saat Penampahan adalah Sang Bhuta Amangkurat. Namun saat itu juga ada Saktinya Shiva, Ibu Durga. Pastinya Ibu Durga memberikan efek meningkatkan atmosfer vibrasi yang jauh lebih tinggi. Sehingga sangat kuat terjadi resistensi ekternal saat itu. Jika tahu dan mampu mengakses Ibu Durga, maka anugerah kekuatan lah yang diperoleh dari saktinya Shiva yang penuh cinta kasih dan juga dipuja kaum pengiwa itu. Karena itu, warga bisa lebih tenang malah dapat anugerah menetralisir pengaruh Kala tiga dengan memuja Durga dan beryoga - lumrahnya disebut tapa, brata, yoga dyana - semadhi. Namun hanya kalangan tertentu , dan bisa dihitung dengan jari yang bershadana strike seperti itu. Kaum awan dengan rasa bhaktinya, mempersembahkan upakara sampian Candigaan, untuk memuja Durga agar situasinya netral. Candigaan itu berasal dari kata Chandika, nama lain dari Durga Sendiri. Selain memuja Ibu Durga . Dengan ngamet kekuatan Durga memperoleh energi menentramkan Sang Kala Tiga. Dengan mantra sederhana : om Sarwa mangala manggale shiva sarvatra shadike sharangga tryambakangauri narayani namostute. Om jayanti manggala kali kapaline durga ksmashivadatri svaha svada namostute . Bisa juga mantra lainnya Om Catur Dewa Maha Sakti , Catur Ashrama Bhatari, Shiva Jagatpathi Dewi , Durga Sarira Dewi. 
Seperti itu lah antara lain shadana ideal dilakukan untuk mendapatkan anugerah saat Galungan itu. 
Berkah Bhatin Suci Galungan ....
Menurut Lontar Jaya Kasunu, Hyang Widhi selain menguji melalui manifestasi Sang Kali Tiga. Namun pastinya pemujaan saat Galungan itu mendapatkan berkah Durga: Kekuatan Sradha dan juga Kesucian Bhatin. Nah untuk menghilangkan kekuatan / pengaruh buruk itu harus dengan komitmen ekstra keras melakukan tapa brata yoga dyana -samadhi masing masing. Lumrahnya di Bali mengekplorasi ajaran Shiva yang disebut Shiva Shidanta. Durga - Shiva - Yoni dan Shivalingga. Dalam skema pusat centre of universe di posisi nadir dan zenith secara vertikal Tri Purusha - Shiva, Sadhashiva dan Paramashiva yang bersifat nirguna. Dalam Padma Asta Dala posisi cetrumnya di tengah akasanya merupakan Sadhashiva dengan senjata Padma. Sedangka di Timur adalah Sa saktinya Uma senjata Vajra, Selatan Ba , Saraswati , Gada/ Angkus. Di Barat Ta adalah Mahadewa saktinya Satidewi dengan senjata Nagapasha, di utara Wisnu , A saksi Sri senjata Cakra. Lima aksara Sa Ba Ta A I disebut Pancabrahma. Sedangkan Na Ma Si Va Ya adalan Pancaaksara, yakni Na di Tenggara / Maheswara/ Laksmi/ Dupa, sedangkan Barat Daya Ma Rudra / Chamundi / Moshala, Barat Laut / Si Sangkara, Raudri adalah Angkus. Timur laut Va Shambu , Mahadewi dengan senjata Trisula. Demikian salah satu design shadana dalam ngamet kesucian bhatin saat Galungan, dengan cara ngerangsukan mentransformasikan Dasaksara yang terdiri Pancabrahma dengan Pancaaksara dan satu lagi Sadhashiva untuk melengkapi menjadi Eka Dasa Rudra. 
Ganapathi Tatwa ....
Prosesi Galungan - Kuningan itu bisa juga menggunakan referensi Lontar Kadayatmikan Ganapathi Tatwa. Pada Lontar Ini Shiva Iswara mengupas Jnanaagni kepada putra kedunya Hyang Ganapathi. Sesuai lontar ini skema makrokosmosnya adalah Sadhashiva di tengah, Ishwara di timur, Brahma di selatan, namun di Barat adalah Rudra dan di utara Wisnu. Hanya di Barat berbeda dalam Padma Asta Dala di barat adalah Mahadewa. Dalam Ganapathi Tatwa juga selain diuraikan mekanisme ciptaan juga dibedah dewa dewa di dalam tubuh manawa. Brahma di posisi Muladara dengan omkara sebagai tenaga wayunya. Wisnu berada di pusat nabi atau pusar hingga berhubungan dengan lidah. Rudra di hati, Ishwara di tenggorokan dan Sadashiva di ujung lidah yang dipercaya menguasai segala pengetahuan. Muladhara itu berada di antara dubur dan lubang kelamin. Berwarna aruna kemerahan , segi empat ada di dalam bunga seroja itu ada mutiara ada seperti tatit . Nah di dalam mutiara seperti tatit itu lah Omkara. Omkara itulah sumbernya tenaga wayu / prana terus sampai ke atas shivadwara. Itulah poros kundalini . Kemudian siwadwara terus turun ke hidung, ujung lidah, kerongkonga dan kemudian terpisah di hati. 12 jari di atas Muladara adalah pusar/ nabi di tengah matahari yang baru terbit itulah “Amertha” tempat penggantungan usus dan dubur. Di atas pusat nadhi 8 jari itulah Hati terselubung seperti api. Di dalamnya ada sinar Matahari. Sejauh 12 jari di atas Hati adalah Kerongkongan ada teratai putih seperti intan. Sedangkan berjarak 12 jari adalah ujung lidah di dalamnya ada mutiara suci di tengahnya sorga niskala. Munculnya perpaduan itu berdasarkan hal Gaib Rupa Suksma. Jiwa Atma itu berada di sperma maskulin / cukla yang keluar dari tubuh wanita yang dilahirkan dari Omkara. Jenis cukla wanita bersifat - laki laki wanita - masculin feminim diselubungi Omkara hingga menjadi Suksma rupa yang juga disebabkan om kara itu. Kemudian setelah sebulan jadi mpehan, getih, tiga bulan telur butiran. Empat bulan telur itu menjadi Shivalingga berlubang yang ditengahnya berisi omkara dan suksma rupa. Shivalingga dalam lima bulan menjadi mayareka. Enam bulan mayareka menjadi Agni, dalam delapan bulan muncul Uswasa juga berasal dari Omkara. 
Shivalingga .. 
Shivalingga , Shiva disebut omkara, Lingga dimaksud Sukla sperma maskulin - feminim , sama sama lekat berkaitan dengan Shiva dan Lingga. Setelah tiba 10 bulan Sunya lahirlah Nirmana hilangkah Nirmana muncul jiwa kemudian Atma. Hilang Atma kembali ke Jiwa, hilang Jiwa kembali ke Nirwana ke Sunya, Sunya Rupa kemudian Sang Hyang Ngamut Mega kemudian kembali ke intisari kegaiban Niskala. Yang dimaksud puncaknya Angkasa adalah Lingga Nada yang berhubungan tunggal , gaib rahasia berkoneksi dengan Purusha. Disinilah sejatinya intisari pemujaan Kuningan, yang merupakan pemujaan untuk mengkonstruksi penyatuaan Atma Paratma, Durga Shiva atau bisa juga Yoni dan Shivalinggam. 
Apabila tiba saatnya kematian akan muncul di nabi bagaikan asap yang disebut Sang Hyang Shivatma. Kemudian asap itu pindah dari Shivamandala, Shivaloka atau Alam Shiva. Alam Shiva itu berbahagia alias anandam tanpa kembali sengsara. Itulah yang dimaksud Shivamandala dan ada lagi disebut Sang Hyang Pancaatma yakni Atma, Paramatma, Antaratma, Niratma dan Sunyatma itu semua bertunggalan dengan Sang Hyang Shivatma. Sang Hyang Shivatma, membuka hubungan ke ubun ubun ke Dwasangula. Jika shadana dilakukan di atas atas inspirasi substansi Galungan dan Kuningan dilakukan dengan kesadaran atma , omkara , shivalingga dengan intensif, sistematis, terstruktur didasari totalitas murni, maka hakekat keparamarthaan pasti tercapai. 
Demikian catatan ringan dari berbagai sumber Giriramananda. Klungkung Semarapura, Kirang langkung nunas Ampure. Om Tat Sat Asthu Om Kham Brah Esa Paramashivastah 

Sumber : Facebook Giriramananda Acharyareshi



Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok